Langsung ke konten utama

Overthinking

Kadang aku berlebihan juga, ya? Aku mengabaikan rasa bahagiaku untuk orang lain yang...well, belum tentu nanti akan merasakan kebahagiaan yang sama. Teman hanya teman. 

Malam ini, setelah sekian lama off sosmed, Farrel akhirnya on lagi. Aku senang sekali waktu lihat BBM-nya kembali aktif. Well, aku ada banyak cerita untuk diceritakan. Mimpiku yang terwujud di SBMPTN, ceritaku tadi pagi, pokoknya banyak sekali hal. Aku juga ingin memintanya mengajariku ilmu membaca pikiran manusia, well, karena dia memilih jurusan psikologi. 

'How is your SBMPTN result?' tanyaku.
'No good,'

Aku tahu maksudnya. Dia sudah biasa bicara singkat, tetapi ada maksudnya. Dia nggak lulus, kurasa itu maksudnya. Mood-ku yang cerah seketika berubah. Mana mungkin aku bersenang-senang menyampaikan kabar aku lulus dan meraih mimpi pertamaku saat dia nggak lulus? 

'Okay then, I will cancel my news,' tulisku.
'Hee...it must be good. Lucky,'
'Yeah, that's why I won't tell it,'

Ada alasannya mengapa aku memilih tidak menyampaikan tersirat bahwa aku lulus. Pertanyaan ask.fm itu terus menggangguku. Ceritanya, aku meladeni setiap orang yang bertanya padaku di ask.fm gimana hasil SBMPTN-ku, bagaimana kehidupan kampus nanti, mana kampus yang bagus, dan lain sebagainya, tetapi aku tak tahu ada yang merasa tak nyaman. Ada yang belum lulus SBMPTN bilang padaku lewat pertanyaan di ask.fm bahwa aku terlalu larut euforia dalam kelulusan SBMPTN dengan melulu cerita tentang kampus, padahal ada yang nggak lulus. Astaga, batinku. Kalau bukan karena pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan tentang kelulusanku, kampus, dan lain sebagainya, aku tidak akan omongin kampus melulu. Aku ngomongin kampus karena ada yang bertanya. Aku bukan tipe orang yang bisa cuek gitu aja kalau ada orang yang tanya. Jahat menurutku.

Yah, tapi Farrel benar. Aku berhak bahagia karena baru saja aku meraih mimpiku. Aku benar-benar overthinking masalah pertanyaan di ask.fm itu. Apa yang harus kulakukan sekarang adalah merasa bangga bahwa dari sekian juta pelajar Indonesia yang mendaftar SBMPTN, aku salah satu yang terpilih. 'I'm happy for your result,' tulisnya.

Well, Rel. Entah kenapa aku berharap kita satu kampus lagi. Kurasa akan menyenangkan ada satu orang sepertimu di kampus, my bestie.

'Nice to talk to you again, greet your fam for me. Later! It was awesome,' tulisnya.

Yeah, it was very awesome. Konyol sekali aku sampai menghitung hari agar bisa mengobrol dengan Farrel lagi. D-24, D-12, D-3, begitu seterusnya. Saat mengobrol dengannya, aku bisa tertawa sendiri atau berpikir, kombinasi kedua hal itu. Klasik, tetapi selalu menyenangkan buatku yang tipe-tipenya kadang santai kadang serius.

Terima kasih, berkatmu aku jadi bisa tidur nyenyak malam ini. Aku lelah dihantui pertanyaan di ask.fm itu.





Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...