Langsung ke konten utama

Childhood

Have you seen my Childhood?
I'm searching for the world that I come from
'Cause I've been looking around
In the lost and found of my heart...
No one understands me
They view it as such strange eccentricities...
'Cause I keep kidding around
Like a child, but pardon me...

People say I'm not okay
'Cause I love such elementary things...
It's been my fate to compensate,
for the Childhood
I've never known

(Michael Jackson - Childhood)

Kali ini pingin banget nulis banyak kenangan masa kecilku karena baru aja hari ini pulang dari kumpul keluarga. Because masa kecil itu begitu berharga dan aku yakin masa kecil inilah yang pertama kali membentuk anak-anak. Seperti lagu Michael Jackson ini, well, lagu ini menceritakan masa kecilnya Michael Jackson yang sangat tidak menyenangkan. Dia memang bertalenta, tapi dipaksa oleh orangtuanya untuk terus latihan menyanyi tanpa menikmati masa kecilnya. Akhirnya gimana? Michael Jackson membenci ayahnya.

Aku anak pertama dari dua bersaudara, lahir pada 11 Mei 1998. Pas kecil aku benar-benar pingin banggain tanggal lahirku ini karena pada hari di mana aku lahir inilah Tragedi Trisakti dimulai dan aku merasa excited banget dilahirkan di saat bersejarah. Namun aku sadar nggak ada satu orang pun yang nyadar akan kejadian ini, sampai di suatu hari seorang wartawan dari Solopos mewawancaraiku.

"Kamu lahirnya kapan sih?" tanya wartawan itu.

"11 Mei 1998," jawabku.

"Eh, itu bertepatan sama Tragedi Trisakti kan?"

Well, pelajaran yang bisa kuambil dari kejadian ini adalah ketika kita tidak memamerkan sesuatu pada orang lain, kurasa orang lain itu baru nyadar akan "something" yang kita punya. XD

Oke, lanjut deh.

Aku cucu kedua di keluarga besar Mama dan cucu keempat di keluarga besar Papa. Sejak kecil aku sering dibawa ke mana-mana sama Akong (kakekku, papanya Mama). Hoho...dan itu 'digondol' nggak cuma dalam waktu sehari, lho. Sampai kapan? Sampai Mama nangis dan minta aku pulang. Mama jealous aku (yang pas itu masih usia balita) dekat sama Akong.
"Akong biasanya main ke Ungaran, datang, trus biasa kan kalo kakek nyariin cucunya. Paling ntar pas pulang Akong bilang, 'Nisa aku bawa ya?' dan kamu sendiri mau-mau aja," kisah Mama.
"Cuma sehari dua hari kan, Ma?" tanyaku.
"Nggak! Mama nanti yang riwil minta kamu pulang," jawab Mama.
Ketika Mama melahirkan adikku, aku dititipkan di rumah Akong dan Uti (nenekku, mamanya Mama) di Semarang. Betah banget aku di sana, katanya sih begitu dan kelihatannya begitu. Kelihatannya? Iya, soalnya aku nemu foto-foto masa kecilku di album yang mostly diambil di Semarang dan aku tampak ceria di foto-foto itu. Aku di sana kayaknya dimanjain banget deh, mungkin karena hanya aku satu-satunya cucu yang ada saat itu, because something has happened with the first granddaughter of Mom's big family dan kayaknya aku nggak perlu cerita.
There's so much photos yang memperlihatkanku sedang bermain. Mulai dari main mandi bola, kapal-kapalan pake ban besar yang ada tulisannya TUBE sambil mancing, ke kebun binatang, main boneka, dan lain-lain. Ada juga foto yang memperlihatkan aku sedang belajar jalan dan nangis (kalau lihat fotoku pas masih kecil lagi nangis, itu mukanya kenapa mirip sama aku yang udah besar ya?). Banyak banget kenangannya.

Lain Akong dan Uti, lain pula Eyang Kakung (papanya Papa kalau yang ini). Waktu lagi di rumah beliau, pas makan malam beliau bilang, "Dulu gendong Nisa itu berat ya, dia suka banget main lari-larian di lapangan sana sambil ngejar bebek."

"Eh? Ngejar bebek?" tanyaku, berhubung aku udah amnesia sama kenangan itu. "Padahal aku takut sama ayam, lho. Kok aku dulu malah suka ngejar bebek ya?"

Well, when I was a kid I was frightened if there was chickens. Kenangan yang satu-satunya aku ingat pas masih berusia sekitar 2 - 3 tahun adalah aku dipatok ayam ketika main ayunan. Sejak saat itu aku takut sama ayam.

Oh, ga cuma ayam sih. Aku emang dikenal penakut kok pas kecil. Aku takut sama hantu, ayam, tikus, kuda, tapir, tokek, biawak, anjing, topeng monyet, dan lain-lain (banyak banget sih?). But buatku ga ada yang lebih nakutin ketimbang ayam, anjing, dan topeng monyet. Ha? Iya, dulu Akong sempat ngundang abang-abang topeng monyet buat hiburan gitu, tapi nyatanya aku malah takut. Hadeh.

Beberapa kenangan yang aku ingat kebanyakan di SD. Pertama kali suka sepak bola, tawuran pertama, pertama kali babak belur dipukulin temanku, semua terjadi di SD. Sepak bola...aku suka karena dulu pas anak-anak cowok main di lapangan, aku nglewatin mereka dan iseng aja aku tendang tuh bola padahal mereka baru aja mau penalti. Gimana hasilnya? Masuk, coy! Salah satu temanku berkata, "Sangar! Anak perempuan bisa nendang tendangan penalti," dan akhirnya aku diijinkan masuk tim.

Aku pernah pulang babak belur itu juga di SD, tepatnya di kelas dua. Waktu itu aku belain adikku yang waktu mainnya diganggu temanku yang cowok, tapi aku babak belur, mana aku nangis, trus akhirnya dibawa ke UKS. Seluruh anak cowok yang sekelas sama aku ga terima, mereka nggedor pintu anak yang bikin aku babak belur, dan aku ga tahu deh gimana akhirnya karena aku setelah itu dibawa ke UKS. Haha...lucu juga kalo diingat.

But still, I just want to live my life right now. Karena tahu ga sih, apapun yang pernah terjadi itu nggak akan terulang.




Mitarashi Hana  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...