Langsung ke konten utama

Melupakan Perlahan-Lahan

Thursday, July 24th 2014

A hurt in my heart disappear slowly, a new light and hope come...

Memang sulit akhirnya untuk bisa berkata, "Aku bebas," dan menghirup udara segar. Kuakui sulit sekali. Akhirnya aku menemukan alasan mengapa aku harus melakukan dua hal di kalimat pertama. Alasan yang tepat, meski menohokku dengan janji-janji yang dulu kuucapkan padanya sebelum pergi.

Bukankah aku berjanji untuk menjadi yang terbaik setelah kepergianmu?

Aku percaya kepergianmu tidak seharusnya membuatku berubah. Kamu toh juga tidak menginginkan hal itu. Kamu juga ingin agar aku tetap menjadi diriku yang kau kenal selama setahun, iya kan? Meski aku enggan sebenarnya mengiyakan kenyataan bahwa kau telah pergi, akhirnya aku melakukannya. Aku percaya kau tidak ingin melihatku terus bersedih. Bukankah kamu tidak suka melihatku menangis? Aku juga tidak mau cengeng dan merengek di hadapanmu ya!

Aku percaya di mana pun kamu berada, bayanganmu akan terus di sana. Ketika aku di panggung dan memberi pertunjukan yang spektakuler, aku bisa melihatmu di sana untuk tersenyum dan memberiku tepuk tangan seperti biasanya. Atau mungkin mengintipku latihan dari jendela? Well, don't think that I don't know

Dulunya, aku memang biasa mencari matamu ketika aku di panggung. Ya, mata yang berbinar-binar, mata yang memberiku harapan, mata yang menyemangatiku. Matamu. Aku selalu mencari dan menatap matamu. Fokus menatap matamu.

Sekarang, hanya bayangmulah yang ingin kubayangkan ada seperti dahulu. Duduk manis memperhatikanku dari bangku penonton.



Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...