Sosok guru sejak kecil nggak pernah jauh-jauh dariku. Sejak playgroup, sebelum Mama datang nungguin aku, Papa sudah nyerahin aku (yang jaman itu ya ampun masih unyu banget) ke guru sampai Mama datang dan aku fine aja. Pas TK, aku sering dipangku sama guru, ditanyain rumahmu di mana, orangtua kerja apa, gitu-gitu (wah, dulu aku unyu banget berarti). Di SD pun sama, kelas 3 SD dulu pernah bantu bikin rapor, sering ngobrol-ngobrol gitu. Kalau kalah lomba ya curhatnya ke guru (itu patah hati pertama yang aku rasain lho, penyebabnya bukan karena cinta-cintaan). SMP yang agak beda, di sana biasa aja sih. Mungkin karena agak beda sama sekolah swasta. Kalau SMA...nggak usah ditanya, aku paling nyaman kalau lagi bareng beliau-beliau. Aku nggak keberatan bantu bikin legger, ngoreksi, dan lain sebagainya. Aku tipe yang dari dulu fine aja apa-apa sama guru, diawasi guru, dan lain sebagainya, toh aku baru dihukum kalau salah. Mungkin itu sebabnya sejak kecil kalau ditanya cita-citamu mau jadi apa, jawabanku yaa...jadi guru. Meski sekarang plus jadi diplomat sih, hehe.
Makanya, ketika akhir-akhir ini berita pengaduan guru ke polisi hanya karena dicubit santer banget, perasaanku muak. Haduh, dicubit doang. Teman-temanku di SD dulu dipukul pakai penggaris kayu panjang, ada yang dilempar kapur atau penghapus, dan lain sebagainya, tapi nggak ada tuh yang memolisikan gurunya. Hukuman fisik di generasiku lebih keras ketimbang generasi sekarang, tapi nggak ada tuh kasus murid memolisikan gurunya. Baru akhir-akhir ini saja. Makanya aku nggak heran kalau banyak yang akan komentar, "Aduh, orangtua dan murid jaman sekarang cengeng banget ya?"
Aku juga akhir-akhir ini kesal juga kalau ada laporan dari Jihan ada anak di kelasnya yang nggak sopan sama gurunya. Aku nyadar kadang aku nggak sopan juga (sering kena tegur Mr. Dimas), tapi kalau sampai ngatain gurunya, aduh, sumpah itu pingin aku jitak anaknya.
Agak gerah juga kalau Jihan cerita banyak anak yang sebel kalau dia tanya sama Mr. Izz sehingga memperlama waktu istirahat. Well, tanya apa salahnya? Jangan malu, kenapa malu kalau belum tahu?
Aku akui juga aku malas-malasan kalau pelajarannya eksak, malas tanya, tapi aku benar-benar bersyukur ketika aku tahu Mrs. Oliph selama ini memaklumi kalau aku malas banget, nggak maksimal, dan lain sebagainya. Aku bersyukur banget saat beliau bilang, "Nggak apa-apa, Antania kan bukan di situ passion-nya, kan?" sehingga buatku nggak ada pilihan lain selain buktiin kepercayaannya mereka kalau aku bisa bersinar di tempat lain.
Jadi, kalau ada yang bilang dekat sama guru itu cupu, please deh. Salah satu syarat agar dapat menuntut ilmu menurut Imam Syafi'i adalah kedekatan dengan guru. Hasil ngobrolku dengan Mr. Izz selama ini membekas banget dan jadi inspirasi, itu salah satu poin plus yang aku dapat ketika dekat sama guru di luar kelas. Kalian juga lebih cepat dapat bantuan kalau ada kesulitan. Asyik kok sebenarnya. Jangan dikira cupu dulu.
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar