Analysis of romantic love from a 19 years old girl point of view.
Cinta. Aku akan menambahkan kata ini ke dalam kamus dengan pengertian sesuatu selain uang yang akan membuat seseorang melakukan segalanya. Seseorang bisa membeli banyak hal karena cinta. Seseorang bisa melakukan hal gila karena cinta. Seseorang bisa mati karena cintanya. Cinta bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk bertindak, entah itu masuk akal atau tidak.
Egoiskah orang itu karena cintanya? Atau justru sebenarnya tidak?
Satya pernah menanyaiku begini, "Nis, kamu percaya adanya cinta?".
"Aku percaya," jawabku.
"Aku tidak," katanya. "Cinta itu hanya perasaan egois semata. Hanya semacam alasan yang membuatmu merasa nyaman berada di dekat seseorang,".
"Hey, tidak semua orang yang jatuh cinta itu egois,".
"Egois," Dia bersikukuh. "Bisa kamu melepaskan seseorang yang kamu cintai?".
"Kalau itu membuat mereka bahagia, kenapa tidak?".
"Bohong, ah. Justru kamu akan berat hati karena kehilangan rasa nyaman saat berada di dekatnya, kan?".
Dasar filsuf realis, batinku geli.
Satya mungkin belum melihat kasusku dan beberapa orang di dunia ini yang pada akhirnya merasa selfless karena cinta. Tidak, ini bukan pamer. Kasus selfless karena cinta ini hanya sekian reaksi yang ditimbulkan akibat cinta dan ini terjadi kepadaku, juga beberapa orang yang kutahu.
I've ever fallen in love for so many times in my life. Alasannya beragam dan, seperti yang dikatakan Satya, rata-rata penyebabnya adalah karena dia membuatku nyaman. Especially, when I get a chance to know his imperfectness, the feeling I have will grow stronger and stronger. Cinta bagiku bukan sekadar romansa picisan dengan pelukan dan ciuman. Bagiku itu adalah perasaan kuat, kasih sayang yang tulus, dan emosi hebat yang menjadi warna paling terang dalam hidup yang akan muncul ketika kita mengenal dan menerima orang yang kita cintai apa adanya. Oke, I can be like, "So sweet," when I see a romantic scene, but for me, romantic actions like kiss and hug are not always an expression of love. Kita dapat melihat cinta ketika kita menghabiskan malam dengan mendengarkan semua hal tentang orang yang kita cintai langsung dari sumbernya, lalu dia meminta saran dari kita. Kita melihat cinta ketika seorang suami membantu istri dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sederhana sekali, tetapi itu so sweet.
Ketika kita ingin melihat orang yang dicintai bahagia tanpa memedulikan perasaan pribadi, bukankah itu juga cinta?
Or maybe just like Mr. Izz when he told me that love is when he went out with his wife and spent time in a very descent restaurant, of course, that's love, isn't that?
Aku sudah beberapa kali mengalami virus merah jambu, tetapi ending yang terjadi dalam hidupku seringnya adalah membiarkan dia pergi begitu saja. Because, in my humble opinion, he's free. Dia tidak memiliki ikatan resmi denganku, tentunya karena itu dia bebas. Berbeda jika ini ikatan antara orangtua dan anak, bahkan meski anak itu pergi kabur meninggalkan orangtuanya, tidak ada fakta yang bisa menghapus bahwa dia anak kandung orangtuanya. Anak itu akan tetap punya peluang kembali ketika kesulitan karena fakta bahwa dia masih punya orangtua.
Karena itulah aku mengatakan cinta itu artinya siap melepaskan. Karena meski faktanya kita semisal terikat oleh orang yang dicintai dengan pernikahan, ikatan itu ada bukan karena faktor biologis dan usaha untuk mempertahankannya jauh lebih besar. Jika segala usaha mempertahankan ikatan itu gagal dan dia akan lebih bahagia ketika jauh dari kita, maka jalan terbaik adalah melepaskan. Berbeda sekali lagi dengan ikatan orangtua dan anak, tidak dibutuhkan usaha besar untuk mempertahankannya karena faktor biologis, terutama dengan ibu.
Cinta itu dapat diekspresikan dengan bahasa yang sederhana, tetapi untuk mempertahankannya akan jauh lebih besar. Butuh banyak penyesuaian dan pengorbanan. Namun, ya, sekali lagi aku mengutip Satya bahwa itulah semua alasan untuk melakukan penyesuaian dan pengorbanan: a secure feeling when we get to be near with him / her. Ada banyak reaksi dari berbagai manusia untuk mempertahankan secure feeling tersebut, tetapi reaksi yang berlaku untukku adalah dengan menjadi selfless. Dengan menempatkan dia berada di atas prioritasku.
And that's why I never hope to fall in love with someone in college: aku tidak ingin memprioritaskan dia sekarang. Saat ini, mimpi-mimpiku dan kebahagiaan orang-orang yang berarti bagiku adalah prioritas tertinggiku and no one can disturb it.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar