Langsung ke konten utama

Nostalgia I: Semua Memang Tak Lagi Sama, Tetapi Selalu Indah Dikenang



Welcome to SMA ABBS Surakarta. Where all of this wonderful adventures happen in my life.

Ya ampun, nggak kerasa banget udah mau lulus. Nggak kerasa banget, bisa dibilang begitu. Masih terbayang, dulu pertama kali aku ke Surakarta buat naruh barang-barang di asrama sekalian lihat sekolahnya, percaya nggak percaya, aku kaget gedungnya masih numpang. Mama-Papa yang survey waktu itu udah bilang sih, gedungnya belum jadi. But, well...never mind. Pertama kali aku benar-benar mau dan nekad memilih sendiri (ortu waktu itu nggak setuju emang aku ke sana, tapi aku maksa banget sampai nangis) ke mana aku melanjutkan sekolah, ya pas memilih ABBS. Regret it? Not at all. Bahkan bersyukur sekali.

Still, I remember, pas pertama kali melewati gedung sekolah yang belum jadi itu, aku berisik banget. Haha...ini bagian diriku yang nggak pernah berubah sejak kecil: bertanya banyak kalau ke tempat baru.

"Sekolahnya dekat asrama, ya? Jadi ntar kalau mau bolos tinggal lompat, dong? Wah, ntar kalau PR-ku ketinggalan, aku bisa langsung balik ke asrama! Yes!" kataku kala itu, energetically. Padahal, buat kalimat terakhir, ekspektasi dan realita beda banget. PR ketinggalan di asrama? Ya udah nasib, tunggu pulang sekolah baru bisa ngumpulin. Nggak boleh balik ke asrama buat ngambil barang yang ketinggalan, gerbang dikunci musyrifah, haha.

Gedung itu...ya ampun, banyak cerita. Sekali diselimuti abu Gunung Kelud tanggal 14 Februari 2013, bikin gedung itu semacam tempat pengungsian buat anak-anak yang terjebak belum bisa pulang (atau sebenarnya lebih tepat jika disebut malas pulang, enakan WiFi-an di sekolah, haha). Sekali kebanjiran tanggal 21 April 2014, waktu Kali Pepe meluap. That time, guru-guru sampai datang semua buat bersih-bersih. Beberapa anak juga ada yang datang bantuin di sekolah, beberapa anak ikhwan bantuin keluarganya Baghas Affrizar yang rumahnya dekat sekolah (dan daerah banjirnya lebih parah). Sisanya adalah kenangan bersama mereka semua, teman-teman, guru-guru, dan adik-adik kelas yang, jelas, banyak banget warnanya.

Sekian teman hilir-mudik masuk-keluar mengisi angkatan pertama. Semua yang meninggalkan kami pergi karena pindah sekolah, kecuali satu orang, yang bersama kami sampai akhir hayatnya. Kalau bisa diingat, anak ABBS generasi pertama yang terakhir kali masuk itu Farrel dan yang terakhir kali "keluar" adalah Yusuf Habibi rahimahullah. Sekian guru juga sama-sama mutasi keluar-masuk. Guru yang terakhir kali masuk itu Miss Afi, yang terakhir keluar Mrs. Tia (dan keluarnya aja nungguin angkatan satu selesai dulu, terharu banget). Tentu semua jadi bagian dari kami, bukan?

The most exciting...mungkin teman-teman boarding karena ketemunya 24 jam (sebenernya nggak sampai sih, haha) dan selalu bareng-bareng. Yakin deh, nggak bakal nyesel jadi anak boarding kalau barengannya sama mereka, 20 teman-teman yang kepribadiannya macam-macam, yang terbagi atas 3 kamar, tapi bisa kompak satu sama lain. Kamar paling kompak? Karena subjektif (maaf, maaf, maaf) pinginnya aku bilang kamarku sendiri yang paling kompak: kamar 6, well, abis kita punya jadwal maskeran bareng, haha dan kebetulan emang yang masuk anak ramai semua (plus satu anak aneh yang nggak pernah ngaca dirinya aneh: aku). Sisanya, kami selalu menghabiskan waktu ngumpul, ngobrol, masak, all together with those 20 girls. Asiknya lagi, selama UN, ada aja makanan yang dikirim buat anak boarding. Gendut deh, udah. Haha.

Pingin deh, andai saja nanti akulah yang paling mencar di antara semuanya (kayaknya iya, soalnya aku nggak lagi melihat ada teman lain yang milih jurusan hubungan internasional T_T) pingin motret sebuah kertas, tulisannya Missing Every Moments I Have With YOU: ABBS First Generation pas lagi traveling ke mana gitu. Seriously, berat rasanya berpisah. Berat rasanya meninggalkan sekolah. But, life goes on.

Thanks for every colors you gave me, ABBS. So grateful to have you in my memory!


 


Sincerely yours, 
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...