Langsung ke konten utama

Nostalgia III: SMA, SMA, SMA

Ada satu hal yang hari ini membuatku pingin nangis di tengah jalan tadi siang (alay, ga nangis, cuma flashback aja sebenarnya). Siang ini sepulang dari perpustakaan, ada mbak-mbak yang nyegat bus yang biasa kutumpangi ke Solo. Aku kaget karena bus itu berhenti tepat di depanku, lalu pintunya terbuka. Benar-benar tepat di depanku, astaga! Bisa saja aku segera naik bus itu dan pergi, toh uangku cukup. Hm, tapi kan aku belum ijin?

Kalau dibandingkan dari semua masa sekolah, foto-foto bareng teman lebih banyak di SMA. Di SMP aku jarang foto sama teman-teman, soalnya aku lebih sering memotret dibanding dipotret, sih. Rasanya pingin nanti nge-print foto-foto itu, terus dipajang di kamar. Kebetulan sekali kamarku sedang didekorasi (dan pastinya aku sendiri dong yang mendekorasi, yuhu). 

Sedikit-banyak hobiku bertambah di SMA. Karena sering pergi-pergi, entah kenapa jadi semakin suka memotret meski hanya lewat kamera ponsel. Pulang-pergi Solo-Ungaran biasanya selain kuhabiskan dengan mendengarkan lagu-lagunya Arashi, aku akan memotret langit. Pun begitu saat aku iseng meminjam kamera DSLR teman-teman. Langit adalah objek kesukaanku di SMA. Aku suka lama-lama berdiri di jendela untuk menikmati langit, entah itu cerah, berawan, atau mendung. Selama kelas XI sampal awal kelas XII aku suka diam-diam pergi dan memanjat atap boarding, tiduran di sana, menatap langit malam yang terkadang mendung atau cerah, berbintang, dan tanpa awan. Angin malam meniupku sepoi-sepoi. Itu benar-benar suasana magis buatku.

Yah, itulah hobi-hobi baruku selama di SMA. Memotret, menatap langit, dan (satu lagi) duduk berlama-lama menatap laut. Well, karena rihlah boarding sering banget tujuannya ke pantai-pantai di kawasan Gunungkidul, aku suka menatap laut. Rasanya tenang...banget kalau lihat laut.

* * *

Well, di SMA ini juga pertama kalinya aku menemukan guru which he understands me a lot and so do I. Yups, Mr. Izz. Beliau...hm, guru, orangtua, sekaligus teman bicara yang menyenangkan. Ada satu hal yang nggak pernah kudapatkan sebelumnya ketika ngobrol bareng beliau. 

"When you have a chat with me like this, you are my friend. Even when we are outside the school, I'm not your teacher. But, when we are in class, you are my student," itu kata-kata yang sering kudengar ketika sedang ngobrol bareng beliau.

Hm, ada salah satu dari banyak hal tentang beliau yang berkesan banget. Ketika di suatu hari Rabu aku ketahuan mati-matian menahan tangis di kantor guru, jengkel sama Mr. Izz dan Mr. Dimas. Jengkel banget rasanya. Lagi butuh dorongan malah...yah, gitu deh. Sorenya ketika pulang sekolah, saat aku sedang memasukkan barang-barangku di meja kantin, aku bertemu beliau. Memang saat itu sedang mati lampu, tapi aku kenal dong dari postur tubuh dan suara.

"Hey, you!" Beliau tertawa. "You look so dark there!"

Uuh, mendengarnya saja rasa kesalku semakin berlipat-lipat. Untung itu bukan Mr. Dimas, aku lebih jengkel kalau itu beliau, batinku. 

"If you are here not to answer my question, I better go!" kataku kesal.

Beliau malah tertawa. "What's wrong with you? I thought you are tough enough to face all of this!"

"I do," ucapku enggan.

"Do or not?" Lagi-lagi beliau tertawa.

Karena kehilangan motivasi, semangat, dan lain-lain, plus lagi ada masalah juga, aku benar-benar kehilangan segalanya hari itu. Akhirnya aku menggeleng.

Akhirnya beliau mulai bicara banyak tentangku. "You are tough, even you are the toughest student in this school," kata beliau. Beliau cerita banyak hal tentang aku. "Ada beberapa murid di sini yang saya kerasin terus atau yang saya bercandain terus. Kamu beda. Kalau sama kamu, saya bercanda bisa, serius bisa. Kamu dijauhkan akan tetap mendekat, kalau dibanting berkali-kali tetap akan berdiri sendiri," lanjut beliau. Selama aku mendengar banyak hal dari beliau tentang diriku sendiri, aku jadi tahu banyak hal tentangku yang sometimes aku sendiri nggak nyadar. Aku baru sadar, selama ini aku tegar juga.

Jadi ingat something. Ah, iya. Dulu setelah bubar English Camp di Segoro Gunung, aku ngobrol dengan Mr. Izz ketika penerimaan rapor. Aku kasih lihat surat-surat dari tutor-tutor FEE Center Pare untukku, soalnya aku bingung kenapa rata-rata mereka menulis bahwa aku berbeda dari kebanyakan murid. Beliau tertawa saat membacanya. "Saya tahu itu. Mereka benar, kok," tanggap beliau. Aku yang penasaran terus bertanya apa itu. Beliau menolak menjawab. "Kill me first, then I will answer you. I will never tell it to you even if I die later!" kata beliau setengah bercanda.

Well, sore itu mungkin pertanyaanku selama dua tahun terjawab. Sore itu, aku merasa 90% baikan setelah mendengar apa yang beliau sampaikan.

"Banyak hal yang mungkin tidak akan kuat ditampung dalam hati kecilmu. Karena itu, menangis adalah obat terbaik," kata beliau.

Aku menyadari air mataku mulai mengalir. Uh, untung mati lampu, jadi tidak ada orang lewat yang menyadariku sedang menangis. Kantin terletak di koridor lantai satu yang penuh siswa, gawat kan kalau aku ketahuan menangis.

"Sudahlah, menangis saja! Seperti ini baru pertama kali saja saya melihatmu menangis," Mr. Izz tertawa.

Bukannya menangis, aku malah tertawa keras. Oh, iya ya. Dari dulu sampai sekarang Mr. Izz tahu banget saat-saat ketika aku menangis. Ketika kena masalah dan kalah lomba, aku menangis sedih di dua momen itu.

"Uh, untung aja bukan Mr. Dimas yang di sini," Aku tertawa, lalu mengusap mataku yang basah.

"Tambah dibantai kamu nanti," ujar beliau.

Well, akhirnya aku bisa tertawa sore itu. Terutama ketika beliau bilang, "...makanya saya sedih bulan Maret nanti,"

Aku lupa bagaimana aku menanggapi kata-kata beliau saat itu. Pokoknya, akhirnya beliau bilang, "Bukan! Maret-April kamu sudah nggak di sini lagi!"

Akhirnya aku tertawa keras sekali. Ya ampun! Beliau bakal kangen nih kalau aku sudah nggak di sekolah lagi. 

My God, Sir, batinku. Thanks for making me feel better and better.

Aku dan Mr. Izz dekat dari kelas X semester dua. Beliau ahli sekali membaca auraku. Beliau tahu aku sedang ada masalah bahkan sebelum aku cerita. "Auramu gelap banget hari ini. Ada apa?" begitu cara beliau bertanya. Atau, "Hari ini kamu senang sekali. Ada apa?" ketika aku tampak senang. Kata beliau sih, kalau diumpamakan, mood-ku itu naik-turun persis seperti gelombang. Yups, aku mood swinger akut. Beliau yang paling banyak komentar ketika melihatku jalan sendirian, tetapi sebenarnya beliaulah yang tahu persis kenapa aku memilih jalan sendirian di sekolah dan nggak ngumpul sama siapa-siapa. 

And that's why he becomes my most favorite teacher. Karena aku tidak perlu banyak menjelaskan tentang diriku dan ketika aku harus menjelaskannya, perasaanku ringan. Because from all teachers I've ever met, beliau yang paling pengertian dan sederhana.

* * *

SMA. Satu-satunya yang aku sayangkan di sini adalah perpustakaannya yang tidak sebesar sekolah-sekolahku sebelumnya. Sisanya...aku menjalani hari-hari yang beraneka rasa. Terkadang gelap, terkadang hanya semburat, terkadang cerah, kira-kira begitu kalau diumpamakan. 

Teman-teman yang luar biasa, sekolah yang menyenangkan, dan boarding yang penuh rasa membuat Solo menjadi kampung halaman kedua bagiku. Ah, aku selalu ingin kembali ke sini. 






Mitarashi Hana 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...