Langsung ke konten utama

Lagi-Lagi Sebuah Ide

Feminisme.

Aku nggak habis pikir mengapa banyak perempuan-perempuan yang berteriak atas nama kata itu untuk bebas berpakaian semau mereka. Maksudku, mengapa sih sampai segitunya?

Akun FB milik Mita Handayani, or who the hell she is, siapapun dia, menguatkan rasa penasaranku. Apa iya sih, begitu? Apa iya sih kecantikan tubuhku harus diperlihatkan? Selama ini aku tak pernah bermasalah dengan hijab lebar yang mulai kukenakan 3 tahun yang lalu. Sama sekali. Malah aku berpikir, apa sebaiknya suatu hari nanti aku ber-niqab (bercadar) sekalian ya? Terserah jodohku nanti, deh. Hehe.

Kenapa sih, aku berpikir begitu? Pengalamanku selama di Solo. Aku pernah jalan bertiga sama temanku, di depan kami ada dua perempuan berjilbab, tetapi (maaf) lekuk tubuh mereka masih terlihat. Ketika dua perempuan itu melewati segerombolan laki-laki, mereka langsung digodain dan tentu saja mereka risih. Sementara kami yang lewat setelah mereka, justru didiamkan saja.

"Ya ampun, sudah pakai jilbab saja masih digodain. Alhamdulillah, berarti insya Allah pakaian kita sudah benar," kata salah satu temanku.

Rata-rata itulah pengalaman yang kualami. Aku semakin merasa aman dengan pakaian yang sekarang kukenakan. Secure banget. Dan aku juga setuju akan pendapat bahwa pakaian itu bukan semata modis saja, tetapi menjaga kita tetap aman. Esensi kita berpakaian kan untuk melindungi tubuh dari gangguan hewan, angin, dan cuaca. Kok masih ada aja ya yang tidak mau berpakaian dengan sopan?

Okelah, wanita Indonesia jaman dahulu rata-rata (maaf) bertelanjang dada. Yah, tapi itu kan yang membuat bangsa-bangsa penjajah berpikir kita udik dan bodoh. Jaman dahulu pakaian orang Barat sopan-sopan, lho. Aku jujur aja kagum banget sama pakaian perempuan mereka yang gaunnya berlengan panjang, berkaus kaki, dan bersepatu. Pastinya, minimal itu sudah membuat mereka feel secure, kan? Dan pakaian itu membuat mereka terlihat terdidik dan pintar.

Kita ini manusia, oke? Kita bukan (maaf) hewan yang (maaf) ke mana-mana telanjang, bukan? Hewan yang membintangi pertunjukan dipakaikan pakaian yang belum menutup keseluruhan. Kita manusia, pakai pakaian yang minimal akan membuat kita merasa aman dari godaan-godaan jaman sekarang.

Dan, oh, by the way, girls, kita kudu hati-hati. Sekarang sedang musim pemerkosaan di Indonesia.



Sincerely,
Anissa Antania Hanjani


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...