Tulisan ini kudedikasikan untuk seseorang yang paling kuhormati, sama seperti aku menghormati kedua orangtuaku sendiri. Orang yang membuatku belajar untuk keluar dari apa yang biasa kulakukan dan dilakukan orang-orang dan belajar untuk melawan arus. Orang yang membuatku belajar untuk keluar dari zona nyamanku dan jika semua orang melihatku sekarang, aku akan berkata ini semua berkat beliau.
Beliau bukan siapa-siapa. Dulunya adalah guru yang paling aku benci. Aku tidur di pelajarannya dan aku menyepelekannya. Namun siapa sangka kami menjadi akrab dan menjadi partner guru-murid terbaik versiku? Entah, aku tak tahu mengapa.
Hari itu aku bingung untuk memutuskan mana yang terbaik, apakah debat atau pidato. Aku suka pidato dan menguasai panggung, tapi banyak orang menyarankanku untuk mencoba debat. Beliau setuju dengan saran orang-orang itu. Hari itu jadilah aku mencoba hal yang baru, suatu hal yang belum pernah aku jamah bahkan anti dengannya.
Debaters yang anti debat? Ya, itulah aku. Sebisa mungkin aku akan menghindari perdebatan dengan orang lain. Aku setuju dengan apa yang dikatakan Shikamaru, hal itu merepotkan. Aku malas meladeni mereka, bukan karena aku tidak punya kemampuan untuk itu. Namun kali ini aku akan menjadi debaters pertama kalinya sepanjang hidupku, baiklah kenapa tidak?
Aku diberi keleluasaan oleh sekolah untuk memilih pelatihku sendiri, jadi aku memilih empat orang guru termasuk beliau. Aku belum yakin akan kemampuanku dan perlombaan debat itu tingkat provinsi, rasanya sama seperti bunuh diri karena ayolah aku masih underdog. Aku belum menjadi siapa-siapa.
Namun seperti ketika pertama kali aku menjamah public speaking, beliau lagi-lagi memberiku semangat. Menurutnya, siapa sangka nantinya aku bisa bukan? Berapa banyak orang sih yang langsung bisa saat pertama mencoba? Beliau siap melatihku habis-habisan dan lawan debatku bukan main-main, mereka semua guru! Aku menarik kesimpulan, sepertinya aku akan mati bahkan sebelum aku "bunuh diri" di perlombaan itu.
Tahukah rasanya ketika orang yang belum biasa berdebat disuruh debat? Rasanya seperti diminta menengok ke kanan dan kiri sekaligus. Berpikir sekaligus berbicara. Sulit buatku, apalagi aku orang yang biasa berbicara tanpa berpikir panjang. Dalam hati aku hanya bisa berkata, "Sepertinya aku akan terbunuh terlebih dahulu sebelum sampai di sana."
Aku akhirnya rehat panjang dari latihan, bukan karena aku sudah muak. Aku tidak kuat bicara tanpa banyak referensi yang kubaca. Aku memutuskan untuk browsing, mencari sebanyak-banyaknya artikel dan membacanya sebisa mungkin. Minggu-minggu itu aku lebih mirip dengan mahasiswi yang sedang cari referensi untuk skripsi dibanding dengan siswi SMA yang sedang mencari sumber untuk debat. Kondisi fisikku melemah. Jam tidurku berkurang. Harus rela bangun jam 3, menyelesaikan 200 halaman artikel dalam tiga hari, lalu ke sekolah jam 6 pagi dan mencari referensi. Mataku berat, aku berani bertaruh minusku tambah. Kepalaku pusing. Beberapa jam sekali aku akan tidur untuk memulihkan isi otakku. Semuanya berantakan!
Namun beliau hanya berkata, "Tidak apa-apa, itu pengorbanan."
Hanya itu pengorbananku? Bukan, bukan hanya itu. Aku meninggalkan pelajaran, bukan hanya satu-dua, mungkin ada lima lebih pelajaran yang aku tinggal kecuali jam eksak karena aku lemah di situ, padahal ujian tengah semester 1 mendekat. Aku harus mati-matian belajar untuk mengejar ketertinggalanku.
Bulan itu aku menjadi orang yang paling sibuk.
Pasca ujian aku kembali belajar untuk menghadapi perlombaan debat itu. Semua guru sibuk sehingga lagi-lagi aku hanya bisa membaca artikel dan buku. H-3 perlombaan barulah latihan debat kembali dimulai. Beliaulah yang menjadi lawan debatku. Kali ini aku kembali melakukan apa yang paling tidak kusukai, tapi entah kenapa apa yang kurasakan beda seperti dulu ketika pertama kali latihan. Aku tidak lagi gagap dan merasa canggung. Aku berani menyenggol statement beliau. Aku mulai bisa banyak berkata-kata dan akhirnya...
"Well done, you're win! Kamu gila hari ini! Saya suka kamu kali ini." kata beliau akhirnya diikuti tawa keras.
Aku terengah-engah karena lelah, tapi akhirnya aku ikut tertawa keras. Puas. Akhirnya aku mengalahkannya. Aku mengalahkan beliau. Aku mendebat seorang guru dan aku menang!
Hari itu, tiada kata terbaik yang bisa menggambarkannya selain aku puas.
* * *
"Kamu adalah seorang debaters sekarang. Di kehidupanmu sehari-hari apa kamu juga suka mendebat orang?"
Seorang wartawan mewawancaraiku beberapa bulan setelah kejadian itu. Aku tersenyum sesaat memikirkan jawabannya sebelum akhirnya berkata, "Tidak, saya bukan tipikal orang yang suka mendebat orang lain. Sebisa mungkin saya akan menghindari perdebatan. Namun jika saya ada di panggung debat, saya harus melakukannya. Saya baru akan menjadi debaters di panggung debat."
Aku menatap lemari piala. Guruku itu benar. Berapa banyak sih orang yang langsung bisa ketika pertama mencoba? Hitung aku di dalamnya karena di perlombaan debat bahasa Inggris tingkat provinsi itu, atas kehendak-Nya, aku menjadi juara 1.
Aku masih ingat ketika akhirnya piala itu menjadi milikku. Di hari pengumuman aku berpikir jika menjadi juara 2 saja sudah sangat cukup mengingat lawannya berat kemarin. Namun tiba-tiba temanku berteriak, "An, kamu juara 1!!!" bersamaan dengan seorang bapak yang berkata, "Juara 1 English Debate Competition diraih oleh Anissa Antania Hanjani dari SMA ABBS Surakarta."
Allah, aku sungguh tidak pernah memimpikannya, tapi Kau berkehendak. Puji dan syukur ke hadirat-Mu...
Dan...aku sama sekali tidak lupa bagaimana hangatnya sambutan beliau begitu kami bertemu di sekolah. Dua acungan jempol untukku. Aku hanya tersenyum, tak bisa berkata apa-apa. Sir, semua ini berkat Anda, jika saja saat itu aku sudah patah semangat maka hari itu aku tidak akan berdiri di sana sebagai seorang juara.
Terima kasih karena sudah mengeluarkanku dari zona nyaman, Sir.
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar