Wednesday, July 2nd 2014
Ada dua kejadian yang bisa aku peringati tanggal 1 kemarin. Tanggal 1 Juli dua tahun lalu, rekor sejarah pertama yang mencatat bahwa Mitarashi Hana punya seseorang yang disebut pacar dan dia adalah sahabatku sendiri saat aku masih ikut OSN. Namun akhirnya berakhir pada Januari 2013.
Dan kejadian kedua adalah...saat aku chatting bersamamu. Iya, kamu! Lagi-lagi kamu. Mr. Simple yang hobi banget foto selfie di mana-mana. Ingat tidak waktu kita ikut kemping bertema English, kau membuatku tak bisa lama-lamaan selfie sama Mama karena kau keburu merebut Mama dariku untuk kau ajak selfie berdua? Menyebalkan. Aku tahu sebenarnya bisa saja aku meminta selfie bersamamu dan Mama, selfie bertiga, tapi mana mungkin? Apa reaksi teman-temanku nanti? Mungkin mereka serempak bakalan bilang, "Ciee..." dan aku sudah bosan disudutkan dengan reaksi itu.
Well, kembali ke cerita kita, Mr. Simple.
Aku senang kemarin kita chatting (padahal kayaknya kita udah sering chatting selama liburan kali ini) dan ngobrolin masalah yang sama, yang selalu jadi favorit kita, topik yang buat kita nggak akan pernah bosan untuk dibahas karena selalu berubah-ubah: MIMPI.
Aku tahu apa mimpimu dan kemarin kita mendiskusikan mimpimu dan mimpiku. Aku agak heran dengan keputusanmu membatalkan mimpimu bersekolah di Bali International Flight Academy dan sebagai gantinya kau hendak pergi ke All Asian Aviation Academy di Filipina. Well, kaget juga sih. Namun tak masalah selama mimpimu menjadi kapten di pesawat terbang terwujud.
Dan aku sendiri? Aku masih bertahan untuk melanjutkan pendidikanku ke Jakarta atau langsung pergi ke London, belajar broadcasting, masuk dalam dunia perfilman, lalu belajar sastra Inggris. Aku tahu kau selalu melarangku karena film itu sekuler dan entah kapan kau merubah cara pikirmu itu. Hmm...tapi aku tahu kau sebenarnya ingin memberiku yang terbaik, iya kan? Kelihatan dari saranmu kemarin.
Kamu lebih menyuruhku masuk ke sekolah ekonomi. Ya, selalu itu yang kamu mau, persis seperti saran orang tuaku yang sama-sama pingin aku masuk STAN. Setelah itu, katamu, aku bekerja di Pertamina, seperti almarhum ayahmu dulu.
Aku ingat, persis, apa katamu kemarin. Almarhum ayahmu keren bagimu, mendapatkan fasilitas-fasilitas gratis setelah kerja di Pertamina, bahkan berlibur ke luar negeri gratis. Aku mencibir, pantas saja hidupmu enak sekali, sudah sering ke luar negeri. Namun kau balas mencibirku, kamu hanya sering pergi ke negara-negara tetangga saja. Ayahmu yang paling sering berpergian ke luar negeri.
Sepertinya kau percaya masa depanku lebih cemerlang jika aku lanjut ke sekolah ekonomi. Kau percaya aku pasti keterima di sana lalu bisa bekerja sebagai manajer. Katamu, "Kamu bakalan keren kalau bisa,"
Keren? Terima kasih sudah memujiku, Mr. Simple. :)
Akhirnya aku sedikit luluh. Aku menimbang kembali saranmu dan saran kedua orang tuaku untuk melanjutkan pendidikanku di sekolah ekonomi. Di London ada sekolah ekonomi, di Indonesia juga ada. Tinggal memilih bagiku mana yang sesuai dan bekerja keras untuk mencapai target. Harus, harus bisa.
Namun aku masih belum bisa meninggalkan passion-ku di sastra Inggris dan broadcasting...
Kita lihat saja nanti. Kita lihat saja mana yang akan kupilih dua tahun lagi. Apakah mimpiku untuk menjadi seorang sutradara atau harapanmu atasku yang menginginkan aku di sekolah ekonomi dan bekerja di Pertamina, seperti ayahmu.
Well, but I think what you say is for my best
For me, Miss Boyish
Thanks anyway, although I still doubt it
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar