Langsung ke konten utama

Cheers! Have Fun!

Have fun ala Anissa Antania Hanjani?

Haha...jangan salah, ya. Serius-serius gini juga bisa kok diajak have fun. Bukti nyatanya, aku masih rela aja dijadiin bahan guyonan sama Mr. Izz. 

Have fun ala Antania itu simpel. Di kamar dengerin musik. Di kamar nulis. Di kamar buka laptop. Di kamar main keyboard (bukan keyboard komputer, itu...alat musik keyboard). Udah itu. Nggak seru? Aku biasanya lebih seru kalau lagi bareng anak boarding, tapi mereka udah balik ke asal mereka. Hiks, kangen.

Aku belum mulai belajar SBMPTN. Dulu selama semester satu udah sempat nyicil, makanya sekarang bisa bernapas agak lega karena materinya tinggal sedikit. Seenggaknya cukup kalau disambi ngerjain project yang lagi numpuk. Huhu. 

List to do:

1. Bikin artikel buat biografinya Yusuf Habibi, deadline 16 April.
2. Bikin buku motivasi remaja bareng Mr. Dimas, deadline Mei.

That's all. Writing, writing, writing, opening Facebook. Refreshing dikit kadang dengan main keyboard. Setelah keyboard ditaruh di kamarku sendiri, aku jadi punya lebih banyak kesempatan meneruskan latihan piano dasar yang dulu udah pernah dapat pas SMP (diajarin teman, hehe). Baru-baru ini latihan instrumental berjudul River Flows In You dari Yiruma dengan ngeliat video tutorialnya di YouTube. Well, masih easy tutorial karena baru aja latihan dasarnya piano. Dari kecil soalnya main keyboard which musik pengiringnya udah ada, tinggal milih dan menyesuaikan chord dan nada.
 
Sebenarnya kalau ada dan bisa, pingin banget latihan main gitar. Terkesan cool gimana gitu kalau lihat cewek gitaran (cowok mah biasa). Dulu sebenarnya udah diajarin, tapi masih semrawut gimana gitu. Sama dulu kayak waktu pertama kali diajarin main biola, langsung nyerah soalnya kalau aku yang gesek jadi bising banget. T_T.
 
Kalau ada waktu lagi pingin ke Museum Ronggowarsito. Entah kenapa meski Ummi bilang museumnya jelek, aku kangen aja pingin ke sana. Kali aja tahu-tahu pas ke sana kayak aku dulu pas ke Benteng Vredeburg di Yogyakarta, dulunya jelek jadi wow banget. Siapa sih yang nggak senang kalau museum jadi interaktif gitu?
 
Okay, gotta go.
 
 
 
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...