Langsung ke konten utama

4 Bulan, 1 Minggu, dan 4 Hari

Every time, I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around...
I miss the time you were around...
Sebenarnya, ketika anak boarding memutar lagunya Maher Zain yang So Soon, aku selalu minta ganti. Begitu pun kalau ada yang nyanyi, aku suruh berhenti. Hah, tapi begitu akhirnya duduk di kamarku sendiri, menulis, lagu inilah yang menemaniku. Hey, hey, niatnya bukan baper-baperan. Iya, mungkin aku sekarang yang paling gampang nangis, tetapi entah kenapa semakin aku mendengarkan lagu ini, aku semakin kuat. Untuk melepaskan.
Rasanya seperti kemarin ketika pertama kali bertemu dengannya, eh tidak, lebih tepatnya dua orang itu. Rifai dan Yusuf Habibi sejak OASIS sudah menempel terus dan akhirnya dengan mereka aku dipertemukan. Lewat tugas kenalan. Akhirnya akrab. 

Rasanya seperti baru saja merasakan sakit kepalaku karena semalaman menangis ketika mengetahui Yusuf telah berpulang.

Tanggal 6 April 2016, bertepatan dengan berakhirnya UN PBT, akhirnya aku bisa melepas rindu menjenguk pusaranya di Kalijambe. Perjalanannya lama sekali, tetapi terbayar dengan pemandangan indah di kanan-kiri jalan. Teduh dan menyenangkan. Mungkin ini alasannya dia dimakamkan di sini, agar ditemani pemandangan indah ini.

Aku tertawa sendiri setiap mengingat momen di mana kami selalu bertengkar dan ejek-mengejek. Dulu karena berantem berkepanjangan sampai lomba debat, Miss Wochy dan Mr. Izz sepakat tidak menjadikan kami satu tim daripada nggak solid. Nggak juga sebenarnya, meski dia saat itu tetap bertanya apa aku masih marah, yep, aku memaafkannya tanpa kata, dalam diam dan canda. Setidaknya kuharap dia tahu, kalau aku mulai mau dibercandain atau ngajak bercanda, semua sudah baik-baik saja di antara kami.
Kalau sekarang aku bisa tertawa dan bercanda seperti biasanya, itu bukan berarti karena aku telah menemukan penggantinya. Tidak, dia tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Dia punya ruang sendiri dalam memoriku. Aku hanya menyiapkan ruangan baru di ingatanku untuk semua orang, siapa saja, yang mulai dekat denganku. Aku punya waktu sendiri ketika ingin mengenangnya.
Hah, dan saat ini waktunya. Aku kangen.
Dia tahu tidak ya, bahwa aku tidak pernah benar-benar membencinya? Bahwa sebenarnya aku merasa bersalah ketika suatu hari aku berdoa karena kesal, "Ya Allah, aku ingin dia menghilang dari hidupku!"? Doa itu sungguhan terkabul. Sungguh-sungguh terjadi. Namun, setelah itu aku mencarinya. Berusaha menemukan sosoknya lagi yang biasanya sok-sokan memanggilku 'Bebek' atau dengan gayanya menghiburku. Dan hasilnya nihil.
"Hey, kamu. Aku sudah hampir lulus SMA. Seharusnya kamu juga, sih. Jika seandainya waktu mengijikanmu bersama kami semua lebih lama, kamu akan merasakan haru biru ketika salam-salaman sama guru dan teman-teman. Menangis. Well, kamu harusnya lihat Mr. Ajung kemarin pas doa bersama,
"Ini sudah berlalu 4 bulan 1 minggu dan 4 hari setelah kamu pergi. Apa kabar? Aku masih sama, merindukanmu. Hanya doa yang bisa kukirimkan untukmu. Semoga kamu bahagia di mana saja kamu berada sekarang dan tetaplah mengingatku. Just hope that I will become your memory, sebagaimana saat ini aku masih memberimu ruang untuk tetap berada di dalam hidupku. Sampai kapan pun,
"Thanks, for becoming my best friend!"

Jadi penampil pidato kedua pas English Camp. Haha...dulu penampil pertama Citra, kedua dia, ketiga aku.
What a precious moment!



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...