Langsung ke konten utama

New Beginning

Semester yang baru artinya awal yang baru, itulah yang kupikirkan saat ini. Semangat baru, target baru, dan mimpi baru. Rasanya patah hati setelah melihat IP semester kemarin turun jauh meski sejauh ini belum ada mata kuliah yang harus mengulang selain olahraga, so sepertinya diriku membutuhkan pompa semangat yang baru. Lagipula, ini sudah semester ketiga dan tentunya tidak mungkin akan sesantai tahun lalu. Satu setengah tahun lagi aku harus lulus!

Tugas di semester ketiga rata-rata research paper, padahal mata kuliah Metodologi Penelitian Hubungan Internasional diundur sampai semester kelima. Sebenarnya, aku sudah tahu mau membuat penelitian apa, terutama untuk skripsi nanti, tetapi...kalau nggak tahu caranya bukannya sama aja ya? Huft, oke. Usaha. Biar disayang Allah, disayang dosen, nilai A, dan lulus cum laude (wahaha?).

Omong-omong tugas research paper, aku cukup maklum ketika semakin meninggi semester kuliah, tugas juga tambah level kesulitannya. Semester akhir nanti disuruh buat skripsi, masa' tugasnya gampang melulu? Lagipula, kuliah kan melatih logika berpikir. Percuma juga sih kalau tugas kuliah tidak meningkat level kesulitannya.

Semester tiga ini aku mengambil 24 SKS lagi, dengan jadwal kuliah Senin-Kamis (kayak puasa sunnah aja). Jumat libur (yay!) sampai Minggu. Mata kuliahnya juga semakin menantang dan seru, sejauh ini tidak ada yang bikin malas hadir seperti matkul kewirausahaan semester lalu (yang demi apa itu bisa dapat B padahal bolos lima kali dan tugas yang ditumpuk juga cuma dua, dosennya asli baik bet). Hum, jadwalnya kira-kira begini:
  1. Senin: 15.01-17.30 | Diplomasi (tanggung, cuma ini matkul di hari Senin)
  2. Selasa: 09.41-12.10 | Studi Keamanan (sejauh ini jadi matkul terfavorit)
  3. Selasa: 15.01-17.30 | Hukum Internasional (terfavorit kedua)
  4. Rabu: 09.41-12.10 | Hukum Pidana Internasional
  5. Rabu: 15.01-17.30 | Teori Politik (terfavorit ketiga)
  6. Kamis: 09.41-12.10 | Organisasi dan Administrasi Internasional
  7. Kamis: 12.21-14.50 | Teori Kriminologi (mungkin jadi terfavorit keempat)
  8. Kamis: 15.01-17.30 | Studi Eropa
Semester ketiga ini kami diperbolehkan mengambil dua mata kuliah pilihan. Huft, semester ini matkul pilihanku adalah Studi Keamanan dan Studi Eropa. Matkul pilihanku yang terakhir sebenarnya matkul pilihan untuk semester lima, tetapi terpaksa mengambil setelah gagal mendapatkan kelas Perilaku Politik dan Studi Asia Tenggara yang jadi incaranku karena saling tabrakan dengan kelas matkul wajib. Yep, aku ambil matkul ini bukan karena keren-kerenan, ini terpaksa. Masih patah hati karena gagal dapat Perilaku Politik, hiks.

So, setiap lihat KRS teman yang dapat Perilaku Politik, aku akan menarik napas dan berkata, "Ih, kok enak sih! Mbok tukeran sama aku!".

Padahal mau tukeran pun sama aja ya, tetap nggak bisa karena tabrakan, hahahaha.

Dosen yang mengampu kelas semester ini rata-rata sudah mengenalku dan akhir-akhir ini sering ada sesuatu yang lucu di kelas dengan beliau.

Pertama, di kelas Teori Politik. Mas Marten, dosen pengampu, waktu itu bertanya kepada kami, "Apa sih politik itu menurut kalian? Gambarkan saja dengan satu kata,".

Aku hanya tersenyum geli. Aku sedang membayangkan jawaban-jawaban dari teman-temanku saat itu, sih. Serakah, kekuasaan, dan lain-lain. Aku geli karena bahkan kami yang belajar politik pun kadang jijik dengan politik itu sendiri.

"Kenapa kamu senyum-senyum, Mbak? Kamu kan habis ketemu sama anggota dewan," kata Mas Marten. Aku yang tidak tahan lagi akhirnya tertawa kecil. "Kemarin saat Taiwan Summer School dia habis ketemu anggota dewan," lanjut Mas Marten.

Kejadian kedua adalah di kelas Hukum Internasional. Kelasnya Mbak Ika saat itu hanya diisi 6 orang dan entah mengapa kami sedang membicarakan poligami. Well, apapun bukan hal yang tabu sih kalau di HI, entah tanggapannya mau pro maupun kontra.

Aku yang meminta ijin bicara saat itu mengangkat tangan.

"Kenapa, Anissa? Kamu setuju poligami? Siap ya kamu dipoligami?" tanya Mbak Ika.

"Nggak, Mbak. Saya menolak malah," Aku tertawa.

"Lho, nanti kan dapat surga," kata Mbak Ika.

Iming-iming surga pun aku ogah, batinku. I mean, jaman sekarang rasanya tujuan poligami udah jauh melenceng dari aslinya. Sekarang mah, lirik dikit ada yang cakep minta ijin poligami dengan alasan sunnah. Please deh, kalau mau sunnah beneran, itu lho Rasulullah SAW aja nggak menikah lagi sampai Khadijah ra. wafat. Kalau pun menikah lagi pun itu sama janda-janda korban perang dan tawanan. Sekarang? Belum cukup istri cantik satu yang Melayu abis, lihat gadis Timur Tengah yang mancung-mancung langsung minta ijin poligami.

Oke, back to topic.

Dosen-dosen pengampunya insya Allah baik-baik. Ada yang unik malah. Namanya Mas Satya. Beliau akan mengampuku di mata kuliah Teori Kriminologi. Lucu sih karena nggak tahu kenapa di setiap kegiatan yang aku ikuti akhir-akhir ini selalu ada Mas Satya di sana. Bahkan, pulang kuliah pun sering sekali aku papasan dengan beliau. Mas Satya juga menyadarinya. Jadi, ketika bertemu denganku untuk entah kali keberapa, beliau selalu bilang, "Kok kamu ada di mana-mana sih?". Pernah sekali Mas Satya bilang seperti itu di depan Mbak Nadia dan Mbak Sheiffi (yang juga dosen) waktu kegiatan PMB, sehingga aku diketawain beliau berdua (eh bertiga karena Mas Satya juga ketawa). Malu yo diketawain dosen-dosen.

Kalau itu Mr. Izz atau Mr. Dimas, aku sudah nyengir dan seenak jidat menjawab, "Ya emang aku tahu?". Masalahnya, ini dosen. Manner harus dijaga dan harus stay cool, jadi aku hanya menjawab, "Saya nggak tahu, Mas, haha," dengan tawa kecil.

Sok cool dan jaim juga ya aku ini, hahaha.
 
Semester ketiga ini tentunya akan banya buku yang dibutuhkan. Aku akan segera membelinya. Buku itu wajib 'ain bagi mahasiswa. Kalau mau jawab pertanyaan dosen, buat research paper, bahkan presentasi sekali pun, buku adalah teman sejati. Makanya, kadang aku suka heran sama teman-temanku yang akhir-akhir ini mengajukan pertanyaan seperti:
  1. "Nis, kamu tuh baca buku terus ya?"
  2. "Nis, kok bisa sih kamu kalau jawab pertanyaan dosen bisa tahu sumbernya dari buku mana gitu?"
  3. "Nis, kamu kalau baca buku langsung habis semalem gitu ya? Atau diblender terus kamu minum gitu?"
Oke, guys. First, aku nggak sebegitu ekstrim sampai harus blender buku terus diminum. Aku makan nasi sama minum air, kok. Aku senormal kalian. Second, aku nggak terus-terusan baca buku. Ada saatnya aku jenuh sama buku meski hobiku yang pertama adalah membaca. Sometimes, aku malah menutup bukunya lalu ngobrol dengan siapa saja. Sama teman-teman aktivis lintas pergerakan eksternal. Sama kakak tingkat. Sama orang yang duduk sebangku denganku di bus. Sama tukang ojek yang nganterin aku tiap pulang-pergi ngampus. Sama sopir angkot. Sama penjual makanan di kantin. Inspirasi terbesar keduaku selain buku justru dari obrolan-obrolanku dengan mereka-mereka tadi. Third, semua bisa karena biasa. Aku mencintai buku karena biasa. Aku hafal info ini sumbernya dari buku mana karena biasa. Even, aku juga butuh waktu untuk belajar cinta sama buku. Karena biasa gitu kadang aku bisa menghabiskan satu buku tebal dalam sehari. Namun, akhir-akhir ini seringnya aku butuh tiga hari untuk membaca satu buku tebal karena istilahnya sulit. Oh, satu lagi. Waktu terbaik membaca buku adalah sebelum tidur. 
 
But, to be honest, aku senang ketika ada yang meminta tips rajin membaca meski pertanyaannya kadang seekstrim yang di atas. Bukankah salah satu petuah pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah ing madya mangun karsa? Kita harus saling memberi semangat dalam belajar, dong. Semakin baik pendidikan politik di Indonesia, kritikan akan politik semakin bagus. Bukan cuma sekedar, "Ih, kok kamu kayak Ahok sih mencla-mencle?" alias nyinyiran semata.
 
Atarashii kaze. Ini angin yang baru. Semangat!
 
 
Yours,
Anissa Antania Hanjani . 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...