Langsung ke konten utama

Eksplorasi Kota Kelahiran (1)

What do I think about Ungaran?

Delapan belas tahun tinggal di sana...hm, ya menurutku biasa-biasa saja. Ungaran itu kota kecil yang bahkan kadang tidak terlihat di peta. Kudu skala tertentu buat mengetahui letak kota kelahiranku ini di dalam peta. Well, itulah mengapa bagiku biasa-biasa saja. 

Namun, pendapat itu patah setelah suatu hari sepulang dari perpustakaan kota aku keliling alun-alun Ungaran. Di alun-alun tersebut, terdapat tiga patung pahlawan kota dengan nama dan keterangannya. Itu membuatku penasaran, jangan-jangan kota yang selalu kuanggap biasa-biasa ternyata punya cerita keren.


Ini nih, alun-alun Ungaran. Ada tiga patung pahlawan lokal yang mengelilingi tugu ini dengan sikap siap siaga.

Senin, 9 Mei 2016 ketika pulang dari perpustakaan buat menyiapkan SBMPTN, aku memutuskan memulai eksplorasi. Lokasi pertama yang aku datangi adalah Fort de Ontmoeting atau Benteng Fort Willem II. Kenapa namanya Fort Willem II? Alasan simpel yang kutahu adalaaahh...karena Benteng Fort Willem I ada di Ambarawa. Masa' ada dua benteng yang namanya sama-sama Willem, hoho. Menurut salah satu sumber yang kubaca, ini dibangun untuk memperingati pertemuan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff dan Pakubuwono II di Ungaran. Benteng ini dibangun pada 1786. Hmm...ini ya alasannya kenapa ada lukisan timbul Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff di dekat pintu masuk utama benteng.


Lukisan timbul Gubernur Jenderal Baron van Imhoff di dekat pintu masuk Benteng Fort Willem II.

Selanjutnya, benteng ini menjadi sejarah kota yang tak ternilai. Benteng ini adalah pertahanan terakhir pasukan Belanda ketika Inggris menginvasi Indonesia pada 1811 sehingga Belanda harus menandatangani Kapitulasi Tuntang. Penandatangan kapitulasi ini menandai mulainya penjajahan Inggris di Indonesia. Lalu, ketika nanti Indonesia kembali ke penjajahan Belanda, benteng ini juga menjadi salah satu benteng yang digunakan untuk siasat benteng stelsel untuk menahan perlawanan pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Di sini juga Pangeran Diponegoro diinapkan sebelum akhirnya dibuang ke Ujungpandang, Sulawesi Selatan.


Oh, ini alasannya kenapa ada patung Pangeran Diponegoro di depan Benteng Fort Willem II.

Menyebalkannya nih ya, ketika masuk areal benteng, ada bapak-bapak yang jaga di situ. Pas ketika aku hendak memotret lukisan benteng jaman dulu, bapak-bapak itu langsung mencegahku, "Dek, di sini nggak boleh foto-foto,"

Aku mengernyit heran.

"Di sini udah jadi areal kantor, Dek. Nggak boleh foto-foto," kata si bapak lagi.

Aish, jinjja! Aku tahu sih sekarang benteng ini adalah area kantor Polres Ungaran juga. Benteng ini dijadikan balai pertemuan polisi dan masyarakat. Namun, aku benar-benar nggak ngerti kenapa sama sekali nggak boleh foto-foto.

"Boleh jalan-jalan di sekitar sini, Pak?" tanyaku.

"Nggak, Dek,"

Ah, ini bapak minta di-rasengan ya, Pak, batinku kesal. Masa' segitu banget nggak boleh jalan-jalan. Ini situs bersejarah, tahu!

"Motret lukisan ini doang juga nggak boleh, Pak?" tanyaku lagi, setengah memohon.

"Maaf, Dek. Ini kan udah jadi areal kantor,"

Aduh, menyebalkan sekali! Aku jengkel sekali begitu keluar dari area benteng, sembari bertanya-tanya kenapa tempat ini tidak dijadikan museum ketimbang kantor kayak Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Ya ampun, Pak, jalan-jalan dan foto-foto nggak merugikan polisi sama sekali, kan? Uh, kesal!

Sambil menatap Kantor Bupati Semarang yang terletak persis di depan benteng, aku terus bertanya-tanya bagaimana rencana Pemkab Semarang dalam konservasi Benteng Fort Willem II ini. Masyarakat Ungaran harus tahu sejarah besar benteng ini. HARUS!


Benteng Fort de Ontmoeting atau Fort Willem II, aku potret tampak depan.
Aku kecewa benteng ini malah dijadikan kantor ketimbang museum. Huh!





Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani





Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...