Langsung ke konten utama

SMA ABBS Surakarta (2)

Membuat tulisan ini setelah kelulusan rasanya beda. Dulu ketika masih jadi murid SMA, aku selalu berpikir bahwa waktu sepertinya tidak akan pernah berhenti dan akan terus begini. Sekarang, ketika sudah lulus aku terkejut mengetahui fakta bahwa semua petualanganku sudah berakhir sampai di sini. Yah, tapi kisah petualangan mana sih yang tiada akhir?

Tanggal 18 Juli semua sudah masuk sekolah lagi. Aku pasti akan benar-benar sedih melihat adikku masih mengenakan seragam SMA-nya, masih bercanda dan tertawa di masa-masa indah itu, sementara masaku sudah berakhir. Namun, life goes on. Waktu terus berjalan. Apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya berhenti sebentar saja?

Aku merindukan semuanya. Bangun jam 3 atau setengah 4, mandi, salat tahajud, salat subuh, al ma'tsurat, hafalan, siap-siap ke sekolah, berangkat jam 6 pagi, beli susu cokelat, menyapa guru-guru, berdiri mematung di jendela kelas menatap langit luas, menanti wali kelas masuk, belajar, istirahat, curhat sama Mr. Izz, bercandaan sama guru-guru lain, sorakan 'An-ta-ni-a!' ketika maju tampil di depan semua orang, semuanya, semuanya, dan semuanya. Aku merindukan kehidupanku yang jauh dari gadget, tetapi riang gembira dan bahagia. Meski tubuhku kurus kering di sana. Meski kulitku berubah gelap. Meski ketinggalan informasi. Meski jauh dari rumah, orangtua, dan kesenangan-kesenangan di rumah.
 
"Apa yang kau bisa harapkan dari sekolah yang baru buka?"
 
Tidak, tidak ada yang bisa kuharapkan. Tidak dikenal. Beberapa kali tidak tercantum di daftar. Namun, aku belajar arti perjuangan sesungguhnya di sana. Membuat sekolah itu dikenal minimal di kota saja, rasanya sudah jungkir balik benar-benar, tetapi waktu-waktu itu sungguh kunikmati apa adanya. Sebenarnya, kalau kau mau tahu, aku sampai sekarang bertanya-tanya apa kiranya yang merasukiku sampai mau-maunya aku menangis-nangis, memohon-mohon agar bisa sekolah di tempat yang bahkan gedungnya belum ada dan guru-gurunya masih miskin pengalaman mendidik anak remaja usia kisaran 15-18 tahun. Saat itu aku hanya percaya satu hal, yang akhirnya meyakinkan orangtuaku untuk mengirimku ke sana, bahwa di sanalah tempat terbaik untuk mendidikku dan membuatku berubah lebih baik. 

Kala itu, kalau kau mau tahu, aku tidak berharap sekolah itu sudah lengkap fasilitasnya. Aku tidak pula berharap bahwa keinginanku semua langsung terpenuhi dalam sekejap di sana. Simsalabim, semacam itu. Tidak, aku hanya berharap di sana kelak aku bisa bahagia. Aku hanya berharap aku menemukan tempat yang juga bisa kusebut rumah. Bukankah rumah adalah tempat di mana kita selalu ingin kembali?
 
Kala itu, aku seperti bermain taruhan, kau tahu? Bisa saja suatu saat sekolah ini tutup, entah apa alasannya. Aku mempertaruhkan semua harapan yang ada dalam benakku untuk belajar di sana, berharap kelak aku membaik setelah lulus, menemukan kebahagiaan baru, melupakan kenangan buruk di sekolah lama, dan menemukan pelajaran-pelajaran hidup. Kalau saat itu diibaratkan seperti bermain judi, maka hari ini, detik ini, aku menang telak. Aku mendapatkan semuanya. 

Ah, ya. Manis rasanya mengenang aku punya guru, teman, dan bahkan masyarakat sekitar sekolah yang amat ramahnya. Masyarakat sekitar? Aku tidak pernah menyangka bahkan masyarakat sekitar akan menjadi memori ketika bersekolah di sana. Ada seseorang yang kupanggil kakek di sana, warga perumahan sekitar sekolah. "Kakek rasa kamu sepertinya asyik diajak ngobrol. Namamu Anissa, kan?" kata kakek itu kala pertama kalinya beliau menyapaku secara pribadi. Sepertinya, kalau kuingat, itu membuatku akhirnya punya inisiatif untuk mengenal warga perumahan. Hm, apa lagi? Penjual susu cokelat, Bu Mul, Mama Nunik, kakek-kakek pensiunan PNS yang biasanya duduk-duduk di depan panti jompo, orangtuanya Miss Iffah, dan masih banyak lagi.
 
ABBS, selalu ada saja cerita ketika aku mengenangnya. Terlebih karena ada banyak saat di mana aku ngobrol dengan banyak orang, membuatku jadi tahu lebih dalam tentang semua orang yang menaruh mimpinya untuk sekolah ini dan juga kami. Mr. Ajung yang mengorbankan studinya untuk kami, Mr. Sam yang tidak bisa tidur ketika aku secara mendadak dikirim ke Semarang malam-malam untuk ikut OSP, Mr. Dimas yang mengantar muridnya malam-malam ke Malang untuk ikut lomba, Mr. Izz yang seringkali mondar-mandir di awal tahun pertama karena istrinya sakit, tetapi di saat yang sama melatihku berlomba, Miss Wochy yang sering mengorbankan waktu pulang untuk memberi tambahan kepada siapa saja, Mrs. Oliph yang ternyata masih memberiku toleransi dengan nilai-nilai yang kudapat padahal aku siswa yang dapat beasiswa, Mrs. Dee yang dulu selalu mau-mau saja diajak kumpul anak boarding putra dan putri, dan masih banyak lagi. 
 
Akan kuberitahu kau satu rahasiaku. Mengapa sering kali aku mengosongkan kritik dan saran kepada guru-guru? Ah, ya. Jika diingat dulu, aku sering kali berdalih kepada Bunda Lukluk bahwa aku tidak tahu apa yang harus kutulis di sana dan akhirnya tidak kukumpulkan. Di tahun kedua sepertinya aku juga tidak menulis. Di tahun pertama aku hanya menulis apa saja yang aku pikirkan, kata semangat atau entah apalah itu. Mengapa? Karena, aku tidak tega. Itu saja. Aku tidak tega mengkritik orang-orang yang sudah mendedikasikan waktunya mendidikku yang kadang bengal, suka tidur di kelas, sering tidak mengumpulkan tugas, dan tidak pernah menjadi yang terbaik di sekolah. Merekalah yang mendidik supaya aku beradab dan punya moral, memberi pelajaran hidup yang berharga, dan mengenalkanku kepada dunia. Bagaimana bisa aku mengkritik mereka? Justru yang ada aku harus berbesar hati menerima mereka apa adanya. Masih bagus ada sekolah yang mau menerima murid sepertiku yang kecewa tidak masuk di jurusan yang dia inginkan.
 
Satu hal lagi, tentang teman, ada banyak hal yang kuingat tentang mereka. Aku belajar bertoleransi di tingkat awal, yang masih sama-sama seagama dan seakidah, dari mereka. Ada satu hal yang menjadi perbedaan generasi pertama, terutama yang perempuan. Pakaiannya. Hanya ada beberapa anak yang sering kali kudapati di akun sosmednya tidak berpakaian seperti yang sudah diajarkan, sisanya beres semua. Ada lagi? Semangat berkompetisi. Anak basket generasi pertama, mereka mencari kompetisi sendiri, kadang masih sparing di luar sekolah. Pun begitu anak-anak lainnya. Mungkin karena pikiran kami saat itu adalah bagaimana caranya sekolah kami dikenal, maka kami memilih jalan kompetisi. 
 
Aku tahu sering kali di antara kami ada ketidakcocokkan. Namun, kurasa setelah lulus semua berubah, semua baik-baik saja. Tidak ada lagi anak boarding dan anak fullday, semua sama.
 
Sepertinya, malam ini aku benar-benar berpikir tanggal 18 Juli nanti aku harus kembali ke Solo untuk sekolah lagi.
 
 
 
 
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani   
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...