Langsung ke konten utama

A Simple Trip

Waktu terasa semakin berlalu

Hari ini untuk pertama kalinya setelah tiba di Ungaran, aku jalan-jalan. Sebenarnya hanya ingin ke perpustakaan kota doang di dekat Alun-Alun Ungaran untuk menyiapkan SBMPTN. Namun, akhirnya aku ke tempat-tempat lain dengan angkutan umum. Maklum, sampai kelas 3 SMA aku belum bisa naik motor. Parah emang, nggak heran Mr. Izz sering ngeledek gara-gara ini.

Melewati tempat-tempat yang dulu punya memori, entah masa SD atau SMP, rasanya gimana gitu. Adem, sekaligus membuatku melepas semua perasaan sedih ketika aku pertama kali pulang ke rumah (yah, berarti selama ini aku hanya butuh hiburan ya). Waktu melewati lapangan dekat Gedung Kuning, aku teringat kenangan SD dulu. Biasanya kami berolahraga di situ karena lapangan sekolah sempit. Bau kotoran kelelawar tercium di mana-mana dan, by the way, gedungnya horor karena bekas bangunan Belanda. Dulu di sana aku pernah main sepak bola melawan anak-anak cowok. Tim cewek melawan tim cowok. Nggak imbang dan, well, semua tahu gimana kalau cewek main sepak bola, bakalan jerit-jerit. Dulu di sana juga aku pernah di-bully satu kelas karena berteman dengan anak yang lagi dijauhi (padahal sumpah aku nggak tahu dia lagi dijauhin karena kejadian itu pas aku lagi persiapan lomba aksara jawa). Dulu di sana aku pernah bermain trek-trekkan sama anak-anak cowok dan lagi-lagi aku cewek sendiri. Dulu di sana aku pernah dikejar anjing yang dijahili salah satu anak cowok kelasku, usil memang dia.

Ah, masa-masa tomboy, batinku ketika melewati lapangan itu.

Apa kabar ya teman-teman cowok di SD yang dulu jadi partner in crime? Shofa, Alif, dan Gagas (terkadang plus Ivan kalau jahilnya lagi nggak kebangetan), partner in crime yang biasanya sering mengajakku bermain tebak-tebakkan, memanggilku dengan sebutan 'pakar', merasa tersaingi kalau hafalan tahfidz-ku lebih banyak dibanding mereka (khusus Alif dan Gagas), sering kutertawakan karena makan biskuit Better pakai saus sambal bekas makan ayam goreng tepung dan menulis singkatan SIM sebagai Surat Izin Menikah ketika UTS di kelas 5 SD (khusus Gagas).

Apa kabar ya Ayu dan Mbak Vanny, dua sahabatku di SD dulu? Mbak Vanny yang dulu pernah kujauhi hanya karena menginjak kakiku tanpa bilang maaf (konyol banget ya), meneleponku lama sekali pakai telepon rumah dan menjadi satu-satunya teman yang kuhafal nomor teleponnya, temanku bergosip dan jajan ke kantin (hey, dulu aku kalau ke kantin bareng teman, lho), teman yang keluarganya mengenalku dan keluargaku mengenalnya dengan baik. Lalu Ayu yang biasanya menjadi teman ngobrolku pagi hari di balkon dekat kelas 6, orang yang pernah menjauhiku karena aku jatuh cinta sama cowok yang ditaksirnya dan aku dianggap saingan berat (haha), teman curhatku di balkon, teman nongkrongku di balkon.

Semua kenangan SD saat itu melintas bak gulungan rol film. Masa anak-anak, masa tomboy, masa jatuh cinta pada pandangan pertama. Semua terjadi di SD dan entah kenapa itu memasuki ingatanku. Aku kangen masa-masa itu jadinya.

Ketika angkot melewati gedung SMP-ku, terutama ketika guru SMP-ku naik ke angkot yang kutumpangi, kenangan SMP semua tumpah ruah. Ah, dulu di sana aku juga punya kenangan menyenangkan. Kenangan main game Counter Strike sama teman-teman cowok di kelas 2 (sialnya aku selalu mati duluan meski pernah menembak salah satu dari mereka), kenangan main game Moto GP sama teman-teman cowok di LBMS sampai maghrib (dan membuat Mama Papa marah-marah di rumah, haha), kenangan membuat geng bareng adik kelas kesayangan yang sama-sama suka Jepang dan pergi ke festival Jepang bersama, kenangan di klub musik jazz dengan Moritz (native speaker dari Perancis), kenangan nonton film horor bareng teman-teman sekelas, kenangan menerima surat dari SMA ABBS (wuah), dan lain sebagainya. Huft, kangen sekali.

"Kamu nggak bawa nasi lagi?" goda guru SMP-ku itu ketika hampir sampai di rumah.

Aku menggeleng malu-malu.

Ya ampun, benar sekali. Dulu ketika jam tambahan mapel UN di siang hari, aku selalu pulang ke rumah terlebih dahulu biar bisa bawa nasi rames mangut untuk bekal siang. Sekali pernah aku membagi-bagikan nasi rames isi sambel teri dan apaa...gitu lauknya ke guru-guru UN. Oh iya ya, benar juga aku pernah melakukannya. Haha, padahal sebenarnya ketika ambil nasi rames mangut itu aku juga habis makan nasi saat istirahat, tetapi tetap saja lapar karena stres menghadapi UN. Makan sebanyak-banyaknya adalah pelampiasan stres terbaik. Lapar? Tambah dua atau tiga piring. Pingin ngemil? Rebus telur ayam kampung, buat telur ceplok, atau masak mie goreng. Setelah itu berat badanku naik tujuh kilo. Keren. Seragam SMP-ku langsung nggak muat. Untung udah mau lulus. Di buku kenangan SMP aku gendut banget gara-gara itu, asli. Teman-teman SMA ketika melihat foto-foto buku kenangan SMP nggak ada yang percaya melihat bentukku dulu. Sekarang aku kurus banget.

Apa kabar ya Channa? Anak itu biasanya memanggilku dengan sebutan nee-chan (kakak). Sama-sama suka nonton anime. Sama-sama suka ngeliat cosplay. Dulu kami biasanya ke festival bareng, curhat ini itu, nonton anime, dan lain sebagainya (padahal pas masa-masa kayak gini aku udah kelas 3, mau UN, gila nggak sih malah ngeloyor ke mana-mana).

Oh ya, dulu saat aku kelas 3 SMP, kami membuat geng yang terdiri atas aku, dia, Enjang (adik kelasku juga), dan Rifqi (temanku dari SD sampai SMP). Biasanya kami ke rumah Enjang buat masak. Pernah masak spagheti, pernah masak ini dan itu, pokoknya seru sekali. Pernah ketika main ke luar rumah Enjang, sepatuku di taruh di atas batu kali sama Rifqi (sialan dia, sok kalem tapi jahil juga) dan akhirnya aku marah-marah mengejarnya. Pernah ketika Rifqi ulang tahun, kami saling colek dengan krim. Wuah, seru sekali. Setelah itu pulangnya maghrib (dan aku diomelin lagi, haha). Rumah Enjang saat itu sudah kami anggap seperti rumah sendiri. And, semua kesenangan itu berakhir ketika aku lulus dan pindah ke Solo.

Hari ini perjalanannya singkat, tetapi banyak flashback yang terjadi. Haha. Somehow, entah kenapa semua itu membuatku semakin melepaskan rasa sedihku sejak pulang ke rumah, semakin membuatku kangen rumah, semakin membuatku kangen Solo, semakin membuatku kangen keluargaku. Aku senang sekali.




Mitarashi Hana   


    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...