Langsung ke konten utama

Teruntuk yang Tercinta Kelak

Siapapun kamu kelak, kamulah yang Dia pilihkan untukku dan aku akan berbahagia menerimamu. Berterima kasih karena kamulah yang menyempurnakan separuh agamaku. Berkomitmen berjuang bersama denganmu di jalan-Nya, itulah yang kuinginkan.

Namun, kau tidak harus datang cepat. Tidak apa-apa, pelan-pelan saja. Mari kita sama-sama berbuat yang membawa maslahat bagi banyak orang, agar kelak saat kita bertemu, komitmen kita semakin kuat.

Siapapun kamu kelak, kamulah imam dari keluarga kecil kita. Ayah dari anak-anak kita kelak. Kamulah yang membawa kapal kita menuju kebahagiaan hakiki di lautan-Nya dan aku navigatornya. Bersama-sama kita arungi luas samudera-Nya, berpetualang bebas tanpa batas, merajut cerita dan cinta di atas cinta-Nya.

Namun, kau tidak harus mendatangiku sekarang. Tidak apa-apa, kita jalani saja apa yang ada dulu. Bahagiakan orangtua kita, menginspirasi sekitar kita, dan berkelana melihat benua luas. Supaya kelak ada banyak kisah indah yang bisa diceritakan dalam perjalanan kita.

Siapapun kamu kelak, kamulah cinta pertama anak-anak perempuan kita dan pahlawan anak-anak laki-laki kita. Kamulah yang akan berpikir paling keras untuk kebahagiaan di kapal kecil kita. Aku, sang navigator, akan selalu mendampingimu agar tidak salah arah, itulah tugasku.

Namun, kau tidak harus memintaku dari Papa sekarang. Tidak apa-apa, mari kita belajar dulu lebih banyak tentang kehidupan. Kapal kita akan bertemu dengan kapal-kapal lainnya di lautan, kita harus belajar lebih banyak agar mereka merasa nyaman dengan keberadaan kapal kita.

...

Untukmu, laki-laki yang kelak akan kucintai dan kubanggakan,

Semoga pertemuan kita akan seindah fairytale yang kurajut dalam angan-angan. Pada akhirnya, sang putri di tengah kesibukannya bertemu dengan pangeran idamannya. Mereka menikah, merajut kisah dan komitmen, berjuang bersama, dan meraih bahagia hakiki mereka di Jannah-Nya.



Lots of love,
Your future wife

Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...