Sabtu, 21 Mei 2016. Begitu upacara kelulusan hal pertama yang kupikirkan adalah berfoto. Harus. Kapan lagi kan bisa foto-foto bareng guru-guru dan teman-teman? Bisa jadi ini kali terakhir.
"Miss, Miss, fotoin aku sama Antania dong, Miss!"
Guru pertama yang mengajakku berfoto adalah Miss Lukluk, wali kelasku. Haha, aku lumayan dekat dengan beliau dan biasanya saking manjanya aku memanggil beliau 'Bunda'. Beliau yang menemaniku ke Semarang dengan Miss Wochy dan Miss Tata ketika aku secara mendadak diumumkan masuk olimpiade tingkat provinsi. Wah, kalau diingat sepertinya aku dan Miss Lukluk sebenarnya bukan hanya lumayan, kami cukup dekat juga.
Setelah foto dengan Miss Lukluk, aku menagih janji kepada dua guru favoritku untuk foto bareng saat aku wisuda nanti. Yeah, Mr. Izz dan Mr. Dimas. Aku belum tentu akan bertemu guru-guru seperti mereka lagi, jadi foto bareng dengan mereka adalah agenda wajib.
* * *
Ah, uniknya Mr. Izz dan Mr. Dimas sebenarnya terletak pada persamaan kesan pertamaku kepada beliau berdua. Sama-sama mengesalkan pas awal-awal ketemu dan akhirnya jadi guru favorit setelah ngobrol cukup lama. Mr. Izz dulu juga sama sekali nggak menyukaiku saat awal-awal ketemu, nggak tahu kalau Mr. Dimas.
"Pertama kali saya ketemu kamu di kelas Ha...jar ya? Saya nggak suka sama kamu. Beneran nggak suka," kisah Mr. Izz.
Memangnya aku juga suka, Sir, batinku. Dulu kesan pertamaku sama Mr. Izz sumpah nggak banget. Galak dan sok ngatur.
"Kamu aneh. Aneh banget. Ke mana-mana sendirian kayak anak ilang. Sampai suatu hari saya akhirnya ngobrol denganmu, baru di situ saya tahu kamu benar-benar unik. Beda dari murid lain yang dulu saya ajar. Bahkan, jujur saja, ini pertama kali saya bertemu murid sepertimu,"
Dulu pas awal-awal kenal, aku dan Mr. Izz memang sama-sama saling nggak suka. Mr. Izz mengira aku judes abis, sementara di mataku Mr. Izz adalah orang yang nggak bisa diajak senang-senang. Baru setelah di semester dua kami mengobrol, pandangan kami masing-masing berubah.
Selain guru favorit, Mr. Izz adalah pelatihku dalam segala lomba bahasa Inggris yang kuikuti dan yang paling sering menemani. Pas pada ke Jogja buat olimpiade JSIT dulu, cuma Mr. Izz pelatih yang menelponku dan bertanya gimana lomba kemarin, prediksinya juara atau nggak, gimana persiapannya, dan lain sebagainya. Terharu deh, Sir. Haha.
Sementara Mr. Dimas...um, ketemu pertama kali pas beliau jaga UAS 2 di kelasku, tetapi setelah itu terlupakan karena study tour, haha. Baru ketemu lagi pas bulan Ramadhan dan beliau mengenalku (yang sebenarnya, bukan yang pas di kelas pas jaga dulu) karena Mr. Izz.
"Aku penasaran deh, Sir," kataku pada Mr. Izz suatu hari setelah 3 hari kenal Mr. Dimas. "Mr. Dimas kayaknya kepo banget sama aku. Emang pas Mr. Izz bilang, 'She is the one I've told you,' Mr. Izz bilang apa, sih?"
"Saya bilang," Mr. Izz tertawa. "Saya punya murid gila,"
Aelah, Sir. Aku langsung tepuk jidat.
"Ya ampun, Sir! Pantesan beliau jadi kepo banget sama aku! Mr. Izz bikin canggung hubungan murid dan guru baru!" kataku kesal.
"Awal-awalnya dia emang liar kok, tapi nanti kamu juga terbiasa," ujar beliau. "Ceritanya saya kan ngobrol-ngobrol lama sama dia, eh ternyata dia gila juga. Terus saya bilang, 'Di sini ada murid yang gila juga,'. Dia tanya siapa, terus saya sebut nama, deh,"
Oke, ini semua bermula ketika 3 hari yang lalu sebelum ngobrol dengan Mr. Izz itu, aku dicegat Mr. Dimas sepulang sekolah dan kami mengobrol. Aku nggak terbiasa ditahan, soalnya kan aku jadi mikir macam-macam seperti, "Salahku apa, ya?", "Duh, harus ngomong apa nih,", dan lain sebagainya. Plus, aku orang yang canggung banget sama orang yang baru kukenal. Aduh!
Lain kali jangan nyegat gitu aja dong kalau mau ngajak ngomong, Sir, batinku geli tiap ingat kejadian itu. Emangnya aku kendaraan umum?
Beda dengan Mr. Izz yang aku belum pernah lihat beliau gimana kalau marah, Mr. Dimas adalah orang kedua yang paling kutakuti kalau sedang marah. Duduk di depan beliau kalau orangnya sedang marah itu rasanyaaa...ugh, nggak bisa diungkapkan. Serem banget. Auranya terutama, kalau sedang marah kelihatan sekali. Sementara Mr. Izz, hm, aku belum pernah dimarahi beliau, sih. Hanya saja aku bisa menebak dari cerita-cerita beliau dan kurasa kalau Mr. Izz marah, pasti seram sekali.
"Kamu jangan pernah coba-coba buat saya marah, ya. Meskipun itu kamu, saya nggak segan-segan bawa golok, lho. Saya paling nggak suka kalau kepercayaan dari saya diselewengkan," kata Mr. Izz suatu hari.
Dan...sejak perkataan beliau itu, beliau adalah orang pertama yang paling kutakuti kalau marah.
Meski begitu, ngumpul dengan beliau bertiga itu asyiknya nggak ada yang bisa nggantiin. Apalagi kalau hujan sedang turun. Ngobrol dengan guru favorit dan hujan sedang turun rintik-rintik, suasananya teduh-teduh gimana gitu. Meski beda juga sih rasanya. Kalau aku lagi ngobrol dengan Mr. Izz, Mr. Dimas pasti ikutan nimbrung, sementara kalau aku lagi ngobrol dengan Mr. Dimas, Mr. Izz nggak ikut-ikutan.
Bersyukur banget punya guru-guru seseru beliau berdua. Beneran.
Dan suatu kehormatan bisa jadi murid favorit beliau berdua.
* * *
"Mr. Izz, jangan lupa besok kita bertiga foto bareng, ya!"
"Trio crazy, huh? Just remind me,"
Foto terakhir setelah kelulusan. Akhirnya bisa foto bareng juga. Thanks buat tahun-tahun terhebat di SMA ya, Sir!
Sincerely Yours,
Anissa Antania Hanjani

Hmmm, Galak, kepoan... masa sih beliau kayak gitu? hehe...
BalasHapusKok baru nyadar sih, Sir? 😜
BalasHapusAbis ini jangan bikin artikel apa2 tentangku di blog ya, Sir. Nanti dikenang sebagai murid paling rese' se abbs. 😂😂