Langsung ke konten utama

Sensei

Sosok guru sejak kecil nggak pernah jauh-jauh dariku. Sejak playgroup, sebelum Mama datang nungguin aku, Papa sudah nyerahin aku (yang jaman itu ya ampun masih unyu banget) ke guru sampai Mama datang dan aku fine aja. Pas TK, aku sering dipangku sama guru, ditanyain rumahmu di mana, orangtua kerja apa, gitu-gitu (wah, dulu aku unyu banget berarti). Di SD pun sama, kelas 3 SD dulu pernah bantu bikin rapor, sering ngobrol-ngobrol gitu. Kalau kalah lomba ya curhatnya ke guru (itu patah hati pertama yang aku rasain lho, penyebabnya bukan karena cinta-cintaan). SMP yang agak beda, di sana biasa aja sih. Mungkin karena agak beda sama sekolah swasta. Kalau SMA...nggak usah ditanya, aku paling nyaman kalau lagi bareng beliau-beliau. Aku nggak keberatan bantu bikin legger, ngoreksi, dan lain sebagainya. Aku tipe yang dari dulu fine aja apa-apa sama guru, diawasi guru, dan lain sebagainya, toh aku baru dihukum kalau salah. Mungkin itu sebabnya sejak kecil kalau ditanya cita-citamu mau jadi apa, jawabanku yaa...jadi guru. Meski sekarang plus jadi diplomat sih, hehe.

Makanya, ketika akhir-akhir ini berita pengaduan guru ke polisi hanya karena dicubit santer banget, perasaanku muak. Haduh, dicubit doang. Teman-temanku di SD dulu dipukul pakai penggaris kayu panjang, ada yang dilempar kapur atau penghapus, dan lain sebagainya, tapi nggak ada tuh yang memolisikan gurunya. Hukuman fisik di generasiku lebih keras ketimbang generasi sekarang, tapi nggak ada tuh kasus murid memolisikan gurunya. Baru akhir-akhir ini saja. Makanya aku nggak heran kalau banyak yang akan komentar, "Aduh, orangtua dan murid jaman sekarang cengeng banget ya?"

Aku juga akhir-akhir ini kesal juga kalau ada laporan dari Jihan ada anak di kelasnya yang nggak sopan sama gurunya. Aku nyadar kadang aku nggak sopan juga (sering kena tegur Mr. Dimas), tapi kalau sampai ngatain gurunya, aduh, sumpah itu pingin aku jitak anaknya. 

Agak gerah juga kalau Jihan cerita banyak anak yang sebel kalau dia tanya sama Mr. Izz sehingga memperlama waktu istirahat. Well, tanya apa salahnya? Jangan malu, kenapa malu kalau belum tahu? 

Aku akui juga aku malas-malasan kalau pelajarannya eksak, malas tanya, tapi aku benar-benar bersyukur ketika aku tahu Mrs. Oliph selama ini memaklumi kalau aku malas banget, nggak maksimal, dan lain sebagainya. Aku bersyukur banget saat beliau bilang, "Nggak apa-apa, Antania kan bukan di situ passion-nya, kan?" sehingga buatku nggak ada pilihan lain selain buktiin kepercayaannya mereka kalau aku bisa bersinar di tempat lain. 

Jadi, kalau ada yang bilang dekat sama guru itu cupu, please deh. Salah satu syarat agar dapat menuntut ilmu menurut Imam Syafi'i adalah kedekatan dengan guru. Hasil ngobrolku dengan Mr. Izz selama ini membekas banget dan jadi inspirasi, itu salah satu poin plus yang aku dapat ketika dekat sama guru di luar kelas. Kalian juga lebih cepat dapat bantuan kalau ada kesulitan. Asyik kok sebenarnya. Jangan dikira cupu dulu.



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...