Langsung ke konten utama

Beri Aku Pilihan

Ketika aku sedang membuka mesin pencari kemarin, nama sahabatku ada di entri pencarian yang kucari. Dia menanyakan beasiswa untuk jalur komunikasi. Kupikir itu cocok untuknya, mengingat dia begitu cerewet. Namun ini benar-benar menunjukkan padaku bahwa dia siap. Dia punya motivasi ke sana.
 
And how about me? Apa yang membuatku tertarik menjadi duta besar? Apa yang akhirnya membuatku tertarik masuk ke hubungan internasional?
 
Memoriku terbawa kembali ketika aku dan dia sedang ngobrol bersama saat makan siang selepas lomba public speaking. Nasihat-nasihatnya kepadaku. Terkadang jika aku memikirkan motivasiku untuk masuk hubungan internasional, mungkin nasihatnya adalah satu dari sejuta alasan.
 
Plus, aku ingin melihat seperti apa dunia ini sebenarnya. Apakah dunia ini persis seperti yang kulihat dari televisi dan internet?
 
Plus, aku ingin melakukan misi rahasiaku...
 
Aku merindukan sahabatku itu. Terkadang aku berpikir akan lebih baik jika dia di sini sekarang, duduk bersamaku seperti saat makan siang itu, lalu berkata dengan cerewetnya dia hendak menjadi pilot, bekerja di Telkom, atau...banyak hal. Dia selalu memiliki banyak kemungkinan.
 
Dan akhirnya aku tak pernah melupakan London karenanya. Entah kenapa, meski sudah tetap rencanaku akan masuk Universitas Diponegoro saja seperti Mama, pikiranku ke luar negeri tetap mengawang.
 
Beri aku pilihan, biarkan aku menetapkan hati. Ke luar negeri juga bukan masalah sederhana. Apa aku perlu makan hanya sehari sekali di sana? Yah, mengingat kurs rupiah yang begitu rendah, kurasa dibekali uang sepuluh juta pun tak akan cukup untuk kebutuhanku di sana.
 
Hey, bagaimana kalau kita ketemu sekali lagi, Rifai? Mungkin saat itu aku sudah membulatkan tekadku pergi ke suatu tempat.
 
 
 
Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...