Thursday, July 24th 2014
Aku hanyalah bagian terkecil di antara jutaan manusia di seluruh bumi. Ketika aku melihat diriku dari tengah-tengah sebuah rombongan, akulah yang akan terlihat paling aneh. Padahal jika sedang bersamamu, aku tidak merasa aneh sendirian. Kau sama anehnya. Kita menjadi manusia teraneh berdua. Hihi...bukankah lucu?
I feel blue. I feel so sick. I feel so hurt. But I don't wanna show it to everyone, my weakest side. Even you who will understand me because we are the same.
Aku menjawab, "Ya. Aku baik-baik saja."
Sometimes if you see me and think that I'm okay, it gonna be true and false. Between this two choices. But it always false.
Aku menghela napas sejenak dan berpikir mengapa semuanya harus seperti ini. Terkadang aku berpikir juga mengapa aku dilahirkan begini. Namun aku tidak pernah menyesalinya ketika guru favoritku selalu berkata, "Kamu unik.". Selalu begitu.
Aku hanyalah bagian terkecil di antara jutaan manusia di seluruh bumi. Ketika aku melihat diriku dari tengah-tengah sebuah rombongan, akulah yang akan terlihat paling aneh. Padahal jika sedang bersamamu, aku tidak merasa aneh sendirian. Kau sama anehnya. Kita menjadi manusia teraneh berdua. Hihi...bukankah lucu?
Well, but I wanna know how strange you are instead of me.
Kita berdua sama atau mungkin aku yang paling parah dalam masalah perasaan. Ketika tidak ada orang yang mengenal kita hanya sekedar cover saja, kita akan menunjukkan diri kita yang sebenarnya. Terkadang senyum itu palsu, hanya kugunakan untuk menutupi kesedihanku. Ketika aku sedang memikirkanmu yang sudah pergi, topeng itu kugunakan untuk menutupi semuanya. Tak ada yang boleh tahu bahwa aku sakit, terluka, rapuh, dan terkikis.
I feel blue. I feel so sick. I feel so hurt. But I don't wanna show it to everyone, my weakest side. Even you who will understand me because we are the same.
Ketika ada seseorang bertanya padaku, "Setelah kepergiannya, apakah kamu merasa sedih?"
Aku menjawab, "Ya. Aku baik-baik saja."
Terkadang jawaban baik-baik saja hanya kugunakan untuk menutupi betapa sakit diriku sebenarnya. Ketika aku sedang ingin merindukanmu sendirian, jawaban itu tepat sekali untuk menutupi rasa sakit yang kualami. Meski aku tahu, sebenarnya ini sama saja membohongi diri sendiri. Namun bagiku itu jauh lebih baik dibanding melihat orang-orang duduk dan menertawakan sisi terlemahku.
Ada seorang teman yang sering komplain betapa seringnya aku meng-update status Facebook selama berlibur. Selalu jawabanku padanya adalah, "Itu kan terserah aku."
Ada 3 makna di balik kata terserah. Alasan ketiga, aku hanya ingin mengusir jauh-jauh status-status brengsek yang kuanggap kotor, keji, dan menghina dengan cara menyindir lewat status-statusku yang positif. Buat pikiran kotor saja! Jika saja aku masih seperti dulu, tangan ini tak segan untuk membantuku bicara. Kaki juga sama. Lisan kubuat setajam pedang. Untuk mereka yang suka mengotori pikiranku yang terus berusaha berprasangka baik.
Alasan kedua, aku sedang gembira. Kebanyakan status kubuat saat aku berada di dalam good mood dan aku sedang senang-senangnya.
Namun alasan pertama adalah...aku hanya ingin menunjukkan padamu bahwa aku baik-baik saja. Aku tidak ingin kau mengkhawatirkanku. Meski aku tahu bahwa aku sakit, aku jatuh, aku terluka...sungguh aku tetap mencintaimu. Aku mengenalmu jauh dan jauh lebih baik dibanding penggemar-penggemarmu. Satu tahun cukup untuk mengenalmu, Mr. Simple.
Sungguh aku mencintaimu dan aku percaya ketika kita bertemu, tatapanku masih sama. Tatapan berharap bahwa kau akan mencintaiku.
Suratku untukmu di lembar terakhir sebenarnya adalah kata kunci tentang perasaanku padamu dan aku percaya kau tidak akan pernah tahu.
Kalau feeling-ku benar, tiga tahun lagi kita pasti ketemu.
Kalau instingku benar, aku percaya ada banyak perubahan di antara kita setelah tiga tahun kita bertemu lagi. Kau semakin tinggi dan mempesona. Aku tidak tahu seperti apa diriku, aku hanya berharap bahwa aku terlihat semakin cantik dan stylish, sesuai dengan pesan terakhirmu nanti tiga tahun lagi.
Aku masih tetap akan menatap orang yang sama.
Orang yang selalu memujiku di saat aku membutuhkannya, bukan diumbar terus-terusan. Orang yang menyemangatiku di saat-saat genting dalam hidupku. Orang yang menjadi tameng pelindung ketika caci maki diarahkan padaku. Orang yang berada di sisiku untuk mendengar setiap celotehanku. Orang yang selalu mendengarkan curhatku.
Dan orang itu adalah: KAMU.
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar