Langsung ke konten utama

My Ramadhan

Puasa tahun ini ada yang sedikit berbeda. Pertama, aku nggak bolak-balik ke Solo buat sekolah (dan aku kangen momen ini pake banget). Kedua, ini puasa pertama tanpa chat-chat dari Yusuf Habibi (dan rasanya suwung banget, yakin, aku kangen). 

Ini kali pertama di bulan Ramadhan aku full di rumah tanpa harus pergi ke sekolah. Jadi, waktu luangku lebih banyak. Akhir-akhir ini aku sedang latihan motor, sih. Mr. Izz benar, mengerikan sekali kalau sampai kuliah aku belum bisa bawa motor sendiri. Kabar baiknya, kemajuanku banyak ketimbang dulu-dulu. Mungkin ini karena aku lebih nyadar kalo harusnya aku nggak boleh kebut-kebutan dulu atau mungkin ini efek jarang main game balapan juga kali ya. Plus, aku lebih berani menghadapi jalanan. Aku dulu gampang kaget kalo ada mobil mau belok atau disalip dari kanan.

Aku sebenarnya merindukan Ramadhan di Solo, sih. Haha. I'tikaf di Masjid Nurul Huda UNS, beli takjil di pinggir jalan, sahur rame-rame, buka bersama, dan lain sebagainya. Jarang menemukan tempat ideal untuk i'tikaf di sini dan orangtuaku nggak mengijinkan juga. Ya sudahlah.

Ramadhan tahun lalu, hmm...kalo bisa flashback, di tahun ketigaku di SMA kalo nggak salah ini pertama kalinya aku berkenalan dengan Mr. Dimas, Miss Intan, Miss Dhiyas, dan guru-guru baru lain. Ah, iya ya. Pas hari Jumat setelah tausiyah dari Mrs. Farida, aku ketemu Mr. Izz, terus beliau bilang, "Coba deh, sekali-kali ngobrol sama Mr. Dimas. Dia kayaknya gila juga,"

Hahaha. Satu hal spesial sebenarnya aku tetap senang Ramadhan ini bisa kuhabiskan dengan orang-orang yang kucintai dan terdekat. Meski, kuakui aku sedang ada masalah dengan beberapa orang juga. Tidak apa, aku akan menyelesaikannya.

Hm, gimana kalau tulis pesan juga?

For Mr. Izz, kalau Anda suatu saat baca blog ini, Sir, I would never stop to say thank you meski yang dapat ucapan terima kasih bosan sekali. Aku baru keluar SMA dan sudah banyak hal yang kulihat. Ingat tidak pertanyaanku tentang Tuhan? Aku tidak terlalu yakin, tapi suatu saat aku akan menemukan jawabannya sendiri. Mr. Izz benar, mungkin apa yang sering kita obrolkan beberapa di antaranya belum dapat kucerna, tetapi suatu saat aku akan mengerti. Jika akhirnya aku mengerti semuanya, aku akan segera cerita apa-apa yang kulihat. Arasseo? Akan ada waktu seperti dulu kan, di mana kita bisa duduk-duduk santai dan ngobrol lagi?

For Mr. Dimas, kalau baca tulisan ini, maafkan aku dan ayo kita selesaikan semuanya. Aku hanya berusaha mengerti kalau semua orang pasti sibuk, ucapanku tidak bermaksud meremehkan. Aku hanya ingin bilang, aku mengerti kalau tidak bisa sesegera mungkin kuterima. Sebenarnya, Sir, ketimbang menerima surat, aku lebih suka kita ngobrol seperti tahun lalu. Lebih seru dan menyenangkan, kan? Terima kasih sudah berusaha menulis untukku, mungkin ini bukan keberuntunganku sehingga aku belum bisa membacanya. Nggak ada yang salah, bukan rejekiku mungkin kalo suratnya hilang. Jadi, bisa kan kita ngobrol seperti biasanya?

For Mr. Ajung, aku selalu bilang ke Ummi kalo Mr. Ajung berubah banyak, mungkin sejak dia pergi atau sejak kita lulus, aku kurang yakin. But, thanks for all the things we've passed and done. Ada banyak cara untuk menjalin silaturahmi, kan? Mungkin ada suatu waktu aku bisa ke Solo lagi, ke sekolah lagi. Tahu nggak sih Sir, aku senang sekali bisa ngobrol lebih akrab sama Mr, Ajung. As a student, I always want to say thanks for your time to do anything for us. Meski kadang kita merepotkan, nakal, dan jadi pikiran. Mohon doanya untuk kami semua. 

For Miss Intan, di mana pun aku kuliah nanti, mau jadi calon dubes atau calon guru, passion-ku tetap mengajar. Jadi, mau lulus dengan gelar apapun, cita-cita pertama yang ingin kuwujudkan tetap mengajar dan buka sekolah. Aku sudah bicarakan dengan Mr. Izz seperti apa sekolah yang akan kudirikan, soalnya Mr. Izz benar-benar serius dengan rencanaku sih, jadi beliau kuberitahu grand design calon sekolahku, deh. Aku sudah membayangkan bagaimana sistemnya dan seperti apa kurikulum dan guru-gurunya. Memang tidak mudah sih, tapi aku akan berusaha. Sekolahku akan berbeda dengan sekolah-sekolah lain, jadi...doakan saja ya?

Good night, besok kan wedding anniversary mission!




Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...