Langsung ke konten utama

Pelajaran Luar Perkuliahan

Aku menemukan dosen HI yang menarik bagiku pada mata kuliah pengantar ilmu hukum Selasa kemarin. Benar-benar nyentrik, tapi menarik. Kakak tingkat biasanya memanggil beliau Mbak Ika, tetapi di sini aku dilema mau memanggil beliau Bu Ika atau Mbak Ika karena sekarang beliau adalah ketua departemen HI. Beliau keren sekali pokoknya. Bukan karena beliau lulusan Eropa. Bukan karena beliau lama tinggal di sana. Bukan karena beliau bisa mengikuti kuliah ilmu alam dan ilmu sosial sekaligus. Namun, karena apa yang beliau sampaikan di kelas seakan menyihirku di tempat.

"Saya kadang suka heran sama orang yang selalu bicara Barat begini dan begitu. Saya bilang aja, 'Kamu pernah tidak tinggal di sana?'. Dia jawab, 'Nggak, tapi saya berkunjung ke sana'. 'Berkunjung kan, bukan tinggal? Saya lama tinggal di sana,'. Percayalah, kalau kalian tinggal di Barat, kalian akan tahu sendiri seperti apa Barat sesungguhnya,".

"Kalian tuh ada jatah 25% nggak usahlah terlalu rajin, dimanfaatkan saja jatah itu. 23 SKS seminggu itu berat, lho. Ambil liburan seminggu, jalan-jalan kek ke mana gitu, ke Gunungkidul misalnya, di sana pantainya indah-indah, kalau sudah selesai kembali lagi kuliah. Percayalah, Anda akan dapat banyak sekali pengalaman ketika Anda melakukan perjalanan,".

Ya ampun, pernyataan beliau itulah yang membuatku seakan tersihir di tempat.

Banyak sekali pengalaman yang akan didapatkan ketika melakukan perjalanan. Aku setuju sekali. Terkadang apa yang menjadi jawabanku ketika di kelas adalah inspirasi dari orang-orang yang kutemui di jalan. Beberapa tulisanku di blog ini adalah inspirasi dari orang-orang yang duduk sebangku denganku selama di bus. That is why aku demen banget jalan-jalan, terutama kalau sendirian, dari jaman SMA sampai sekarang. Karena ilmu-ilmu yang kudapatkan benar-benar berharga dan aku lebih leluasa untuk menikmati tempat yang kukunjungi tanpa harus tunggu-tungguan. 

Well, jalan-jalan sendiri ini juga maksudnya dalam kondisi apapun lho. Keluar dari boarding dan ijin beli ini dan itu sendiri itu juga jalan-jalan. Pulang sekolah sendiri itu juga jalan-jalan. Berangkat kuliah sendiri itu juga jalan-jalan. Percayalah, meski jalan yang ditempuh sama, tetapi pemandangannya, terutama interaksi sosial, yang kita jumpai itu berbeda setiap harinya. Meski jalan yang ditempuh sama, kita setiap harinya melihat peristiwa yang berbeda, iya kan? Setiap hari kita melihat situasi sosial yang berbeda dan kita amati itu juga ilmu, lho.

Makanya, akhir-akhir ini dikenal deh istilah kurang piknik. Yep. Kalau kamu masih menganggap masyarakat A begini, golongan B begitu, kelompok C sesat, percayalah itu semata-mata karena kamu kurang piknik. Kamu nggak pernah berinteraksi dengan mereka, kamu nggak pernah sekadar duduk dan mengobrol dengan mereka, tetapi seenak jidat aja memberikan stigma dan label. Itu pembodohan diri sendiri dan orang lain namanya. Duduk, bergaul, dan membaca banyak buku itu kunci penting untuk bisa menyerap ilmu sosial dengan baik. Terutama buat kalian nih yang sehari-harinya belajar ilmu alam, tetapi seenak jidat juga memberikan label untuk suku, kelompok, dan golongan tertentu, ilmu sosial itu nggak sepasti yang kalian pelajari, makanya pergilah kalian piknik dan bmerinteraksi dengan mereka. Ketertutupan kalian terhadap informasi-informasi tentang fenomena sosial seperti inilah yang membodohi kalian sendiri.

That is why, teman-teman. Kalau kalian merasa jengah dengan hidup kalian, muak dengan kuliah kalian, pergilah kalian jalan-jalan. Atur waktu kalian sebisa mungkin untuk diri kalian sendiri. Nggak ada ruginya kok duduk-duduk dan berinteraksi dengan banyak orang. Pergilah ke museum, ke pantai, ke gunung, ke taman bermain, and so on. Ilmu Allah itu luas banget, nggak terbatas hanya di masjid, di majelis, di kampus, dan di sekolah. 

Karena aku mendapat gambaran tentang mengerikannya pembantaian (terduga) komunis tahun 1965-1966 dari seorang kakek yang jadi teman seperjalananku waktu perpulangan boarding. 

Karena aku mendapat kesempatan tukar budaya dengan orang lain dengan seorang volunteer asal Cina yang jadi teman sebangkuku di bus. 

Karena aku mendapat ilmu membuat leker crispy dari penjualnya yang kutemui setiap pulang kuliah. 

Karena aku dapat kesempatan merasakan ramah-tamahnya masyarakat Salatiga dan Kopeng ketika aku memutuskan mengunjungi English Camp (ceritanya tuh sampai sopir busnya punya nomor ponselku gegara beliau bakal jemput aku setelah selesai urusanku di sana, Mr. Izz waktu aku ceritain ini sampai geleng-geleng kepala dan tertawa, hahaha).

Karena aku tahu bagaimana kehidupan perkuliahan dari seorang mahasiswa yang jadi teman seperjalananku di kereta jurusan Solo-Yogyakarta.

Karena semua yang aku dapatkan inilah aku sangat menyarankan kalian untuk membuat perjalanan kalian sesegera mungkin.


Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...