Kadang aku berlebihan juga, ya? Aku mengabaikan rasa bahagiaku untuk orang lain yang...well, belum tentu nanti akan merasakan kebahagiaan yang sama. Teman hanya teman.
Malam ini, setelah sekian lama off sosmed, Farrel akhirnya on lagi. Aku senang sekali waktu lihat BBM-nya kembali aktif. Well, aku ada banyak cerita untuk diceritakan. Mimpiku yang terwujud di SBMPTN, ceritaku tadi pagi, pokoknya banyak sekali hal. Aku juga ingin memintanya mengajariku ilmu membaca pikiran manusia, well, karena dia memilih jurusan psikologi.
'How is your SBMPTN result?' tanyaku.
'No good,'
Aku tahu maksudnya. Dia sudah biasa bicara singkat, tetapi ada maksudnya. Dia nggak lulus, kurasa itu maksudnya. Mood-ku yang cerah seketika berubah. Mana mungkin aku bersenang-senang menyampaikan kabar aku lulus dan meraih mimpi pertamaku saat dia nggak lulus?
'Okay then, I will cancel my news,' tulisku.
'Hee...it must be good. Lucky,'
'Yeah, that's why I won't tell it,'
Ada alasannya mengapa aku memilih tidak menyampaikan tersirat bahwa aku lulus. Pertanyaan ask.fm itu terus menggangguku. Ceritanya, aku meladeni setiap orang yang bertanya padaku di ask.fm gimana hasil SBMPTN-ku, bagaimana kehidupan kampus nanti, mana kampus yang bagus, dan lain sebagainya, tetapi aku tak tahu ada yang merasa tak nyaman. Ada yang belum lulus SBMPTN bilang padaku lewat pertanyaan di ask.fm bahwa aku terlalu larut euforia dalam kelulusan SBMPTN dengan melulu cerita tentang kampus, padahal ada yang nggak lulus. Astaga, batinku. Kalau bukan karena pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan tentang kelulusanku, kampus, dan lain sebagainya, aku tidak akan omongin kampus melulu. Aku ngomongin kampus karena ada yang bertanya. Aku bukan tipe orang yang bisa cuek gitu aja kalau ada orang yang tanya. Jahat menurutku.
Yah, tapi Farrel benar. Aku berhak bahagia karena baru saja aku meraih mimpiku. Aku benar-benar overthinking masalah pertanyaan di ask.fm itu. Apa yang harus kulakukan sekarang adalah merasa bangga bahwa dari sekian juta pelajar Indonesia yang mendaftar SBMPTN, aku salah satu yang terpilih. 'I'm happy for your result,' tulisnya.
Well, Rel. Entah kenapa aku berharap kita satu kampus lagi. Kurasa akan menyenangkan ada satu orang sepertimu di kampus, my bestie.
'Nice to talk to you again, greet your fam for me. Later! It was awesome,' tulisnya.
Yeah, it was very awesome. Konyol sekali aku sampai menghitung hari agar bisa mengobrol dengan Farrel lagi. D-24, D-12, D-3, begitu seterusnya. Saat mengobrol dengannya, aku bisa tertawa sendiri atau berpikir, kombinasi kedua hal itu. Klasik, tetapi selalu menyenangkan buatku yang tipe-tipenya kadang santai kadang serius.
Terima kasih, berkatmu aku jadi bisa tidur nyenyak malam ini. Aku lelah dihantui pertanyaan di ask.fm itu.
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar