Langsung ke konten utama

Sebuah Dunia yang Individualis

Apa ya yang hilang dari dunia kita? Banyak banget. Rasa peduli terhadap sesama adalah yang paling luntur di antara semuanya. Bukan, bukan rasa peduli yang ada pas lagi bencana atau apalah itu, ini lebih ke rasa peduli terhadap keberadaan orang lain. Contohnya, seperti yang sudah pernah kusinggung, merokok di tempat umum dan di depan anak-anak, manula, orang sakit, dan ibu hamil. Ada lagi? Menyerobot antrean orang lain, tabrak lari, kebut-kebutan di area perkampungan dengan knalpot yang super bising, menyalakan musik keras-keras, dan lain sebagainya.

Lucu banget rasanya melihat fenomena sekarang. Ketika diangkat sebuah kasus berkaitan dengan fenomena yang terjadi di masa kini, kebanyakan orang akan berkomentar dan akan ada beberapa orang yang mengatakan, "Urusin aja hidup masing-masing! Kayak udah jadi yang paling benar aja!"

Oke, misalnya ada sebuah meme yang menampilkan fenomena anak-anak yang merokok. Kebanyakan orang akan berkomentar, "Duh, miris ya!", "Indonesia darurat moral,", dan lain sebagainya. Akan ada beberapa orang yang berkomentar seperti, "Kayak lo udah bener aja!", "Hidup siapa juga, terserah lah!", dan lain-lain. Hmm, gimana menurutmu? Kalau menurutku, kebanyakan orang itu berarti masih mempunyai hati untuk peduli, meski di dunia nyata mungkin mereka tidak berani menunjukkan rasa peduli itu. Sisanya, beberapa orang itu, entahlah. Semoga hati mereka tidak mati dan menjadi sosok individualis. Karena orang yang menutup hatinya untuk menerima nasihat, hatinya sudah membatu. Sudah mati rasa. Apapun itu.

Seringnya kita lupa bahwa kita nggak sedang berada di hutan. Kita hidup di dalam sebuah sistem bernama masyarakat, di mana kita nggak bisa bebas semau kita. Kita terikat norma, adat, dan nilai yang berlaku dalam sistem itu. Tidak mau mematuhinya? Silakan pergi. Bahkan, di perkotaan yang super individualis kita tetap akan menemukan nilai-nilai yang harus dipatuhi. Buktinya? Masyarakat kota masih tahu kalau mencopet adalah kejahatan, bukankah itu berarti mereka mempunyai nilai untuk tidak mengambil barang orang lain? Yaa...meski mereka kadang abai juga sih terhadap nilai itu.

Rasa peduli itu harus dipaksa tumbuh, bagaimana pun caranya. Yang ingin menasihati, pastikan kalian minimal sudah baik untuk apa yang kalian nasihatkan. Untuk menasihati orang agar tidak buang sampah sembarangan, kita juga tidak boleh buang sampah sembarangan, kan? Yang dinasihati, jadilah pendengar yang baik. Nasihat baik yang datang adalah ilmu, dari siapa pun datangnya, bahkan dari orang yang kita anggap 'tidak lebih baik dari kita'.

Sebagai generasi berikutnya, aku, kamu, dan kita semua akan menentukan mau di bawa ke mana dunia kita yang sekarang dan seperti apa nantinya. Sehingga, teman-temanku semua, kita wajib belajar sebanyak-banyaknya agar kelak dunia yang individualis akan berubah menjadi dunia yang harmonis dan saling peduli.



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

True Self

Minggu, 15 Oktober 2017 "...sebenarnya banyak sih yang ngomongin kamu di belakang waktu itu, tapi aku juga nggak suka kamu di-judge seenaknya gitu,". "...". "Waktu terakhir main ke sana sih guru-guru juga pada bilang, 'Antania sekarang berubah banget setelah masuk HI,',". "..." * * * Selasa, 5 Desember 2017 "Aku pergi dulu ya ke rumah Ayu!" sahutku dari pintu belakang. "Aku ambil sendiri uang sakunya,". Ini adalah minggu-minggu ujian semester. Aku dan Ayu memutuskan untuk sering belajar bareng. Aku bukan tipikal orang yang biasa belajar di rumah, sih. Beuh, yang ada malah tidur aku kalau di rumah. Meja belajar sama kasur jaraknya cuma dua langkah. Aku menatap kontak WhatsApp-ku sebelum berangkat dan tertegun melihat beberapa kontak yang hilang dari daftar, lalu memutuskan kembali ke kamar sebentar untuk mengecek nomor yang perlu ditambahkan. Ah, aku baru saja ganti HP dan nomornya y...