Good morning, ABBS. How are you there?
Aku lagi di rumah dan ketika aku ingat harusnya aku masuk sekolah, aku jadi kangen all my crazy friends there, mulai dari yang masih ada sampai yang sudah pindah. Dan hey, berasa ya kalau ternyata aku sudah tua. Bentar lagi aku bakalan 'terusir' dari sana. Aku bakalan pergi sebentar lagi, entah ke mana.
Jadi angkatan pertama dari sebuah sekolah itu ternyata lebih banyak suka ketimbang duka. Meski masih apa adanya yang ada dulu itu, tapi kalau ingat our high enthusiasm to bring this school fly higher, semua terasa lengkap. Yah, meski sedih juga kalau ingat SMA itu hanya 3 tahun. Kenapa sih, nggak 6 tahun aja kayak SD gitu, biar bisa lebih lamaan sama teman-temanku?
Dulu ketika kami semua pertama kali datang, ABBS itu belum apa-apa, hanya pondasi bangunan. Kami numpang belajar di SD yang dinaungi yayasan yang sama dengan ABBS. Di sana kenalan sama mereka, bercandaan, belajar, dan hmm...kalau diingat lagi banyak juga ya yang udah kami lewati. OCM (Outbond, Camping, and Motivation) di barak tentara, renang di Tawangmangu, classmeeting pertama, lomba-lomba, fieldtrip, English Camp yang pertama ogah-ogahan buat ikut tapi malah berakhir bahagia, study tour...and everything.
Jadi angkatan pertama itu serasa jadi penguasa seluruh sekolah. Lantai tiga dulu masih kosong sehingga aku suka banget main-main ke atas dan kadang...ketemu juga sama makhluk aneh gitu (itu sahabatku kok, dulu dia juga suka main ke sana haha...). Meski kadang sedih kita nggak kejatahan libur US dan UN karena ga punya kakak kelas, tapi berasa banget keseruannya setiap hari.
Hal yang paling beda di ABBS menurutku adalah...pertama, guru-gurunya. Aku dulu sempat menghabiskan 3 tahun di sekolah negeri dan tempat terangker yang sering kali terpaksa kumasuki adalah kantor guru. Di sana kantor guru adalah...a place where I can talk to my favorite teachers. Dan baru pertama kali ini sih aku nggak punya guru yang nggak aku suka. Aku suka semua guru di sana, menurutku mereka keren. But still, kalau guru terfavorit aku selalu punya.
Kedua, teman-temannya. Well, dulu di ask.fm pernah ada yang tanya tentang siapa orang yang paling aku sebelin dan aku jawab I don't have any. Nggak ada yang aku sebelin di sana, meski kalau anyel ada juga kadang, tapi kan wajar dan pasti akan hilang juga. They're crazy dan ngangeninnya setengah mati. Angkatan-angkatan bawahku banyak yang bilang kalau angkatan satu itu solidaritasnya tinggi, baik yang ikhwan maupun yang akhwat. Yes, that's true. Bener banget. Pernah aku ikutan final lomba LCC di IAIN Surakarta bareng dua temanku and I ever thought that maybe we wouldn't have any supporters, ternyata anak-anak IGnite (waktu itu belum IGnite namanya, baru Al Abidin Group) yang baru aja selesai lomba nasyid dan debut pertama kali, they watched us, together with the other teachers. Meski kalah pada akhirnya, mereka ngucapin selamat dan bilang kalau kita udah fight abis-abisan.
Ketiga, school life. Kurasa di sana nggak mungkin kehidupan sekolahnya biasa-biasa aja. Pasti bakalan istimewa, terutama yang ikutan organisasi. Rapat, pulang telat ke boarding, ngurus acara, dan lain-lain itu udah biasa dan jadi cerita tersendiri. Or maybe yang ikutan lomba juga ngerasain gimana pembinaan, terutama yang jadi tim OSN tahun lalu yang diijinkan keluar dari kelas selama sebulan buat nyiapin olimpiade. Buatku, itu hal yang lumayan ngebosenin karena tempat kita lumayan terbatas juga, tapi selalu ada cerita. It will make a memory.
Well, so which school has the deepest memory in my life time? SMA ABBS Surakarta. Seumur hidup, aku belum pernah dapat kenangan seperti itu.
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar