Langsung ke konten utama

My Inspiration

Hari ini aku membayangkan jika saja di sekolah aku mendapat tugas disuruh menulis siapa yang menjadi inspirasiku dalam hidup ini. Sebenarnya banyak orang yang sudah memberiku inspirasi atau sejenis itu, tapi jika dihitung dari lamanya aku bersekolah mungkin aku akan memilih Naruto sebagai inspirasiku.
 
Hey, is it for children?
 
Kadang aku masih suka tertawa jika ada orang bilang Naruto itu buat anak kecil saja. Well, aku sama sekali ga setuju. Banyak orang yang menyukai Naruto dari berbagai lapis usia, buktinya mamaku saja suka dan kami nonton Naruto di televisi sama-sama. Yah, meski Mama masih bertanya kepadaku siapa karakternya, baik atau jahat, dsb. berhubung aku sudah membaca komiknya sampai tamat.
 
Pertama kali aku menyukai Naruto adalah ketika kelas 4 SD. Sebelumnya ketika adik dan sepupuku nonton bareng, aku sering kali bertanya, "Memang apa bagusnya melihat orang lompat-lompat dari satu pohon ke pohon yang lain?"
 
Dan sekarang aku mengerti. Pilihanku tidak salah. Naruto benar-benar keren.
 
Sebelumnya aku juga suka menonton anime lain, sebut saja Rozen Maiden dan One Piece. Namun ga ada satu pun dari mereka yang sukses mencuri perhatianku sesukses Naruto. Sekeren-kerennya One Piece menurut orang lain, menurutku tetap keren Naruto. Jalan ceritanya tidak berbelit-belit, buktinya aku yang baru mengikuti jalan cerita Naruto dari tengah saja tetap mengerti bahkan aku sampai hafal jurus-jurusnya (haha...). Selain itu karakter Naruto yang cewek tidak ditonjolkan keseksiannya, ini yang membuatku lebih jatuh hati sama Naruto ketimbang One Piece yang benar-benar kelewat seksi karakter ceweknya. Alurnya juga tidak mudah ditebak meski tidak berbelit-belit, lihat saja berapa banyak tokoh Naruto yang awalnya baik menjadi jahat dan jahat menjadi baik, misalnya Uchiha Itachi yang kita pikir jahat selama ini ternyata sebenarnya tokoh yang baik dan tulus atau Uchiha Obito yang sebelumnya dianggap sudah mati ternyata masih hidup dan menjadi jahat padahal dia sebelumnya baik, yah meski nanti jadi baik lagi.
 
Besides, ada banyak pelajaran moral yang bisa diambil dari Naruto. Di episode tewasnya Hokage Keempat dan istrinya, ditampilkan betapa mereka berdua rela tewas demi anak mereka yang masih bayi yaitu Naruto. Ada juga pelajaran bagaimana kakak yang baik itu bertindak seperti Uchiha Itachi. Lagipula, porsi Naruto yang lebih banyak ceramah untuk menyadarkan lawannya yang jahat ketimbang bertarung (kadang penggemarnya berkelakar kalau Naruto itu ceramah ga melihat keadaan, tapi bagus bukan?) sudah jelas membuat pesan moral dan kutipan kata-kata bijaknya lebih banyak pula. Ini lagi-lagi menjadi sisi positif Naruto ketimbang One Piece atau manga yang lain.
 
The other things are karakter dalam Naruto jika dipasangkan sebagai sahabat atau suami-istri akan terlihat saling melengkapi satu sama lain. Naruto dan Sasuke misalnya, Naruto akan melengkapi sisi Sasuke yang dingin sementara Sasuke akan melengkapi sisi Naruto yang ceroboh dan gegabah dalam mengambil keputusan. Hokage Keempat dan istrinya Kushina pun begitu, Kushina akan melengkapi sisi Hokage Keempat yang "terlalu kalem" sementara Hokage Keempat melengkapi Kushina yang cerewet dengan sifatnya yang tidak terlalu banyak bicara. Sebenarnya tersirat pelajaran moral bahwa kita dan orang yang menjadi sahabat atau pasangan kita akan selalu melengkapi satu sama lain sehingga tercipta keseimbangan.
 
See? Sekarang aku tidak lagi menonton dan membaca One Piece atau lainnya. Naruto saja buatku lebih dari cukup.
 
 
 
 
Mitarashi Hana 
 
 
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...