Langsung ke konten utama

Man In My Mirror

Friday, July 4th 2014

Aku teringat kejadian semalam saat aku menulis jurnalku. Saat sedang memikirkanmu di malam hari yang tenang. Aku menulis banyak hal: hobiku, kesukaanku, ketidaksukaanku, dan lain sebagainya. Ketika akhirnya aku menyadari ada sesuatu yang menjadi faktor kedekatan kita.

Do you realize it?

Hanya sedikit perbedaan di antara kita, tapi itu tidak pernah menjadi masalah besar. Hanya sesekali jadi bahan bualan semata. Tidak pernah menjadi pembeda besar antara kita, ya kan?

Sadarkah kau sebenarnya kita sama?

Kamu pernah bilang bahwa kamu menyukai drama Korea. Aku pun begitu. Well, asal kau tahu saja, negeri gingseng itu benar-benar keren di mataku dalam sebuah drama. Bagaimana cara mereka memperkenalkan budaya asli mereka lewat drama Saeguk atau drama Saeguk yang bercampur kehidupan Korea modern sekarang, sejenis Rooftop Prince, Queen In-Hyun's Man, Princess Hours, dan My Love From Another Star. Begitu kau bilang bahwa kau menyukainya juga, aku sedikit tidak bisa berpikir...bahwa kaum Adam ternyata juga bisa menyukai tontonan yang banyak tangisannya. Apalagi drama yang kau sukai adalah drama yang menjadi kesukaanku sepanjang masa, Rooftop Prince.

Adakah yang lebih aneh daripada itu?

Jawabannya, YA.

Aku adalah pecinta kucing. Dari SD sampai sekarang keluargaku, kecuali Papa, sangat menyayangi hewan yang sering kusebut bola bulu tersebut. Kami sudah sering gonta-ganti kucing peliharaan, entah karena kucingnya kabur atau mati. Saat ini aku masih punya kucing besar dan berbulu lebat, persis sekali seperti bola bulu. Namun aku paling tak menyangka begitu tahu bahwa kamu juga punya kucing di kota asalmu.

Kalau itu sahabatmu, aku sudah tidak heran karena begitu terbiasa dia dan aku bermain dengan kucing bersama-sama. Hmm...but if it's you...

Adakah yang lebih, lebih aneh, daripada itu?

Jawabannya, YA.

Aku teringat pertanyaanmu beberapa tempo yang lalu. Ini pertanyaan yang menurut sebagian cewek, well, dianggap kepo. Namun aku suka kau menanyakannya.

Kamu: "Benda apa yang pingin kamu beli di dunia ini?"
Aku: "Piano dan teropong bintang."

Ekspresimu berubah aneh. Aku menyadarinya. Namun kau membuang muka dan melanjutkan pertanyaanmu.

Kamu: "Kenapa?"
Aku: "Aku memang suka piano. Aku pernah belajar main, tapi baru bisa dasarnya saja. Kalau ngegalau suatu saat aku pingin mainin piano. Kalau teropong bintang...itu karena aku memang suka melihat bintang di planetarium. Tahukah kau, bintang yang terlihat di langit malam sebenarnya lebih banyak daripada yang kita lihat. Namun karena tertutup oleh polusi cahaya makanya kita nggak bisa melihat banyak bintang di langit."

Ya, aku menyukainya. Aku sangat suka kedua benda itu dan jika saja aku adalah seorang miliuner, oh bukan, triliuner, aku akan membeli keduanya dan menaruhnya di ruangan favoritku, di rumahku yang besar.

Lalu, akhirnya aku balik menanyaimu pertanyaan yang sama.

Aku: "Kalau kamu sendiri, apa yang ingin kamu beli di dunia ini?"
Kamu: "Mobil mewah dan rumah tingkat. Haha...suatu saat aku bakalan jalan-jalan naik mobil itu keliling kota."

Sesaat kau terdiam.

Kamu: "Hmm...tapi kalau piano boleh juga ya. Kan romantis gitu,"

Kau mengatakan hal itu sembari pura-pura memainkan piano khayalanmu. Aku tertawa. Ternyata...bukan hanya aku yang berpikir bahwa piano itu romantis. Kamu juga. Suatu saat, jika aku sudah mahir memainkan tuts-tuts hitam putih itu, akan kutulis sebuah lagu. Special for you, my beloved best friend.

Adakah yang lebih, lebih, lebih aneh, daripada itu?

Jawabannya, YA.

Ini adalah cerita kita berdua. Saat itu kita duduk-duduk di depan sebuah ruangan. Hanya ada aku, kamu, dan cowok yang menjadi sahabat kita berdua. Sebenarnya aku sedikit gusar, bagaimana bisa aku duduk di sini bersama kalian? Kalian semua pria, aku wanita! Sendirian.

Yah, bukan mauku juga duduk bersama kalian. Itu semua karena sahabat kita membujukku untuk menasihatimu. Dengan catatan aku tidak akan mengajak orang lain, hanya kita bertiga saja.

Baiklah, baiklah. Jika itu maumu.

Aku akhirnya duduk dan menasihatimu. Awalnya kau seperti mengabaikanku, berpura-pura mendengarkan sebuah lagu dari headset. Sahabat kita langsung memarahimu karena kau tidak mendengarkanku. 

Aku tahu sebenarnya itu caramu menyembunyikan kesedihanmu. Aku tahu persis. Seperti aku yang malu jika ketahuan nangis, karena itulah aku sering menangis diam-diam di tempat sepi. Kamu juga. Kamu tidak ingin orang tahu kamu sedih. Kamu tidak suka jika ketahuan menangis.

Lalu kita saling bercerita. Banyak hal yang kita ceritakan. Sampai akhirnya merujuk ke salah satu hobi kita.

Ternyata kita sama-sama suka menyanyi...di depan kaca! -_-

Kuakui narsisme dalam diriku mulai liar saat SMA. Waktu SMP aku tidak punya banyak foto diriku bersama teman-teman karena mereka jarang mengajakku foto bersama dan narsis-narsisan dengan kamera ponsel. Caraku melampiaskannya saat SMP adalah dengan bernyanyi di depan kaca. Well, selain menyenangkan cara itu bisa menambah kepercayaan diri.

Pantas saja, kita sama-sama dianggap oleh banyak orang sebagai 'orang panggung', sudah terbiasa ditonton publik di depan pentas.

Adakah yang lebih dan sangat aneh?

Jawabannya, YA.

Kasus edelweiss yang ditinggalkan di sebuah kamar saat rolling asrama masih segar di pikiranku. Teman-teman yang mengatakan bahwa edelweiss itu untukku, sikapmu yang tiba-tiba aneh saat menyebut edelweiss, membuatku berpikir apakah kabar itu benar? Kau memberiku bunga edelweiss?

Padahal...kau tahu tidak sih ada makna besar di balik bunga itu?

Banyak kutipan mengatakan, seseorang yang akan bersamamu adalah yang memiliki banyak kesamaan denganmu. Dia adalah kamu, kamu adalah dia.

Namun aku tak langsung percaya, malah menolaknya mentah-mentah.

Although you are the man in my mirror

Meski kaulah yang ada di dalam cerminku.





Mitarashi Hana



Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...