Ini udah entah berapa hari aku di rumah. Hari ini adalah hari ketiga aku menikmati sinar matahari di luar rumah. Oh, by the way, selamat hari pendidikan nasional. Semoga kelak aku menyusul menjadi komponen pendidikan lagi. Segera, dalam waktu empat tahun ini. Maksud? Haha. Semoga aku segera selesai kuliah dan mengajar! Aamiin.
Hari ini aku kembali ke perpustakaan kota. Aku tidak pernah menyangka ada banyak orang yang mengunjungi perpustakaan ini. Aku suka tempatnya, begitu cozy dan nyaman untuk belajar. Refreshing...um, ada sekitar enam rak penuh novel dan komik yang siap kuaduk-aduk, meski sejujurnya aku lebih suka novel-novel yang ada di perpustakaan SMP lamaku dulu. Aku kangen beberapa serial novel yang ada di sana. Serial Seikei Konoike misalnya, petualangan seorang pemuda anak pebisnis untuk menjadi samurai, tetapi ditentang oleh ayahnya. Ada tiga novel yang termasuk dalam serial tersebut dan aku baru membaca yang Tokaido Inn dan In Darkness, Death!, kurang satu lagi dan aku akan melengkapi semua serial karangan Dorothy dan Thomas Hobbler itu. Aku dulu juga menghabiskan serial Harry Potter buku satu sampai enam (yang ketujuh sudah baca saat kelas 6 SD, pinjam teman). Pun tak ketinggalan serial Twilight karangan Stephenie Meyer. Well, dampak membaca novel-novel itu membuatku malas untuk menonton filmnya karena akan merusak semua "film" yang sudah kutonton dalam kepalaku ketika membaca semua buku itu.
Hm, jadi kangen SMP dulu.
Perpustakaan SMP adalah tempat yang ajaib bagiku. Tempatnya sepi, penjaga perpusnya galak, dan banyak novel berderet-deret. Di sana anehnya aku malah mendapat komunitas sendiri. Aku bersahabat dengan adik-adik kelas yang sama-sama suka ke perpustakaan. Biasanya sebelum jam ekstra dimulai hari Jumat siang, kami akan ngumpul untuk sekadar membaca bersama.
Well, kegiatan sebenarnya tidak sebatas di tempat itu. Selain perpustakaan, aku juga mengikuti beberapa kelas ekstra. Anak kelas IX SMP biasanya tidak mengikuti banyak ekskul, tetapi hal itu tidak berlaku bagiku. Aku kesepian di rumah kalau orangtuaku bekerja, makanya ikut ekskul adalah alternatif menyenangkan bagiku. Aku ikut empat ekskul, satu di hari Rabu sepulang sekolah dan sisanya di hari Jumat. Hari Rabu adalah jadwalnya English Club. Ini English Club kedua bagiku setelah di SD kelas satu dulu. Well, English Club cukup menyenangkan. Berkat English Club di SMP aku berkesempatan mengikuti ICAS (International Competitions and Assessments for Schools).
Selain English Club, tiga ekskul lainnya di hari Jumat adalah Islamic Club (jam dua siang), OSN IPS (jam satu siang), dan Indonesian Club (jam satu siang). Islamic Club...hm, dulu ekskul ini yang membuatku sering ikut MTQ. Haha. Aku juga tidak menyangka punya pengalaman ini. Aku tiga kali ikut MTQ di cabang yang sama, tilawatil Qur'an. Aku pernah jadi juara dua, tetapi entahlah aku lupa bagaimana perasaanku saat itu. Bahkan aku benar-benar lupa pernah ikut MTQ, haha. Kalau di SMA sekarang yaa...ada semacam itu, tetapi bukan ekskul, di pelajaran senbud. Kelas senbud terakhir yang diikuti Yusuf Habibi.
Indonesian Club. Aku mengikutinya karena suka menulis. Bu Rita adalah pengampunya, sekaligus guru bahasa Indonesia di kelasku. Berkat ekskul ini, aku beberapa kali mengirimkan artikel di majalah sekolah, tetapi yang mengherankan bukan dalam bahasa Indonesia. Well, sekali dalam bahasa Inggris ketika menyajikan biografinya Ludwig van Beethoven, pianis favoritku, dan dua kali dalam aksara Jawa (yang aku yakin tidak ada yang tertarik membacanya). Jadi bingung apa tujuanku ikut ekskul ini (hadeh). Namun, setidaknya hafalan aksara Jawa di SD dulu jadi nggak hilang. Ekskul ini tabrakan dengan OSN IPS, tetapi karena tugasku di OSN IPS hanya menggantikan pengampu mengajar, aku lebih leluasa mengatur waktunya.
Then, OSN IPS. Aku sebelumnya sudah ikut dari kelas VIII. Bu Ana, guru IPS-ku, yang merekomendasikanku untuk ikut setelah melihat presentasiku di kelas tentang demografi. Setelah ikut Ganesha Science Olympiad di SMA N 3 Semarang, aku hanya ditugaskan mengajar kalau pengampunya berhalangan. Jadi bisa ikut Indonesian Club. Ekskul ini yang mengenalkanku lebih dalam sama IPS and truly, I loved it more than English di jaman-jaman SMP (kalau di SMA...ya, fifty-fifty, hehe). Well, thanks to this club, aku menjadi juara satu OSN IPS se-kabupaten dan membuatku mengenal teman-teman training center yang ngangenin abis!
SMP? Well, kalau diingat lagi aku punya kenangan manis, kok. Meski kebanyakan di kelas IX. Main ke Festival Orenji di Undip bareng Channa-chan, main ke festival Jepang-Korea dan ngeliat bencong nge-dance lagunya Girls' Generation yang I Got A Boy (wkwk), masak-masak di rumah Enjang bareng Channa-chan dan Rifqi daann....selama masak-masak itu aku dikerjain Rifqi dan si empunya rumah. Sepatuku dibuang ke kali dan ke kandang ayam (and yes, aku takut ayam, aku ngamuk begitu berhasil dapetin sepatuku lagi). And then, ikutan klub jazz yang dibentuk Moritz, native speaker asal Perancis, dan main-main bareng bule-bule native speaker di Kampung Seni Lerep. Main Moto GP bareng teman-teman cowok dan pulang maghrib (diomelin Papa Mama, of course) juga seru. Well, sisanya kenangan main game bareng teman-teman cowok di LBMS. Aku satu-satunya anak perempuan yang ikutan main Counter Strike. Aku memang nggak jago, tapi aku tetap suka game itu.
Haha. Masa-masa tomboy.
Satu yang akan selalu kukenang...well, aku dulu punya teman yang buatku keren. Namanya Marcello. Dia native speaker asal Italia. Aku mengenalnya ketika guruku privat bahasa Inggris mengajakku bertemu dengannya. Aku dulu sempat bertukar nomor ponsel dan email, sempat SMS-an, dan kami bertemu saat sekolahku bekerja sama dengan lembaga yang mengirimnya ke Indonesia untuk membuat kegiatan bahasa Inggris di Kampung Seni Lerep. Hanya siswa tertentu saja yang ditunjuk untuk ikut kegiatan tersebut dan aku salah satunya. Aku senang ketika wali kelasku merekomendasikanku ikut kegiatan itu setelah tahu Marcellp akan ikut juga. Well, aku kehilangan email-nya sehingga aku lost contact setelah Marcello pulang ke Italia. Guru privatku bilang dia sampai menangis saat harus pulang ke tanah airnya. Aku banyak mendengar ceritanya dari guru privatku itu. Dia pemuda yang bersemangat belajar bahasa Indonesia. Setiap sore dia bermain sepak bola dengan anak-anak kampung di home stay-nya. Aku terkadang berharap akan bertemu dengannya lagi.
Mungkin suatu hari aku yang akan pergi ke Italia untuk menemui Marcello, ya? Semoga saja.
Satu yang akan selalu kukenang...well, aku dulu punya teman yang buatku keren. Namanya Marcello. Dia native speaker asal Italia. Aku mengenalnya ketika guruku privat bahasa Inggris mengajakku bertemu dengannya. Aku dulu sempat bertukar nomor ponsel dan email, sempat SMS-an, dan kami bertemu saat sekolahku bekerja sama dengan lembaga yang mengirimnya ke Indonesia untuk membuat kegiatan bahasa Inggris di Kampung Seni Lerep. Hanya siswa tertentu saja yang ditunjuk untuk ikut kegiatan tersebut dan aku salah satunya. Aku senang ketika wali kelasku merekomendasikanku ikut kegiatan itu setelah tahu Marcellp akan ikut juga. Well, aku kehilangan email-nya sehingga aku lost contact setelah Marcello pulang ke Italia. Guru privatku bilang dia sampai menangis saat harus pulang ke tanah airnya. Aku banyak mendengar ceritanya dari guru privatku itu. Dia pemuda yang bersemangat belajar bahasa Indonesia. Setiap sore dia bermain sepak bola dengan anak-anak kampung di home stay-nya. Aku terkadang berharap akan bertemu dengannya lagi.
Mungkin suatu hari aku yang akan pergi ke Italia untuk menemui Marcello, ya? Semoga saja.
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar