Langsung ke konten utama

Today's Surprise

Semua alumni SMA tahun ini kebanyakan merasa hari ini adalah hari penting. Pengumuman SBMPTN tanggal 28 Juni 2016. Agenda ini menjadi amat sangat penting di rumahku. Aku dan keluargaku memasang timer mundur pengumuman di komputer keluarga. Semua menunggu sehingga rumah terasa hening. Aku menghilangkan deg-degan dengan bermain game, Mama menonton video, Papa tiduran, dan adikku buka Instagram. 

Menjelang jam dua, aku harap-harap cemas. Mama dan Papa sudah bersiap di ruang keluarga. Jam dua ketika pengumuman mulai bisa diakses, aku gemas sekali karena servernya penuh. 

"Yang ngakses seluruh Indonesia, sih," kata Mama. 

"Coba deh, kamu jangan pakai WiFi dulu. Biar kakakmu bisa lihat pengumuman," kata Papa pada adikku. 

Grup WA alumni boarding mulai ramai. Erni yang pertama memberi kabar dia lolos jurusan teknik lingkungan Undip. Ulfah belum lolos, fix dia akan meneruskan pendaftaran di Poltekkes. 

"Coba kamu minta tolong temanmu bukain, deh," kata Mama lagi.

"Nggak, ah. Nggak enak," tolakku. Sebenarnya bukan itu sih alasannya. Aku hanya mau yang tahu kabar ini duluan yaa...kalau nggak aku, ya orang terdekatku.

Pesan WA dari Mr. Dimas masuk pas di saat grup WA lain mulai ramai.

 How's the result?

Aku menarik napas. Huh, belum juga bisa membukanya, batinku kesal. Mana tempatku sinyal limited juga. Hm.

Oh ya, minta tolong beliau saja.

Mr. Dimas!!!! Bukain punyaku!!!

Nomor?

216-42-11116

Oke, fix. Nggak ada ruginya beliau tahu duluan meski aku tahu nanti mungkin bakalan ngasih tahu dengan cara paling menyebalkan di seluruh jagad raya (alay sumpah, Katy XD). Beberapa teman sebenarnya sudah menawarkan bukain hasilnya, aku jawab iya iya aja meski sudah ada yang bukain.

Kamu daftar Undip kan, An?

Pesan Erni di WA grup alumni boarding langsung memberiku ide lagi. Oh iya, ya. Lewat website mirror juga bisa. Kenapa nggak kepikiran dari tadi?

Benar saja, sangat mudah mengaksesnya (mungkin banyak yang ga kepikiran buka pake ini kali ya). Aku mengetikkan nomor peserta, tanggal lahir, dan captcha dengan jari gemetaran. Nervous-nya ngalahin aku waktu baca puisi di akhirussanah dan lomba debat dulu. Tanganku aja sampai dingin semua.

Well, akhirnyaaaa....inilah hasilnya.





Begitu halaman terbuka, aku langsung teriak histeris. Kaget sumpah, aku nggak nyangka bakalan beneran keterima di HI. Mama dan Papa yang belum selesai baca keburu kaget, ngapain itu anak teriak histeris. Setelah udah satu menitan gitu aku teriak, "HI! HI! Aku keterima di HI!", mereka baru ngeh dan lega minta ampun (ortuku udah harap-harap cemas dari kemarin soalnya, hahahahaha). 

Aku lega beneran hari ini. Orang-orang terdekatku ada semua di saat aku punya kabar gembira untuk mereka. Masalahku juga sudah selesai dengan...yah, you know, jadi aku bisa memberitahunya bahwa ekspektasi kami sesuai dengan kenyataan. Sorenya, aku menelepon Mr. Izz ketika keluargaku bukber merayakan keberhasilanku, ulang tahun adikku, dan ulang tahun pernikahan Mama Papa. Oh ya, Papa bilang, karena ini kesuksesan besar, jatah makan-makannya dua kali dan semuanya Papa yang bayar, jadi bisa pesan semaunya. Asik! Sore ini kami makan di Waroeng Steak. Aku pesan beef steak, spaghetti, chicken drum, dan chocolate milkshake jelly (padahal harusnya diet cokelat, wkwkwk). Tahun depan akan berlaku juga untuk adikku.

"Bakal makan kepiting kalau Lia lolos STAN, SNMPTN, atau SBMPTN. Kali ini satu orang boleh satu porsi. Biasanya dua orang setengah porsi, kan?" kata Papa sesumbar gitu. Wuahahaha...kami semua tertawa. Wah, ini benar-benar perayaan besar. Dulu pas aku masih sering-sering dapat ranking 1 di SD atau ketika menang lomba, perayaan tidak pernah sebesar ini di keluargaku.

Alhamdulillah 'alaa kulli hal, satu dari list 100 mimpiku sudah ada yang tercoret. Saatnya membuka lembaran baru jadi mahasiswa. Selamat ngampus!




Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...