Langsung ke konten utama

Ai wo Sakebe

Aku nggak akan bicara tentang lagunya Arashi mentang-mentang judulnya Ai wo Sakebe.

Akhir-akhir ini prihatin aja karena status galau cintanya teman-temanku semakin banyak, padahal mau kuliah. Aku yang lagi jatuh cinta aja nggak sempat bikin status galau mendem perasaan, sibuk mengurus dokumen pembayaran UKT. Jangankan bikin status, mikirin orangnya aja cuma kalau lagi kosong pikiranku dan orang itu seliweran gitu aja. Masalahnya, kapan pikiranku kosong? Akhir-akhir ini pikiranku dipenuhi tentang UKT, UKT, dan UKT.

Aku kali ini benar-benar akan memprioritaskan kuliah dan ikut organisasi nanti di kampus. Masalah transportasinya nanti naik apa, gampang. Selama niat baik, pasti nanti ada aja jalannya atau kali aja semester berapa udah bisa bawa motor. So, jatuh cinta dan jodoh ada di urutan kesekian meski Papa bilang oke-oke aja kalau mau nikah pas masih kuliah (emang calon udah ada, Pa?). Aku berjuang untuk fairytale indah milikku sendiri. FYI, fairytale-ku bukan '...dan akhirnya, sang putri diselamatkan sang pangeran dan hidup bahagia selamanya,' akan tetapi begini ...dan sang putri di tengah kesibukannya bertemu dengan pangeran idamannya, berjuang bersama, dan membina rumah tangga sampai di Jannah,'. Sejujurnya aku lebih senang bertemu jodoh ketika aku sibuk berorganisasi atau ngantor, that's it. Cita-citaku kan jadi wanita karier.

Aku melihat banyak kok akhwat-akhwat cantik super sibuk yang keren. Kak Bella misalnya, kerja jadi guru, ikut organisasi ini itu, dan sudah ke mana-mana. Tulisan-tulisannya bagus dan menginspirasi. Kak Salsa, sepupunya Farrel, juga keren. Kuliah, organisasi, dan menulis tulisan inspiratif. Mereka nggak dipusingkan dengan urusan cinta-cintaan, nggak baperan, dan tetap sibuk berbagi dengan banyak orang. Atta, girls! That's exactly what I like.

Ai wo sakebe. Teriakan cinta. Buat perempuan-perempuan seperti Kak Bella dan Kak Salsa, aku yakin cinta adalah sesuatu yang didapatkan dengan cara yang murni dan baik. Itu teriakan cinta mereka. Apa yang terpenting sekarang adalah lakukan yang terbaik. Bukankah jodoh itu cerminan diri? Selama kita baik, jodoh kita akan baik. Lelaki baik untuk wanita baik, bukankah itu janji Allah?

So, buat yang masih baper karena nggak jelas perasaannya dibalas atau nggak, bukankah lebih baik memantaskan diri dulu sebelum meminta kepada-Nya agar didekatkan dengan si dia?



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...