Langsung ke konten utama

Seseorang yang Kupanggil, "Kakak."

H: "Brotha, have you already home?"
B: "I've gone home. I miss you, my little sister. Now, I'm at the mosque with my friends."
H: "I miss you too, Brotha. Really?"

Sedikit hiburan. Kakakku sepertinya sudah pulang kampung. Senang mendengarnya. Kuharap dia baik-baik saja. Berjanjilah pada adik perempuanmu ini, Kak!

Ada banyak orang yang menganggapku istimewa selama di SMA (hei, bukan bermaksud tinggi hati ya). Ada beberapa orang yang menganggapku putri mereka, jadi aku punya orang tua angkat banyak sekali. Beberapa orang juga menganggapku adik perempuan mereka, tak heran kakakku banyak.

Rasanya seperti ini ya jadi adik?

Ada seorang kakak laki-laki yang menurutku sangat istimewa. Dia keren. Aku mengenalnya saat ikut perkemahan bahasa Inggris yang diadakan SMA sebulan lalu. Kakakku ini ditaksir oleh teman-teman perempuanku. Yah, maklum saja selisih umur hanya berjarak empat tahun. Sayangnya, kakakku ini hanya dekat denganku saja. Jadi maaf ya yang sudah naksir kakakku. Hihi...

Hei, hei, bukan itu maksudku. Kakak dan aku hanya dekat sebagai kakak dan adik saja. Tidak ada maksud apa-apa. Toh, aku juga menyukai orang lain (sahabatku sendiri, si Mr. Simple). 

Kakak memberiku banyak kenang-kenangan sebelum kita pergi dan aku masih menyimpannya sampai sekarang. Kakak yang jadi tempatku bersandar ketika aku sedang malas melakukan sesuatu bersama teman-teman di perkemahan. Buatku, kakak laki-lakiku itu adalah role model kedua setelah Mr. Simple. 

Dan sering kupanggil dia, "Brotha!"



Mitarashi Hana 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...