Langsung ke konten utama

Moody

Aku ingat julukan yang secara tidak langsung diberikan Mr. Izz padaku: mood swinger. "Kalau bisa digambarkan, mood kamu itu persis seperti gelombang. Naik turun," ujar Mr. Izz seraya menggambar gelombang di udara saat itu. "Kamu nggak bisa membohongi orang lain tentang apa yang kamu rasain, kamu jujur soal itu. Beda dengan yang lain,"

Hari ini lagi-lagi aku mengalaminya. Tadi sore saat latihan motor, mood-ku benar-benar bagus sehingga aku bisa fokus ke jalan. Bahkan ketika di Moto GP Assen tadi Valentino Rossi jatuh, aku masih baik-baik saja (padahal aku langsung bad mood biasanya kalau Rossi jatuh). Setelah Moto GP itulah kurasakan mood-ku memburuk, jadi aku pamitan ke Mama Papa, bilang aku tidur duluan. "Aku sedih sekali," kataku untuk memberitahu alasanku tidur duluan.

Kalau bukan karena Rossi, lalu? Hubunganku dengan salah satu orang terdekatku sedang tidak baik. Sepertinya orang itu benar-benar marah besar. Padahal sejak sore aku berusaha minta maaf dengan ide bagus yang tiba-tiba muncul. Aku ingat orang itu pernah mengirim lagu instrumental favoritnya, jadi aku mainkan saja untuk minta maaf. Orang itu bilang dia tidak akan bicara denganku baik lisan maupun tulisan, jadi aku mainkan musik saja. Kurasa jika lisan dan tulisan tidak bisa, musik bisa menyampaikannya. Permainan pianoku masih parah, jadi aku hanya bisa memainkan bagian awalnya saja dan kuharap itu cukup. Ternyata tidak. Pesanku hanya dibaca, tidak dibalas. Di-read doang. Padahal setelah rekaman piano itu, aku menulis pesan bahwa aku ingin kami seperti biasanya, bercanda dan ngobrol biasa.

Sore itu mood-ku bagus karena kupikir sebentar lagi semuanya selesai dan kembali seperti semula, ternyata yang terjadi sebaliknya. Malamnya ketika menonton Moto GP, aku menyadari pesanku hanya dibaca.

Oke, aku berusaha berpikir positif di sini. Mungkin sibuk. Mungkin saking sibuknya orang itu hanya membaca pesanku saja. Namun, semakin dipikir semakin sedih. Musik...mungkin tidak bisa menyampaikan semuanya, ya? Lagian permainan pianoku parah. Mungkin yang ada malah kesal dengan permainanku dibanding senang. 

Sebelum tidur sebenarnya aku berusaha menghilangkan mood buruk ini dengan melakukan hal-hal yang kusukai. Aku mencoba main game favoritku, Crazy Taxy 3, tapi yang ada aku kalah terus. Aku tahu saat mood-ku memburuk, aku tidak bisa bermain game dengan baik. 

Sebenarnya, aku lebih takut sebelum tanggal 28 Juni kami belum bisa baikan seperti biasa. Aku juga ingin dia mendapat kabar bahagiaku di SBMPTN. Aku ingin orang itu juga tahu kabar baikku, keterima di HI, hukum, atau malah jadi calon guru bahasa Inggris.

Baikan, yuk?



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...