Ada dua buku yang selalu kubawa ke mana saja aku pergi. Pertama, buku putih bergambar Arc du Triomphe yang terletak di Paris, Perancis. Kedua, buku cokelat bergambar double-decker bus yang melintasi Big Ben dan House of Parliament di London, Inggris. Pokoknya, kedua buku itu harus bersamaku agar ada teman seperjalanan yang bisa kuajak mengingat dan merenung.
Alasannya? Di buku cokelat, ada banyak tulisan-tulisan yang tidak bosan kubaca. Masa-masa aku mengenal politik dan pemerintahan lebih dekat daripada yang sering kutonton di berita televisi. Tulisanku itu membawa kepada satu cita-cita baru yang ingin kuperjuangkan: menjadi diplomat.
Haha...mengingat ini, dulu ketika aku ingin mendaftar beasiswa Mitsui-Bussan, aku bertanya kepada banyak orang apa pantas aku menjadi seorang teknisi informatika karena yang IPA nggak bisa mendaftar untuk jurusan IPS. Miss Lukluk bilang, bisa saja asal aku nggak malas. Nilai TKJ-ku lumayan kalau dilihat di rapor dan aku pernah mengerjakan project sendirian, selesai dalam sebulan (setelah ngomel-ngomel sendiri of course pas ngerjain script PHP, susah banget dan nggak segera selesai). Mr. Izz, well, beliau menganalisaku sebagai seorang guru. Mungkin bisa kalau kamu mau, begitu kata beliau. Namun, setelah dilihat lagi mungkin aku lebih bagus dalam hubungan internasional dan bahasa Inggris, kelebihanku di dua bidang itu. Mungkin, batinku, kalau mepet sedikit, ilmu politik dan pemerintahan juga bagus. Mr. Dimas yang paling tidak setuju. Nonsense, begitu katanya, karena imejku dalam bayangan beliau menjadi diplomat lebih bagus daripada jadi teknisi informatika. Nggak cocok sama sekali. "Lebih baik kamu menunggu sebentar biar bisa daftar Turki, itu lebih baik daripada kamu masuk jurusan yang nggak kamu banget," kata beliau.
Yang paling spesial itu ada di buku putih. Di buku itu, ada tanda tangannya Darwis Tere-Liye, penulis favoritku, ketika aku menghadiri seminarnya di Klaten bareng teman-teman. Sebenarnya bukan itu spesialnya, sih. Spesialnya, letak tanda tangan itu ada di tulisan berjudul 'My 100 Dreams'. List 100 mimpiku di masa depan.
Ada sejarahnya juga kenapa list ini lahir. Pernah lihat videonya Si Pembuat Jejak? Itu lho, anak IPB yang bisa lanjut kuliah di Jepang. Aku ingin mencoba saja sih, menulis 100 mimpi. Itu pertamanya. Lama-lama aku yakin, 10 tahun ke depan akan banyak coretan yang kubuat karena mimpiku terwujud satu demi satu. Lagipula, bermimpi itu asyik dan ajaib. Asyik, karena kita bebas memilih mimpi mana yang kita banget. Ajaib, karena jika mimpi itu tidak terwujud, kita bisa memiliki mimpi yang lain. Well, aku juga ingat perasaan senangku ketika mencoret satu demi satu list berjudul '87 Places I Want to Go' di buku cokelatku. Aku menulis 87 tempat yang ingin kukunjungi dan satu demi satu tercoret. Ada perasaan puas, senang, dan lega ketika mencoretnya. Campuran perasaan yang ajaib bagiku.
Sebenarnya ada lebih dari campuran perasaan itu ketika menulis list 'My 100 Dreams'. Aku memimpikan perubahan di semua tempat. Aku berharap akan dunia yang lebih baik, toleran, dan damai, that's the point. Aku ingin segera melaksanakannya.
Are you ready to be the sketcher?
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Semoga meraih 100 mimpimu itu ya an
BalasHapus