Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, aku merayakannya dengan hal yang anti-mainstream. Nonton Pengkhianatan G 30 S / PKI terlalu biasa dan aku paling benci film propaganda (yang sampai sekarang masih kunilai bodoh dan pemutarannya adalah pembodohan massal). Lagipula, dua kali kusia-siakan waktuku menonton film itu. Jadi, aku memutuskan menonton film dokumenter Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (The Act of Silence) karya Joshua Oppenheimer yang menceritakan pembantaian pasca G 30 S / PKI dari 1965-1966. Selain itu aku juga menonton beberapa dokumenter sejarah seperti Mass Grave.
Siang ini, aku terduduk diam di sofa hitam. Mama yang sedang bekerja saat itu menjadi teman bercakap-cakap.
"Nggak pernah ada yang baik dari perebutan kekuasaan," Aku menghela napas. "Kenapa sih orang-orang rela saling membunuh untuk kekuasaan?".
"Ya memang itu kejamnya politik," jawab Mama. "Tidak pernah ada yang tahu bagaimana sebenarnya kejadian G 30 S / PKI. Semua yang beredar saat itu propaganda Orde Baru,".
"Sama juga dengan kejadian Serangan Umum 11 Maret. Soeharto mengaku dia penggagasnya, padahal sebenarnya kan Sri Sultan Hamengkubuwono IX," timpalku. "Tapi yang terparah masalah PKI itu,".
"Kamu tahu kan, tidak semua yang tergabung dalam PKI benar-benar seorang komunis. Banyak dari mereka miskin saat itu, lalu ditawari bibit murah, bahan pangan murah, dan akhirnya jadi simpatisan,".
Aku mengangguk setuju.
"Manusia bisa ya melakukan hal seperti itu. Perang Dunia I, Perang Dunia II, semua juga dilakukan untuk apa yang dikatakan 'menguasai dunia'," ujarku.
Apa yang sampai saat ini belum bisa dilakukan Indonesia adalah untuk jujur kepada sejarah. Di satu sisi, sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah mengagung-agungkan pahlawan yang menumpas habis kolonialisme, imperialisme, dan komunisme. Namun, di sisi lain sejarah Indonesia sangat abai akan kesalahannya pada 1965-1966 dan kejadian di Timor Timur pada 1999. Coba bukalah buku-buku sejarah. Berapa porsi yang diberikan dari Kemendikbud untuk mengakui kesalahan negara kita dalam pelajaran sejarah?
Aku mencintai IPS dan bagian favoritku sejak SD adalah sejarah (even di TK karena aku sudah mulai buka-buka buku Seri 30 Tahun Indonesia Merdeka). Hal itu tidak pernah berubah bahkan sampai aku duduk di bangku perkuliahan. Hal itu membuatku cukup jeli melihat bagaimana pelajaran-pelajaran sejarah diberikan di sekolah dan memperhatikan bagaimana G 30 S / PKI diterangkan di buku-buku. Buku Kemendikbud memberikan ulasan luas mengenai tragedi tersebut, tetapi bagaimana dengan tragedi setelahnya? Tragedi yang diklaim Jenderal Sarwo Edhie, orang yang memimpin pembasmian tersebut, korbannya mencapai 3 juta jiwa? Sedikit sekali dibahas, bahkan jarang disinggung.
Apakah 3 juta jiwa tersebut semuanya adalah PKI dan simpatisannya? Sejarah mencatat tidak ada yang tahu pasti. Banyak petani yang hanya diberi bibit taninya saja dituduh menjadi simpatisan, padahal mereka tidak tahu apa itu PKI karena terbatasnya informasi. Banyak orang yang tidak tahu apa-apa tentang PKI dan ideologinya menjadi tahanan politik, disiksa, dan dieksekusi. Dalam Mass Grave, ketika pembongkaran kuburan dilakukan, terungkap bahwa mereka dikubur dengan tidak selayaknya. Ketika mereka hendak dikuburkan kembali selayaknya, gabungan ormas Islam di Temanggung melakukan penolakan karena tidak mau tanahnya jadi persemayaman bangkai komunis. Tidak mau tanah mereka jadi monumen yang kelak (katanya) membangkitkan kembali PKI.
Sejujurnya, aku heran dengan orang-orang yang mengatasnamakan Islam yang ikut membantai PKI dan simpatisannya kala itu. Melihat bagaimana penolakannya, melihat bagaimana mereka at some point bangga menunjukkan bagaimana mereka membantai orang-orang itu, aku teringat kepada ajaran Rasulullah SAW ketika berperang. Bukankah beliau pun mengajarkan untuk membunuh dan menguburkan musuh selayaknya? Berperang tanpa terbakar nafsu amarah? Namun, mengapa yang kusaksikan ini menunjukkan betapa tidak islaminya ormas-ormas Islam kala itu? Ketika masyarakat menolak hal tersebut, mengapa mereka mengancam untuk membunuh? Apakah benar ini ormas Islam? Islam yang katanya cinta damai dan menjunjung tinggi hak asasi manusia?
And the biggest question is mengapa negara tidak bertanggung jawab atas ini semua?
Aku seketika teringat pertanyaan Mas Satya, dosenku, ketika mengajar Kriminologi, "Ketika negaramu bersalah, apakah kamu masih akan mencintainya?".
"Ya," jawabku. "Bukan dengan membenarkan perbuatannya, tetapi dengan terus terang mengatakan bahwa ini salah dan harus diluruskan,".
"You're right at some point, but bagaimana jika kamu sendirian? Apakah semua orang di Amerika setuju ketika negara mereka menginvasi Irak? Tidak, tetapi suara mereka tidak didengar pemerintah,".
Kalau begitu, aku akan terus mengatakannya dengan jujur, tekadku dalam hati. Nasionalismeku tidak membuatku buta akan fakta bahwa negara yang kubela mati-matian ini pun pernah salah. Aku bahkan berharap suatu hari nanti pemerintah secara resmi akan meminta maaf kepada anggota keluarga korban pembantaian 1965-1966 yang sampai sekarang banyak dihantui rasa penasaran dan dendam kepada negara. PKI bersalah, itu memang fakta sejarah. Namun, negara juga bersalah karena penumpasannya membabi buta, bahkan membiarkan warga sipil turut serta dalam aksi yang tidak berperikemanusiaan itu.
Somehow, pemerintah bisa menjadi sangat mengerikan, bukan? Lebih dari sekadar (yang katanya) pembungkaman lewat Perppu Ormas.
For those who are living in the world full of propaganda, aku bukanlah seorang komunis. Jika komunis kalian katakan tidak bertuhan, maka aku bertuhan. Aku mengakui dan percaya akan adanya kekuasaan Tuhan. Aku pun mengkritik konsep komunisme yang terlalu radikal dalam penerapannya dan teorinya yang terlalu sederhana dalam mengklasifikasikan jenis masyarakat. Namun, aku ingin kalian jujur kepada sejarah dan mengakui bahwa Indonesia pernah melakukan kesalahan fatal yang berdampak hingga sekarang. Kalian yang menganggap komunisme akan bangkit di era modern ini merupakan satu dari sekian contoh dampak akibat kesalahan fatal tersebut. Kalian yang dibohongi berita-berita hoax komunisme adalah akibat terbesar dari propaganda sesat di masa lalu.
Bagiku, G 30 S / PKI adalah fakta nyata yang mengajarkan bahwa tidak ada hal bagus yang didapat dari perebutan kekuasaan. Itu saja. Nafsu berkuasa yang terlalu besar akan selalu dan selalu memakan korban. Mendapatkan dukungan dari masyarakat untuk membantai orang itu bukanlah kebanggaan. Menjadi pembantai tapol-tapol yang tuduhannya saja belum terbukti bukan sesuatu yang bisa dipamerkan. Malu dan berdosa rasanya andaikan mereka masih memiliki hati nurani.
G 30 S / PKI merupakan bentuk nyata efek Teori Domino yang diterapkan dalam Perang Dingin. Dan seperti yang sudah kita saksikan, tidak ada yang baik dari pertarungan akan pengaruh dan kekuasaan. Baik oleh negara yang menganggap dirinya polisi dunia, maupun oleh negara yang dulu mati-matian menjaga poros ideologinya.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
'Nasionalismeku tidak membuatku buta akan fakta bahwa negara yang kubela mati-matian ini pun pernah salah'
BalasHapusSetuju sekali dengan kata-kata itu, tetap semangat berkarya mbak!