Langsung ke konten utama

Training Center OSN IPS 2012

Hari ini sepertinya edisi flashback. Setelah jalan-jalan tadi, malam ini aku iseng buka grup lama. Entah kenapa yang kubuka adalah grup training center OSN IPS 2012. 

Kangen ya. Aku udah hampir lost contact sama mereka semua kalau aja Naufal nggak tiba-tiba chat aku dan nanya kabar. Aigoo...dia udah kuliah sama Aisya! Sial dia ninggalin aja! Haha, nggak apa, hidup ini proses. Selain Naufal, selama di SMA aku terakhir mengontak Ardan karena kemarin ujian sekolah di tempatku menginduk ke sekolahnya, SMA N 1 Surakarta. Terus kelas dua dulu aku masih sering kontakan dengan Bang Anton. 

Haha, aku kangen sama mereka semua. Kangen banget. Andai aja mereka baca tulisan di blog ini, I just want to know that I really want to contact you, guys.

Well, grup itu membuatku teringat kenakalan yang dulu kuperbuat selama masa pelatihan OSN. Duduk paling belakang, paling cerewet, dan paling sering membuat keributan (tapi kalau dosen nggak ada kok, kalau ada ya paling bercandaan). Grup yang biasanya duduk belakang dari hari ketiga pelatihan sampai hari terakhir adalah yang biasanya anak rame, kecuali Wisnu (anak ini keterlaluan kalem). Sisanya, terutama aku dan Naufal, pasti membuat keributan. Aku yang mudah kepancing kalau dibercandain (kepancing buat ngatain balik maksudnya, hoho) dan Naufal yang asli jahil. Dia my partner in crime selama di sana.
 
Ada banyak cerita bareng mereka dan yang jelas, kalau dikenang, angkatan OSN IPS 2012 Jateng adalah yang paling berisik. Di bus yang memberangkatkan kami ke Donohudan, anak IPS yang membuat keributan. Haha. Menyenangkan sekali. Bersama mereka bahkan aku bisa lupa bahwa aku butuh me time. Aku beneran seperti nggak butuh waktu sendiri saat bersama mereka. Aku maunya ngumpul terus. Aku menemukan sisi lainku saat bersama mereka. Kapan Antania bisa jadi anak geng? Yaa...kalau udah bareng mereka kayak dulu, aku bisa jadi anak geng.
 
Banyak juga yang menjadi momen favorit bareng mereka. Misal, ketika sarapan bareng di hari terakhir pelatihan di depan kamar Hartono dan Ardan, semua tertawa terpingkal-pingkal ketika aku melempar lelucon saat Hartono menggalau karena salah ambil kecap (harusnya kecap manis, malah kecap pedas). Aku membayangkan dia lalu gantung diri sambil upload status FB, 'Aku gantung diri nih', 'Aku udah sekarat', 'Selamat tinggal dunia'. Atau ketika lomba makan bareng Naufal, aku kalah telak dan perutku sakit, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Atau ketika belajar bareng mereka sampai tengah malam, semua malah terpingkal-pingkal ketika aku bertanya, "Eh, kok iklan rokok nggak nunjukin kalau dia ngisep rokok, sih?" dan Naufal menjawabnya dengan lelucon. Atau ketika Katrin kejar-kejaran sama Naufal (mereka kayak Tom and Jerry, sih).
 
Apa kabar ya kalian di tempat masing-masing? Just want to know that I miss you all!
 

 
 
 
 
 
 
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
 
 
This post is dedicated to:
1. Muhammad Naufal Widyatmaka (Naufal)
2. Ardan Cahya Widayat (Ardan)
3. Hartono
4. Heelda Nur Choirunnisa (Heelda)
5. Danesti Aulia Hastin (Hastin)
6. Aly Muhammad Azmi (Azmi)
7. Lulut Nugroho (Lulut)
8. Satria Yudha Adhitama (Yudha)
9. Wisnu Perkasa (Wisnu)
10. Antonius Widhi Pramudianto (Bang Anton)
11. Cheng Katrin Cornelia Candra (Katrin)
12. Natalia Karin (Karin)
13. Fatikha Faradina (Dina)
14. Baeti Romaniah (Baeti)
15. Zithny Ilman Prihastopo (Zithny)
16. Defiska Andang Nugroho (Defiska)
17. Aisya Husnul Khatimah (Aisya)
18. Azza Aulia (Azza)
19. Jeky Muhammad Fauzi (Bang Jeky)
20. Angela Karina Susanto (Karina)
21. M. Syukron Ma'mun (Syukron)
22. Aditya Risqiantama (Anta)   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...