Akhirnya setelah sekian hari, aku bisa main ke SMA ABBS lagi. Yeay!
Setelah bertemu Jihan yang sudah kuanggap adikku sendiri, aku menemui Mr. Izz. Ada hal yang menggangguku dan aku butuh diskusi sama beliau. Haha, kan sudah 3 tahun ini beliau menjadi teman diskusi, ayah, sekaligus guruku.
"Bijak nggak sih, kalau aku mempersiapkan ideologi yang kuanut sebelum kuliah? Akan ada banyak ideologi saat kuliah nanti, kan?" tanyaku siang itu.
"Malah bagus keputusanmu itu. Jadi kamu jelas arah hidupnya," jawab beliau.
Kami membahas banyak hal dan salah satunya aku kembali menyinggung feminisme. Aku ingin memastikan apakah logikaku benar tentang apa yang disebut kebebasan. Memastikan saja.
"Yah, mendengarmu saya ingat anak kelas Sumayyah pernah mengatakan kalau HAM itu pembodohan," ujar beliau.
Oh, yeah. Aku setuju, batinku. HAM itu pembodohan. Hanya karena seseorang memiliki apa yang dinamakan hak asasi mereka bebas semaunya. Itu pemikiran bodoh. Di dunia ini tidak pernah ada kebebasan mutlak. Itu mitos. Di Barat pun ada peraturan yang membatasi kebebasan. Contoh, di Itsukushima (Jepang), Longyearbyen (Norwegia), dan Falciano del Massico (Italia), jika kita tidak boleh meninggal di sana. Ha? Konyol, tapi memang benar. Cari saja apa alasannya di internet. Hum, apalagi larangan berjilbab di Perancis.
"Tidak ada satu pun yang mutlak di dunia ini. Tidak ada kebenaran mutlak. Tidak juga ada kebebasan mutlak," kata Mr. Izz. "Sempit sekali pikiran mereka kalau ada yang bilang harus bebas sebebas-bebasnya. Bebas itu di mana-mana akan selalu dibatasi nilai moral,"
Teruskan, Sir, batinku. Iya, kalau ingin bebas sebebas-bebasnya, jauh-jauh sana ke hutan!
"Yang kamu ceritakan tadi, tentang pakaian ya, pada akhirnya itu juga dibatasi nilai moral di sini,"
"Logikanya nggak banget deh, Sir," ujarku. "Dia buat status tentang, yah, tutup pahamu, nanti digoda laki-laki tahu rasa. Oh, kalau gitu tutup juga mukamu, biar ga dicolek-colek cowok,"
"Kamu benar," Mr. Izz setuju. "Gini deh, ya. Dia sepertinya nggak paham analogi tubuh manusia. Memangnya ada orang yang langsung terangsang melihat hidung?"
Kami tertawa. Jackpot, Sir!
"Ada alasan mengapa bagian ini harus ditutup, mengapa yang lain tidak. Agama kita logis menjelaskan semua itu," kata beliau.
"Sebenarnya aku ingin membahasnya lepas dari agama, Sir. Sepertinya dia ateis," jelasku. Lagipula aku belum berani nyatut ayat tanpa tahu makna sesungguhnya, tambahku dalam hati. Wah, aku harus segera belajar tafsir, nih!
"Esensi kita berpakaian sesungguhnya adalah melindungi diri dari godaan laki-laki, hewan, angin, dan cuaca. Kalau merasa butuh mereka akan sadar esensi berjilbab yang sebenarnya. Jilbab itu bukan kewajiban belaka, melainkan kebutuhan," jelasku.
Mr. Izz mengangguk setuju.
Analoginya, hm...begini. Katamu, tubuh itu indah. Orang yang memperlihatkan keindahan perhiasannya biasanya akan jadi sasaran kejahatan, misal perampokan. Hm, kalau itu tubuh...kau mau tubuhmu diapa-apain hanya sekedar untuk dikagumi keindahannya? Aku sih, ih, jijik banget! Ogah!
Mr. Izz, sekali lagi, terima kasih untuk penjelasannya!
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Setelah bertemu Jihan yang sudah kuanggap adikku sendiri, aku menemui Mr. Izz. Ada hal yang menggangguku dan aku butuh diskusi sama beliau. Haha, kan sudah 3 tahun ini beliau menjadi teman diskusi, ayah, sekaligus guruku.
"Bijak nggak sih, kalau aku mempersiapkan ideologi yang kuanut sebelum kuliah? Akan ada banyak ideologi saat kuliah nanti, kan?" tanyaku siang itu.
"Malah bagus keputusanmu itu. Jadi kamu jelas arah hidupnya," jawab beliau.
Kami membahas banyak hal dan salah satunya aku kembali menyinggung feminisme. Aku ingin memastikan apakah logikaku benar tentang apa yang disebut kebebasan. Memastikan saja.
"Yah, mendengarmu saya ingat anak kelas Sumayyah pernah mengatakan kalau HAM itu pembodohan," ujar beliau.
Oh, yeah. Aku setuju, batinku. HAM itu pembodohan. Hanya karena seseorang memiliki apa yang dinamakan hak asasi mereka bebas semaunya. Itu pemikiran bodoh. Di dunia ini tidak pernah ada kebebasan mutlak. Itu mitos. Di Barat pun ada peraturan yang membatasi kebebasan. Contoh, di Itsukushima (Jepang), Longyearbyen (Norwegia), dan Falciano del Massico (Italia), jika kita tidak boleh meninggal di sana. Ha? Konyol, tapi memang benar. Cari saja apa alasannya di internet. Hum, apalagi larangan berjilbab di Perancis.
"Tidak ada satu pun yang mutlak di dunia ini. Tidak ada kebenaran mutlak. Tidak juga ada kebebasan mutlak," kata Mr. Izz. "Sempit sekali pikiran mereka kalau ada yang bilang harus bebas sebebas-bebasnya. Bebas itu di mana-mana akan selalu dibatasi nilai moral,"
Teruskan, Sir, batinku. Iya, kalau ingin bebas sebebas-bebasnya, jauh-jauh sana ke hutan!
"Yang kamu ceritakan tadi, tentang pakaian ya, pada akhirnya itu juga dibatasi nilai moral di sini,"
"Logikanya nggak banget deh, Sir," ujarku. "Dia buat status tentang, yah, tutup pahamu, nanti digoda laki-laki tahu rasa. Oh, kalau gitu tutup juga mukamu, biar ga dicolek-colek cowok,"
"Kamu benar," Mr. Izz setuju. "Gini deh, ya. Dia sepertinya nggak paham analogi tubuh manusia. Memangnya ada orang yang langsung terangsang melihat hidung?"
Kami tertawa. Jackpot, Sir!
"Ada alasan mengapa bagian ini harus ditutup, mengapa yang lain tidak. Agama kita logis menjelaskan semua itu," kata beliau.
"Sebenarnya aku ingin membahasnya lepas dari agama, Sir. Sepertinya dia ateis," jelasku. Lagipula aku belum berani nyatut ayat tanpa tahu makna sesungguhnya, tambahku dalam hati. Wah, aku harus segera belajar tafsir, nih!
"Esensi kita berpakaian sesungguhnya adalah melindungi diri dari godaan laki-laki, hewan, angin, dan cuaca. Kalau merasa butuh mereka akan sadar esensi berjilbab yang sebenarnya. Jilbab itu bukan kewajiban belaka, melainkan kebutuhan," jelasku.
Mr. Izz mengangguk setuju.
Analoginya, hm...begini. Katamu, tubuh itu indah. Orang yang memperlihatkan keindahan perhiasannya biasanya akan jadi sasaran kejahatan, misal perampokan. Hm, kalau itu tubuh...kau mau tubuhmu diapa-apain hanya sekedar untuk dikagumi keindahannya? Aku sih, ih, jijik banget! Ogah!
Mr. Izz, sekali lagi, terima kasih untuk penjelasannya!
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar