Langsung ke konten utama

A Day in AUT Summer School (Day 1)

Wow, what a day!

Kegiatan hari pertama Undip-AUT Summer School di FISIP telah berakhir dan kesan pertamanya benar-benar baik. Not as what I expected, but I got many interesting, yet nice questions dari mahasiswa-mahasiswa Asia University Taiwan (AUT) yang mengikuti kegiatan ini. Pertanyaan-pertanyaan mereka...most of them adalah questions yang baru pertama kali kudengar seumur hidupku sebagai orang yang memiliki agama, lebih khususnya sebagai seorang muslimah sekaligus warga negara yang tinggal di negara heterogen yang kaya ini.

Kegiatan diawali dengan presentasi tentang Islam and State oleh Pak Adnan yang saat ini memiliki posisi penting di NU Jawa Tengah sekaligus dosen jurusan pemerintahan. Beliau expert dalam bidang politik dan agama. Beliau banyak menjelaskan mengenai seperti apa posisi Islam dalam politik Indonesia dan bagaimana seharusnya Islam di negara ini. 

Setelah presentasi dan sesi tanya jawab, kegiatan dilanjutkan dengan FGD. Peserta dibagi menjadi dua kelas. Kelasku sendiri terdiri atas 3 orang mahasiswa FISIP Undip (aku, Mas Aji, dan Diah) dan 4 orang mahasiswa AUT dengan Mas Satya, dosen HI, sebagai fasilitator. Beliau memberi kesempatan kepada Mas Aji dan aku untuk menyampaikan pengalaman yang berkaitan dengan politik dan agama.

I told them all. Yep. Tentang 411. Tentang 212. Tentang bagaimana statusku mengenai pemboikotan Sari Roti begitu mempengaruhi kehidupanku berikutnya. Tentang bagaimana pilihan politikku banyak dicerca oleh orang-orang yang mengaku "membela agama".

Setelah sharing, kami bertukar cerita dengan mahasiswa AUT tentang bagaimana agama di Taiwan.

"Apakah di sana kamu pernah ditanyai apa agamamu?" tanya Mas Satya sebagai fasilitator.

"Tidak pernah," jawab mereka.

"Di sini, di Indonesia, pertanyaan itu umum. Orang di sini bahkan berani menanyakan apa agamanya dan memperlakukan seseorang berdasarkan agama,".

Ya, batinku. Ironis sekali bagaimana negara yang mengaku paling toleran ternyata tidak pernah melakukan apa yang dikatakan. Apanya yang toleran kalau gereja masih sering mengalami teror saat Natal dan baksos keagamaan selain Islam dilarang di beberapa daerah? What an arrogant worshiper!

Di awal sesi FGD, kami, para mahasiswa Undip, dan Mas Satya banyak sharing mengenai kondisi di Indonesia sekarang. Tentang beberapa sekolah umum yang memaksakan peraturan berjilbab. Tentang bagaimana agama begitu berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat hingga seseorang dinilai baik-buruk berdasarkan bagaimana dia menjalankan peraturan agama.

"Di sini, muslim yang melewatkan salat lima waktu bisa dinilai buruk jika melewati satu saja dari waktu salat itu," jelas Mas Satya.

Setelah beberapa waktu kami melontarkan pertanyaan, para mahasiswa AUT mulai bertanya kepada kami.

"Will you convert to another religion if you can? (Apakah kamu akan berpindah agama jika kamu bisa?)".

Pertama kali mendengar pertanyaan tersebut, aku cukup terkejut. It is the very first time for me to hear such weird, yet interesting question. Pertanyaan tersebut juga keluar setelah kami menjelaskan kondisi masyarakat di Indonesia, di mana berpindah agama masih dipandang sebelah mata dan mendapatkan tekanan dari masyarakat dan keluarga. 

Aku, Mas Aji, dan Diah diberi kesempatan masing-masing untuk menjawab. Ketika giliranku tiba, aku menjawab, "No, even after all the things happen to me. I see Islam as the way of life, not the doctrines that strictly set you to do this and that. Islam is not a religion that only tell you that you may do this and you may not do this. More than that, it is how we live as human being. I never regret what I did back then. I will keep doing it and I will keep becoming a moslem. (Tidak, bahkan setelah semua hal yang terjadi kepadaku. Aku memandang Islam sebagai jalan hidup, bukan doktrin kaku yang mengaturmu melakukan ini dan itu. Islam bukan agama yang hanya menjelaskan boleh-tidaknya sesuatu. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana hidup sebagai manusia. Aku tidak pernah menyesali apa yang kulakukan dulu. Aku akan tetap melakukannya dan aku tetap akan menjadi seorang muslim),".

Andai ada kesempatan untuk memutar ulang waktu, bahkan aku akan tetap menulis status itu. Aku bahkan berharap aku sudah seperti ini sejak 2 tahun yang lalu ketika pilpres 2014 berlangsung.

Toh, pada akhirnya aku tahu siapa yang tetap bersamaku dengan pilihanku dan siapa yang malah mencercaku hanya karena pilihan politikku jatuh kepada seorang non-muslim atau karena aku mengkritik seorang "pendakwah perbandingan agama" yang tidak pernah tepat menginterpretasikan ayat-ayat dari kitab suci agama lain.

Huaahh...aku lega dapat mengatakan hal ini kepada seseorang! Rasanya seperti menghilangkan beban berat!

Ada begitu banyak pertanyaan unik yang kudapatkan, terutama mengenai hijab. Tentang bagaimana kami memakainya. Tentang alasan kami mengenakannya. Tentang peraturannya saat mengenakannya.

"They wear this because they want to look special in front of their future husbands," canda Mas Satya.

Kami tertawa.

"Rather than just a religion rule, hijab for me is the option I choose. I wear hijab because this is my option. (Daripada sekadar sebuah aturan agama, hijab buatku adalah sebuah pilihan yang kupilih. Aku mengenakan hijab karena ini pilihanku)," jelasku.

Aku tahu di dalam agama yang kuanut, menutup kepala bagi wanita adalah wajib. Namun, tidak, aku mengenakannya lebih dari sekadar peraturan agama. Ini adalah pilihanku di mana aku merasa aman karenanya. Agamaku mengatur hal seperti ini karena ini baik untukku dan aku tahu itu, karena itulah aku memilihnya.

"How do you cut your hair if you wear hijab?".

Aku tertawa saat mendengarkan pertanyaan ini. Unik sekali. This, again, is the first time I hear it.
"I can just put it off. Here we have options, we can put it off in a salon for moslem or put it off in public salon or maybe you can cut your hair yourself. I ever cut my hair by myself, but not so good. (Aku dapat melepasnya. Di sini (Indonesia) kami punya beberapa pilihan: melepasnya di salon khusus muslim, melepasnya di salon umum, atau memotong sendiri rambutmu. Aku pernah memotong sendiri rambutku, tetapi hasilnya tidak begitu bagus),".

Mas Satya dan Mas Aji kemudian juga menceritakan bahwa di Indonesia, lelaki bisa menikahi lebih dari satu wanita. Para mahasiswa AUT terheran-heran mendengarnya. "Is it love? (Apakah itu karena cinta?)," tanya mereka.

"Err...no, it's because they want to help the women. Back in 600 years ago there were many war in Arab land. It was men who went there, right? When they died, their wives became widow. Those who survived would marry them to help them socially. (Err...tidak, itu karena mereka ingin membantu para wanita. 600 tahun yang lalu banyak terjadi peperangan di tanah Arab. Para pria kan yang pergi berperang? Ketika mereka gugur, istri-istri mereka menjadi janda. Mereka yang bertahan hidup akan menikahi para janda itu untuk membantu mereka secara sosial)," jelas Mas Aji.

"But here, the reason is now different," kata Mas Satya. Aku tertawa. Apalagi kalau bukan nafsu semata. Sunnah Rasul katanya. Kalau mau menuruti sunnah, nikahilah janda-janda yang tua untuk membantu mereka. Rasulullah SAW tidak menikah lagi selama Khadijah ra. masih hidup. Nabi Ibrahim AS tidak menikah lagi sampai akhirnya Sarah menyarankannya karena sampai usia 80 tahun beliau belum dikaruniai anak. Ali bin Abi Thalib ra. menikah lagi setelah Fatimah ra. meninggal dunia. Utsman bin Affan ra. baru menikah lagi setelah Ruqayyah ra. meninggal.

"If it is my husband, I will never let him marry again! (Kalau itu suamiku, aku tidak akan pernah mengijinkannya menikah lagi!)," kataku disambut tawa kecil mahasiswa AUT.

"Can you marry another person with different religion?" tanya mereka.

"Here, no, it's difficult. Society will judge you,".

Sesi FGD berakhir jam setengah 4. Kami berfoto bersama, lalu aku sedikit mengobrol dengan mereka.

"I love some Taiwanese dramas. I have watched Meteor Garden all seasons. I  have also watched Poor Prince Taro. (Aku suka beberapa drama Taiwan. Aku sudah menonton semua season Meteor Garden. Aku juga sudah menonton Poor Prince Taro)," kataku.

"Ah, yeah!" Mereka mengerti, lalu menyanyikan salah satu soundtrack Meteor Garden, Liu Xing Yu. Aku pun ikut bernyanyi.

Hari yang menyenangkan.

* * *

Bus perjalanan pulang saat itu tidak begitu ramai. Ketika aku terbangun dari tidurku dalam bus, pemandangan di jendela membawa pikiranku melayang jauh.

It's better to be a humble sinner than an arrogant worshiper, begitu kata Imam Al Ghazali. Aku banyak melihat fenomena arrogant worshiper dalam penganut agama mayoritas negara ini. Berapa banyak orang yang di-judge tidak baik hanya karena tidak seagama atau tidak beragama dengan baik? Apakah orang baik harus selalu seagama? Apakah pemimpin yang baik selalu seagama?

Berapa banyak orang non-muslim baik di luar sana?

Kesalahan terbesar dalam belajar ilmu sosial adalah ketika memukul rata semua orang seperti rumus matematika. Membuat premis-premis seakan-akan manusia adalah susunan rumus. Kalau Islam baik, kalau kafir tidak baik. Sempit sekali ya.

Memangnya mereka yang dibilang kafir itu bukan manusia yang mengerti nilai moral? Bukankah mereka juga tahu dan diajarkan bahwa membunuh dan mencuri itu sesuatu yang salah? Bukankah mereka juga tahu dan diajarkan bahwa memberi dan mengasihi adalah perbuatan yang baik? 

Dan, yang paling dasar dan penting, bukankah mereka juga manusia ciptaan Tuhan yang kita sembah?

Para arrogant worshiper itu mungkin hanya melihat agama sebagai doktrin kaku. Selama aku berinteraksi dengan mereka, hal-hal yang selalu keluar dari lisan mereka tidak lain hanyalah, "Agama melarang perbuatan ini di ayat ini," tanpa tafsir mendalam, lalu berkata, "Kamu sesat, salah, pendosa,", lalu merasa sudah melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar karena sudah "mengingatkan". Ya, "mengingatkan". Kuberi tanda kutip karena mereka mengatakannya seakan sebagai wakil Tuhan di muka bumi. 

Padahal...siapa yang tahu bagaimana akhir hidup seseorang?

Bukankah mereka bisa saja mati dalam keadaan kafir dan kafir bisa mati dalam keadaan muslim?

Ketika dahulu kala aku menceritakan perbuatan teman yang ini dan itu, Mama sering mengajarkanku untuk tidak berburuk sangka. "Siapa tahu kan mereka lebih baik dari kamu,", "Siapa tahu kan mereka pakai hijab nanti,", "Siapa tahu kan mereka dapat hidayah,". Kata-kata itulah yang selalu ditekankan Mama. Persis Mr. Izz ketika menasihatiku untuk tetap berbuat baik kepada siapa saja. "Memang kamu lebih baik dari mereka?" begitu beliau menasihatiku. Ketika mengingatnya, kurasa merekalah moslem role model dalam kehidupanku sehari-hari. Orang-orang yang melihat Islam sebagai jalan hidup, bukannya doktrin kaku. 

Ketika Islam dijadikan jalan hidup, maka rasanya kecil sekali para manusia ini di hadapan penciptanya. Bahwa Dia tahu apa yang tidak mereka tahu. Dia tahu dan memberikan hidayah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. 

Yah, apalah para manusia yang selalu berkata, "Kafir itu tidak baik, jahat, zalim," dengan lagak tahu segalanya di hadapan pencipta mereka yang lebih tahu.



Yours,
Anissa Antania Hanjani



Diah, Me, and our Taiwanese friends. They are interesting!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...