Pertama-tama, aku berterima kasih sekali untuk orang yang mencoba mematahkan argumenku dari jam 2 siang sampai jam 3 karena dia adalah inspirasi untuk tulisanku kali ini.
Di akhir salah satu balasan komentar di postingan Aldinshah, ketika aku memutuskan untuk tidak terlibat lebih jauh karena satu dan lain hal, Aldinshah menegaskan posisinya dan posisiku sebagai partisipan lomba debat. Sebagai balasan dia juga melakukan hal yang sama sebagai "anggota debat tingkat Jateng". Aku baru membacanya ketika sudah sampai di rumah (karena posisiku dari jam 2 sampai jam 3 itu di kosan teman, haha) dan dahiku mengernyit.
Eh, ini beneran ya?
Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menghina privilege seseorang di sini, tetapi ketika melakukan review atas adu argumenku, Aldinshah, dan dia, aku skeptis dengan penegasan posisinya sebagai "anggota debat tingkat Jateng". Itu serius beneran nggak sih, tanyaku dalam hati.
Aku punya alasan mengapa sikapku kali ini benar-benar skeptis dengan pernyataannya, kok. Dengan argumen yang masih benar-benar tidak rapi, dasar argumen yang hanya berdasarkan 'percaya' dan 'tidak percaya', dan argumen yang masih emosional, benarkah dia "anggota debat tingkat Jateng"? Sahabatku yang bahkan tidak pernah ikut lomba debat saja berkata, "Aku nggak suka baca argumennya, kelihatan emosional banget, bukan seorang akademisi," ketika dia ikut me-review. Lagipula selama ini, ketika aku bertemu dengan peserta-peserta Model United Nations (MUN) dari berbagai universitas, peserta-peserta Inter-faculty Debating Championship Undip, maupun peserta-peserta debat yang kutemui saat masih SMA, aku tidak pernah bertemu dengan yang seperti dia. Tidak ada seorang debater yang seperti dia. Bukan berarti karena dia unik, tetapi karena emang nggak mungkin seorang debater bersikap dan berargumen seperti itu.
Debat memang seni berpikir kritis, seni menyampaikan argumen, seni mempertahankan argumen, dan seni meyakinkan orang lain, tetapi semua punya langkah-langkah dan sikap-sikap khusus. Ada begitu banyak hal tentang menjadi seorang debater. Ini bukan hanya sekedar "pokoknya suka-suka aku, aku bisa mematahkan argumenmu karena HAM", tetapi ini benar-benar berdasarkan "aku bisa mematahkan argumenmu karena aku ada dasar kuatnya". Kalau kamu bisa seenak jidat mematahkan argumen hanya berdasarkan HAM, suka-suka kamu, maka kamu bukan debater. Apa bedanya kamu sama preman pasar yang bisa berkata suka-suka mereka tanpa dasar? Apa bedanya kamu dengan sekelompok ibu-ibu yang nggosipin tetangganya? Dasar argumenmulah yang akan membedakan kamu dari mereka semua.
Karena itulah, siapa tahu si dia lupa, tulisanku kali ini adalah hal-hal tentang seorang debater. Ini berdasarkan pengamatanku terhadap teman-temanku sesama debater dan apa yang aku pelajari selama debat.
Pertama, menjadi seorang debater itu berhati dingin. Mr. Izz dulu pernah berkata kepadaku, "Kalau kamu berdebat dengan seseorang, panasnya itu harusnya di sini," Beliau menunjuk kepalanya. "Bukan di sini," Lalu beliau menunjuk dadanya. Yep, kamu harus terbebas dari emosi dan ego untuk mematahkan argumen lawan. Tadi aku sudah bilang kan, menjadi seorang debater adalah bagaimana kita memiliki seni berpikir kritis, menyampaikan argumen, mempertahankan argumen, dan meyakinkan orang lain. Kamu mematahkan argumen lawan bukan karena kamu benar dan dia salah, tetapi untuk mempertahankan argumen yang kamu punya. Cukup itu alasannya.
Gimana caranya sih untuk membebaskan diri dari emosi dan ego tersebut? Ini caraku sendiri sih yang aku pakai ketika harus mendebat seseorang. Biasanya, dalam hati aku akan berkata, "Insya Allah aku punya dasar untuk apa yang kusampaikan,". Aku mencoba mengatur mindset dalam kepalaku agar belajar lagi kalau-kalau ternyata interpretasi dan analisisku salah. Setiap orang punya cara berbeda untuk membebaskan diri dari emosi dan ego tersebut, jadi silakan cari cara ala kalian yang paling nyaman. Kalau pun kamu menyindir (ini sah-sah saja saat debatnya bukan debat forum formal), sindirlah sehalus mungkin. Bahasa sindiran yang akhir-akhir ini sering kupakai adalah mainmu kurang jauh, pulangmu kurang pagi. Maknanya, "Belajar lagi lah, analisis lagi lah, dasarmu belum kuat,".
By the way, memiliki dasar yang kuat tidak hanya karena ini katanya si A, si B, dan si C, lalu kamu telan mentah-mentah karena A, B, dan C sepihak dengan kamu. Tidak. Kamu harus paham katanya A bermakna begini, B begini, dan C begini, baru disimpulkan. Oh ya, lebih bagus lagi kalau dasar argumenmu adalah informasi ilmiah tertulis seperti buku, jurnal, laporan penelitian, proceeding, undang-undang, dan lainnya.
Kedua, menjadi debater berarti kamu tahu bagaimana caranya agar orang paham apa argumenmu. Kamu harus tahu siapa yang ada di depanmu. Kalau di depanmu hanya orang awam, gunakanlah bahasa yang lebih sederhana, bukannya bahasa akademik, agar mereka mengerti. Argumen yang baik adalah argumen yang disampaikan secara runtut. Kalau dalam lomba dan forum formal, gunakanlah waktumu sebaik mungkin untuk menyampaikannya. Kalau dalam forum informal, kamu sah-sah aja kok membuat orang lain penasaran apa maksud argumenmu selama penjelasannya runtut, bukannya lari-lari dari pembahasan.
Ketiga, menjadi debater berarti kamu tahu bagaimana orang lain yakin argumenmu mendekati kebenaran dan masuk akal. Ini bagian tersulitnya, tetapi sekali lagi selama dasarnya kuat dan kamu sudah menyampaikannya dengan runtut, orang lain akan mengakuinya atau paling tidak menghargai argumenmu.
Menjadi debater bukan berarti mencari pengakuan bahwa kamulah yang paling kritis, kamulah anggota ini, dan lain sebagainya. A big NO. Seorang debater sejati akan terus tertunduk karena semakin dalam apa yang dia pelajari, semakin sadarlah bahwa ternyata dirinya hanyalah satu titik di alam semesta. Debater sejati malah akan memahami kehidupan lebih baik, memahami keanekaragaman lebih baik, dan bisa menganalisis permasalahan dengan jernih. Setidaknya, inilah kualitas yang aku lihat dari teman-temanku sesama debater. Mereka adalah sosok-sosok hebat yang mengenal kehidupan fana ini secara mendalam.
Satu hal lagi, menjadi debater tidak membuatku benar-benar bangga dan harus mengklaim ini dan itu. Kalau pun menang lomba, euforia itu hanyalah terasa selama satu-dua hari, itu pun hanya antara aku, guruku, dan keluargaku. Buatku, menjadi seorang debater malah membuatku semakin bodoh dengan melihat semua orang yang berlomba-lomba mempertahankan argumen mereka dengan dasar yang benar-benar kuat. Betapa aku harus belajar lagi dari mereka.
Bukankah di atas langit selalu akan ada langit?
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar