Thursday, July 24th 2014
A hurt in my heart disappear slowly, a new light and hope come...
Memang sulit akhirnya untuk bisa berkata, "Aku bebas," dan menghirup udara segar. Kuakui sulit sekali. Akhirnya aku menemukan alasan mengapa aku harus melakukan dua hal di kalimat pertama. Alasan yang tepat, meski menohokku dengan janji-janji yang dulu kuucapkan padanya sebelum pergi.
Bukankah aku berjanji untuk menjadi yang terbaik setelah kepergianmu?
Aku percaya kepergianmu tidak seharusnya membuatku berubah. Kamu toh juga tidak menginginkan hal itu. Kamu juga ingin agar aku tetap menjadi diriku yang kau kenal selama setahun, iya kan? Meski aku enggan sebenarnya mengiyakan kenyataan bahwa kau telah pergi, akhirnya aku melakukannya. Aku percaya kau tidak ingin melihatku terus bersedih. Bukankah kamu tidak suka melihatku menangis? Aku juga tidak mau cengeng dan merengek di hadapanmu ya!
Aku percaya di mana pun kamu berada, bayanganmu akan terus di sana. Ketika aku di panggung dan memberi pertunjukan yang spektakuler, aku bisa melihatmu di sana untuk tersenyum dan memberiku tepuk tangan seperti biasanya. Atau mungkin mengintipku latihan dari jendela? Well, don't think that I don't know.
Dulunya, aku memang biasa mencari matamu ketika aku di panggung. Ya, mata yang berbinar-binar, mata yang memberiku harapan, mata yang menyemangatiku. Matamu. Aku selalu mencari dan menatap matamu. Fokus menatap matamu.
Sekarang, hanya bayangmulah yang ingin kubayangkan ada seperti dahulu. Duduk manis memperhatikanku dari bangku penonton.
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar