Langsung ke konten utama

Hari-Hari Tanpa Jadwal

Monday, July 21st 2014

Getting bored...
Missing you again...
But try to hide it...

Besok di sekolah, kau tidak akan ada di sana untuk menyapaku, menjahiliku, atau sekedar berbasa-basi denganku. Namun bayanganmu selalu ada di sana, membuatku diam-diam menyimpan rasa kesedihan ini sendirian. Seandainya masih ada kamu di sana, setidaknya liburan akan sedikit menyenangkan karena aku tahu ketika aku kembali ke sekolah atau lewat di depan dormitory, siapa tahu kau akan meneriakkan namaku hingga mata kita bertemu.

But you're not there, you are too far away to be imagine...
Deeply inside, I'm getting hurt to lose you...
I've never felt something like this before, until you come and now...going so far away...

Sahabat kita memang tidak banyak membantuku. Sesekali saja dia hanya ingin membantu. Sudah kubilang berapa kali how special you are sampai membuatku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Aku tahu, kau memberikan sensasi luar biasa dalam kehidupan sekolahku. Kau yang membuat setiap hari terasa berbeda. Bukan berarti aku mengalami ketergantungan akan sosokmu, aku hanya merasakan...ketika kau pergi, akan ada perbedaan besar dalam kehidupanku. Akan ada banyak perubahan dalam kehidupanku.

But it will never change you in my heart...

Tidak akan ada yang bisa meniru kejahilan-kejahilanmu padaku. Tidak ada yang bisa. Kau terlalu unik untuk digambarkan, sehingga akan sangat sulit mencari siapa yang mirip denganmu.

No, nobody can change it...

Suara gitarmu, gerakmu, candamu, tawamu, rengekan manjamu, perhatianmu, perlindunganmu atasku, tak ada yang bisa melakukannya sesempurna dirimu.

Seandainya waktu boleh kuputar, kembali ke masa setahun silam, di mana kau masih lugu dan aku masih seperti itu, maukah kita ulang lagi memori lama yang sudah sedikit usang?

Because we forget it slowly...
And I want to stay here forever...




Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...