Langsung ke konten utama

Islam Itu Teroris? (Part 2)

Bismillah,

Sebenarnya, sebelum menulis tulisan ini dan sebelum baca bahan, ada pertanyaan menarik di benakku. Sangat menarik bukan terorisme itu dari dulu tidak ada sangkut-pautnya dengan Islam, tetapi mengapa di abad ke-21 ini terorisme disangkut-sangkutin sama Islam?

Terorisme sendiri, seperti yang sudah ditulis dulu, dalam KBBI berarti tindakan kekerasan yang menimbulkan ketakutan untuk tujuan politik tertentu. Secara singkatnya kurang lebih begitu. Menurut kamus Cambridge, terorisme adalah (threats of) violent action for political purposes. Hampir sama dengan KBBI. Penggunaan kekerasan untuk tujuan politik. Kata terorisme sendiri berasal dari bahasa Perancis le terreur. Kata ini digunakan untuk menggambarkan peristiwa pemenggalan 40.000 orang oleh pemerintah pasca revolusi besar di Perancis. Penggunaan istilah ini sebenarnya sudah ada sejak abad ke-18. Berarti jauh sebelum ada Tragedi WTC, Bom Bali, Tragedi Nice, dan lain sebagainya, kata ini sudah digunakan untuk menggambarkan bagaimana kekerasan dilakukan untuk menimbulkan ketakutan demi tujuan politik.

Oke, terjawab satu pertanyaan.

Pertanyaan selanjutnya, sejak kapan sih Islam mulai populer dikaitkan dengan terorisme?

Kalau kita menelaah gaya para orientalis Barat menulis sejarah Islam, maka kita bisa menyimpulkan awal mulanya kira-kira saat Islam memulai penaklukan-penaklukan. Lebih lanjut, ada di buku Muhammad Al Fatih 1453 yang ditulis Ust. Felix Siauw sebagai contoh. Ketika Muhammad Al Fatih menaklukan Konstantinopel pada tahun 1453, para sejarawan orientalis Barat menuliskan bahwa ketika beliau rahimahullah menaklukan Konstantinopel, para tentara Turki Utsmani berjalan dengan kepala bayi tergantung di atas tombak, mencongkel mata 40.000 penduduk Konstantinopel, dan lain sebagainya.

Tetap bertahan lama, ya. Bagaimana tidak. Barat terus-terusan mempropagandakannya. Ya…kira-kira seperti Korea Utara yang memberi propaganda aneh-aneh kepada rakyatnya itu. Dalam dunia politik, kebohongan yang terus-menerus dilakukan akan menjadi suatu pembenaran. Sebagai analogi, kalau seekor anak kucing diperlakukan terus-menerus sebagai domba, maka dia selamanya tidak mengetahui bahwa dia adalah kucing. Kira-kira seperti itu. Bukankah seakan-akan kita seperti berkata kepada kucing itu, “Hey, kamu itu domba. Bukan kucing,”?

Maka, sejarah panjanglah yang membuat slogan ‘Islam Itu Teroris’ ada. Terjawab pertanyaan kedua.

Pertanyaan ketiga, mengapa banyak dari umat Islam yang salah makna mengenai jihad?

Ya, bukankah selama ini yang melakukan pengeboman itu mengatakan itu jihad?

Bagaimana awal mulanya?

Hm, ternyata pertanyaan ketiga ini bisa melebar juga ya. Kalau begitu, sebagai contoh, kita ambil kasus yang terjadi di Indonesia. 

Peristiwa terorisme di Indonesia sendiri tercatat pertama kali pada 28 Maret 1981 yang dikenal sebagai Peristiwa Woyla. Peristiwa ini adalah aksi pembajakan pesawat Garuda Indonesia penerbangan 206 yang bertolak dari Bandara Talangbetutu, Palembang menuju ke Bandara Polonia, Medan. Pelakunya berjumlah lima orang dipimpin oleh Imran bin Muhammad Zein dari Komando Jihad sebagai tuntutan agar rekan-rekan mereka yang ditahan pada Peristiwa Cicendo dilepaskan.

Hm, karena peristiwa tersebut terjadi di masa Orde Baru, menarik kiranya kalau kita lihat bagaimana situasi politik saat itu.

Ingat kan di masa Orde Baru hanya ada tiga partai? Ada Golkar (yang menyebut diri mereka saat itu bukan partai, tetapi gerak politik dan siasatnya seperti partai politik), PPP, dan PDI. Terjadi fusi partai yang katanya untuk stabilisasi politik dan keamanan. Masalahnya adalah fusi partai tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah Orba melakukan depolitisasi terhadap Islam. Masyumi yang dulunya merupakan kekuatan politik dibubarkan karena dianggap melawan pemerintah dan tokoh-tokohnya teribat dalam Pemberontakan PRRI. Meski Masyumi telah membuat Panitia Rehabilitasi Masyumi untuk melakukan perbaikan, pemerintah pada akhirnya tetap membubarkannya. Partai yang tersisa saat itu tinggal NU, PSII, dan Perti yang lebih moderat terhadap pemerintah. Pada pemilu 1971, suara NU yang mencapai 18,67% dianggap membahayakan pemerintah, sehingga fusi partai tersebut diadakan pada 1973. Bukankah itu merugikan? Ya, kiranya itulah yang menyebabkan adanya ketidakpuasan beberapa ormas-ormas Islam sehingga peristiwa pembajakan pesawat dan Peristiwa Cicendo bisa terjadi.

Baiklah, perkiraan berikutnya yang terjadi adalah ormas-ormas Islam tersebut menyatakan jihad melawan pemerintah dengan segala jalan. Kurang lebih itu yang terjadi.

Pertanyaan ketiga, done.

Sekarang pertanyaan terakhir, bagaimana masyarakat internasional memandang Islam?

Sepertinya sertifikat agama yang paling damai dari UNESCO kurang lebih adalah jawabannya.

Mungkin ada sekelompok orang yang membenci Islam di luar sana. Mungkin karena diturunkan dari para orientalis Barat jaman dahulu atau karena apa. Namun, bukankah lebih banyak lagi yang membela?

Wallahu a’lam bish shawwab.

*Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan dari Mr. Dimas Adika.


Sincerely yours,

Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...