Ramadhan tahun ini akan selalu kukenang sebagai yang terbaik. Bukan karena hidangan ifthar dan sahurnya, itu sisi istimewa yang mungkin sudah biasa bagiku. The best thing about Ramadhan this year is bagaimana bulan istimewa ini dapat mengubah semua orang, tak terkecuali aku.
Masalahku dengan Mr. Dimas selesai dengan damai. Kami sudah seperti biasa, walaupun heran tiap kali aku chat di WA sama beliau, rasanya bukan seperti guru-murid. Habis, kan statusku sebagai muridnya Mr. Dimas hanya de facto, secara pengakuan saja. Secara de jure aku bukan murid beliau lagi, kan sudah resmi lulus dari ABBS. Hmm...malahan yang ada aku dikasih oleh-oleh lagi. Oleh-olehnya unik dan menginspirasi.
Tebak apa deh. Buku? Tulisan?
Nggak sih, hanya benda yang dari kecil kuanggap keren karena nggak biasa. Itu lho, kapal yang ada di dalam botol. Beliau membelikanku waktu lagi ke Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Filosofis sekali, kapal kan selalu menjelajah. Semoga kelak aku menjadi diplomat yang menjelajah seluruh dunia, iya kan, Sir? Aku udah lihat gimana bentuknya, Mr. Dimas memotretnya dan mengirimkannya lewat WA. Jadi nggak sabar. Abis, baru bisa diambil saat aku ke sekolah.
Mari menjelajah! Kapal kan jadi alat transportasi para penemu benua jaman dahulu, kan?
Ramadhan juga mengubahku sendiri menjadi lebih terbuka. Aku mulai melihat realita, lebih sabar menghadapinya, dan, tentu saja, berpikir semakin jauh mengapa dunia saling membenci. Bayangkan saja, awal dan akhir Ramadhan Bagdad terus digempur bom, Bangladesh juga baru diserang ISIS, begitu juga Istanbul, Turki. Kasarnya kalau aku bilang, mereka punya otak nggak sih? Mereka nggak ngerti fiqih perang, bikin peperangan. Mereka nggak ngerti fiqih pemerintahan, mau mendirikan kekhilafahan. Mana sudi aku memba'iat pemimpin seperti mereka. Ogah banget.
Apa yang paling ajaib dari Ramadhan kurasakan ketika akhirnya aku dan Rifai kembali keep in touch, saling menghubungi. Ketika pengumuman SBMPTN-ku udah keluar, aku sengaja nggak menghubungi dia karena saat itu dia sedang di Papua, sinyalnya pasti limited. Tahu-tahu di akhir Ramadhan dia menghubungiku dan mengucapkan selamat.
"Aku baru aja buka Facebook, tahu! Kamu keterima di HI Undip, kan? Congratulations, my bestie!!" serunya dari telepon WA.
"How sweet you are. Thanks, bestie!" jawabku riang.
Rifai berubah drastis. Dari yang dulunya modelling sana sini, foto sama cewek sana sini, jadi sosok yang lebih alim, tapi tetap gaul di mataku. Persis Yusuf Habibi dulu. Mereka dulu emang akrab, kadang berantem, tapi aku senang melihat mereka getting along together. Melihatnya sekarang, entah kenapa ada sensasi kelegaan sendiri. Anak itu benar-benar berubah, entah kesambet apa. Eh, harusnya nggak kesambet sih, dia dapat hidayah.
Ah, Yusuf. Semua sudah selesai sekarang. Rifai sudah berubah, beban kita sudah nggak ada kan?
Malam ini, dia ngirimin aku link dari Binus gitu, nggak tahu maksudnya apaan. Aku sedang malas ngetik juga, jadi aku gantian meneleponnya.
"Itu link apaan, sih?" tanyaku.
"Oh, itu lomba speech sama newscaster," jawabnya. "Aku mau ikutan. Aku ngerasa dua tahun ini kayaknya aku udah ngelakuin banyak hal yang nggak berguna, kayak modelling. Aku pingin ikut lomba lagi. Paling nyobain newscaster,"
"Kesambet apaan kamu," Aku tertawa. "Nggak apa-apa, bagus deh. Aku dukung seratus persen,"
Aku nggak tahu bagaimana Ramadhan tahun ini mengubah Rifai, tapi apapun itu, hidayah yang datang padanya pasti indah sekali. Ada banyak cara ya hati bisa berubah. Sekarang tugasku...hm, kurasa aku hanya akan mengarahkannya aja. Dia sudah kembali, apa yang bisa kulakukan adalah mendukung segala hal positif yang dia lakukan.
Aku bersyukur sekali. Aku tidak jadi menyerah pada Rifai. Kalau tidak...mungkin malam ini aku nggak akan teleponan dengannya sambil cekikikan.
Cepetan pulang ke Balikpapan, gih! Ada banyak hal yang harus kukatakan padamu di tempat yang lebih banyak sinyalnya.
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
*kalau aja kamu kayak gini waktu aku masih di ABBS, kayaknya aku bakalan berbusa-busa cerita sama Mr. Izz, Rifai.
*kalau aja kamu kayak gini waktu aku masih di ABBS, kayaknya aku bakalan berbusa-busa cerita sama Mr. Izz, Rifai.

Komentar
Posting Komentar