PUSING!!!
Hari ini, for real, kepalaku pusing dan perasaanku berantakan. Aku berantem sama seseorang yang buatku serba salah, sih! Apa penyebabnya? Simple saja sebenarnya. Surat. Ketika hampir beres ini masalah, lawan bicaraku mungkin salah menangkap maksudku. Ya ampun, masalahku tambah panjang. Mana bulan puasa lagi. Hadeh.
Udah deh, hancur banget hariku hari ini. Kepalaku tambah pusing memikirkannya.
Ini juga salahku, ngomongnya macam anak pramuka aja pake kode-kode gitu. Emang rada bener aku ya? But wait, sejak kapan aku jago ngode orang kayak gini? Omaigat, doushite? Doushite?
Hah, jadi begini urusannya. Seharusnya sudah sejak lama aku duduk manis membaca suratnya. Sejak jaman baheula, aku emang paling suka baca surat karena menurutku manusia lebih jujur mengungkapkan segalanya lewat tulisan ketimbang lisan. Termasuk yang satu ini, karena suratnya datang dari orang terdekatku. Hanya saja, suratnya hilang begitu saja dan akhirnya ketemu dalam keadaan luntur karena kena hujan deras. Aku yang awalnya marah-marah karena emang udah kebelet pingin baca, kali ini bingung kudu marah lagi atau nggak. Tambah parahnya, lawan bicaraku, orang yang ngambil surat itu dan menghilangkannya begitu saja kayaknya juga kesel (gimana nggak kesel, dia yang nulis suratnya juga ternyata dan aku pernah ngomong kalo itu nggak penting lagi buatku).
Masalahnya di situ sih, kurasa. Ketika aku ngomong, "Ya udah, udah nggak penting lagi," sebenarnya bermakna, "Sebenarnya itu penting banget buatku, kenapa hilang gitu aja dan sekarang nggak akan diserahkan padaku? Maunya gimana, sih?" Maknanya kebalikannya. Aku terlalu malu mengungkapkan apa yang pingin kubilang karena...takutnya dibatin, sengebet amat buat sepucuk surat. Yaa...jadi ngode aja nggak apa-apa kan? Abisnya, udah dari kemarin aku rewel pingin baca, giliran udah datang suratnya hilang, trus pas ketemu jadinya nggak terbaca. Hancur berkeping-keping sebenarnya perasaanku.
Ya ampun, surat untukku...hiks, selamat tinggal, kira-kira seperti itu perasaanku yang sebenarnya. Meski di luarnya kira-kira seperti, "Ah, ya udahlah,"
Jadi, kode yang akhir-akhir ini kuucapkan seperti ini:
"Ya udahlah nggak penting lagi,"
("Itu penting banget buatku, kenapa ilang gitu aja? Ngerti nggak sih aku beneran nggak bisa tidur karena pingin baca?")
"Udah lupain aja, nggak penting,"
("Cari pokoknya, aku pingin banget baca gimana pun tulisannya!")
"Aku nungguin lama buat ini ya?"
("Akhirnya, ketemu juga! Tolong kasihin ke aku, please! Biarin aku baca, ya?")
Daann...sisanya setelah percakapan ini, itu perasaanku yang sejujur-jujurnya. Aku memaksa diriku melakukannya, gimana pun asal bisa baca. Meski, kau tahu kan? Aku jaim banget dari dulu. Aku nggak mau orang menilaiku rewel, bawel, dan pemaksa. Aku nggak mau dinilai rewel dan bawel meminta surat itu, sih. Padahal, betapa pun tulisannya, bahkan jika itu ditulis Mr. Izz yang aslinya nggak suka banget nulis (aku malah terharu banget kalo beliau sampai maksa nulis buatku, hahahahahaha...), aku akan tetap membacanya. Aku benar-benar menghargai setiap tulisan orang untukku.
Trus kenapa waktu itu aku marah saat suratnya hilang? Surat pribadi itu masuk dalam daftar benda-benda privasiku, guys! Berani menyentuhnya, aku nggak akan bicara sama kalian berhari-hari. Berani membukanya tanpa ijinku, aku akan benci kalian selama seminggu. Berani menyebarnya ke orang lain, aku akan benci kalian seumur hidup (sebenernya nggak sampai seumur hidup sih, hahahahaha...cuma dalam waktu yang lama). Maaf banget, aku orangnya hanya terbuka pada yang benar-benar kupercaya tidak akan menyebar rahasiaku yang paling memalukan sekali pun. Dulu pernah ada yang membuka rahasiaku sih, itu sebabnya aku jadi sulit percaya orang lain.
* * *
Untuk orang yang akhir-akhir ini jadi lawan bicaraku, aku benar-benar minta maaf. Maaf karena aku kebanyakan kode macam anak KOPRASAKA (pramukanya ABBS, wkwk), maaf karena aku marah, maaf karena aku kekanakkan. I just want you to know, I really want it badly, hanya saja aku nggak pintar mengungkapkan apa yang kumau. Aku sudah menulis banyak sekali surat yang selalu kuletakkan di meja atau kuberikan secara langsung atau yang pernah diremukkan di depan mataku saat itu, tetapi aku jarang mendapat balasan. Itulah alasannya aku sangat menginginkannya, karena akhirnya surat-surat yang selama ini kutulis mendapat balasan. Aku benar-benar senang. Sangat senang.
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar