Langsung ke konten utama

My Ramadhan 2: Catatan Akhir Ramadhan

Ramadhan tahun ini akan selalu kukenang sebagai yang terbaik. Bukan karena hidangan ifthar dan sahurnya, itu sisi istimewa yang mungkin sudah biasa bagiku. The best thing about Ramadhan this year is bagaimana bulan istimewa ini dapat mengubah semua orang, tak terkecuali aku.

Masalahku dengan Mr. Dimas selesai dengan damai. Kami sudah seperti biasa, walaupun heran tiap kali aku chat di WA sama beliau, rasanya bukan seperti guru-murid. Habis, kan statusku sebagai muridnya Mr. Dimas hanya de facto, secara pengakuan saja. Secara de jure aku bukan murid beliau lagi, kan sudah resmi lulus dari ABBS. Hmm...malahan yang ada aku dikasih oleh-oleh lagi. Oleh-olehnya unik dan menginspirasi. 

Tebak apa deh. Buku? Tulisan?

Nggak sih, hanya benda yang dari kecil kuanggap keren karena nggak biasa. Itu lho, kapal yang ada di dalam botol. Beliau membelikanku waktu lagi ke Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Filosofis sekali, kapal kan selalu menjelajah. Semoga kelak aku menjadi diplomat yang menjelajah seluruh dunia, iya kan, Sir? Aku udah lihat gimana bentuknya, Mr. Dimas memotretnya dan mengirimkannya lewat WA. Jadi nggak sabar. Abis, baru bisa diambil saat aku ke sekolah. 

Mari menjelajah! Kapal kan jadi alat transportasi para penemu benua jaman dahulu, kan?

Ramadhan juga mengubahku sendiri menjadi lebih terbuka. Aku mulai melihat realita, lebih sabar menghadapinya, dan, tentu saja, berpikir semakin jauh mengapa dunia saling membenci. Bayangkan saja, awal dan akhir Ramadhan Bagdad terus digempur bom, Bangladesh juga baru diserang ISIS, begitu juga Istanbul, Turki. Kasarnya kalau aku bilang, mereka punya otak nggak sih? Mereka nggak ngerti fiqih perang, bikin peperangan. Mereka nggak ngerti fiqih pemerintahan, mau mendirikan kekhilafahan. Mana sudi aku memba'iat pemimpin seperti mereka. Ogah banget.

Apa yang paling ajaib dari Ramadhan kurasakan ketika akhirnya aku dan Rifai kembali keep in touch, saling menghubungi. Ketika pengumuman SBMPTN-ku udah keluar, aku sengaja nggak menghubungi dia karena saat itu dia sedang di Papua, sinyalnya pasti limited. Tahu-tahu di akhir Ramadhan dia menghubungiku dan mengucapkan selamat.

"Aku baru aja buka Facebook, tahu! Kamu keterima di HI Undip, kan? Congratulations, my bestie!!" serunya dari telepon WA.

"How sweet you are. Thanks, bestie!" jawabku riang.

Rifai berubah drastis. Dari yang dulunya modelling sana sini, foto sama cewek sana sini, jadi sosok yang lebih alim, tapi tetap gaul di mataku. Persis Yusuf Habibi dulu. Mereka dulu emang akrab, kadang berantem, tapi aku senang melihat mereka getting along together. Melihatnya sekarang, entah kenapa ada sensasi kelegaan sendiri. Anak itu benar-benar berubah, entah kesambet apa. Eh, harusnya nggak kesambet sih, dia dapat hidayah.

Ah, Yusuf. Semua sudah selesai sekarang. Rifai sudah berubah, beban kita sudah nggak ada kan? 

Malam ini, dia ngirimin aku link dari Binus gitu, nggak tahu maksudnya apaan. Aku sedang malas ngetik juga, jadi aku gantian meneleponnya. 

"Itu link apaan, sih?" tanyaku.

"Oh, itu lomba speech sama newscaster," jawabnya. "Aku mau ikutan. Aku ngerasa dua tahun ini kayaknya aku udah ngelakuin banyak hal yang nggak berguna, kayak modelling. Aku pingin ikut lomba lagi. Paling nyobain newscaster,"

"Kesambet apaan kamu," Aku tertawa. "Nggak apa-apa, bagus deh. Aku dukung seratus persen,"

Aku nggak tahu bagaimana Ramadhan tahun ini mengubah Rifai, tapi apapun itu, hidayah yang datang padanya pasti indah sekali. Ada banyak cara ya hati bisa berubah. Sekarang tugasku...hm, kurasa aku hanya akan mengarahkannya aja. Dia sudah kembali, apa yang bisa kulakukan adalah mendukung segala hal positif yang dia lakukan.

Aku bersyukur sekali. Aku tidak jadi menyerah pada Rifai. Kalau tidak...mungkin malam ini aku nggak akan teleponan dengannya sambil cekikikan.

Cepetan pulang ke Balikpapan, gih! Ada banyak hal yang harus kukatakan padamu di tempat yang lebih banyak sinyalnya.





Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani 




*kalau aja kamu kayak gini waktu aku masih di ABBS, kayaknya aku bakalan berbusa-busa cerita sama Mr. Izz, Rifai. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...