Langsung ke konten utama

Aku dan Ke-bhinneka-an Keluargaku

Refleksi, untuk lembar ke-19 yang baru terbuka dalam hidupku hari ini.

Ada satu hal yang belum pernah kulakukan sejak lahir hingga sekarang karena di keluargaku haram hukumnya untuk melakukannya. "Bisa dicoret dari KK sama Mama," ucapku ketika aku menceritakan hal itu kepada sahabatku.

Seumur hidup, selama 19 tahun, aku tidak pernah mengucapkan kafir kepada mereka yang non-muslim.

Keluarga besarku adalah keluarga yang multiagama. Ada yang beragama Katolik dan Kristen. Namun, selama hidupku bersama mereka aku tidak pernah menjumpai adanya masalah besar dikarenakan agama. Kami tertawa bersama dalam perayaan Idul Fitri dan Natal. Semua biasa saja. Memang beberapa tahun terakhir ini aku tidak mengucapkan selamat Natal, tetapi aku sangat mengapresiasi inisiatif keluarga kami untuk berkumpul bersama. 

Aku punya keyakinan tersendiri terhadap ucapan selamat Natal, tetapi keyakinan itu tidak perlu kusuarakan keras-keras. Aku dalam keyakinanku, mereka dalam keyakinan mereka. Sudahlah, begitu pikirku.

Nah, dengan adanya kehidupan seperti itu dalam keluargaku, tentu bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika tiba-tiba aku berkata, "Nggak mau ah ikut kunjungan Natal, kan mereka kafir,". Mama dan Papa tidak hanya akan memarahiku habis-habisan, aku yakin itu, karena dua sebab. Pertama, dalam kunjungan Natal kami hanya silaturahmi biasa karena mereka masih keluarga kami, bukannya ikut merayakan Natal. Kedua, aku baru saja mengucapkan kafir kepada mereka yang masih memiliki keyakinan akan Tuhan. Kesalahan terbesarku.

Senegatif itukah? Tidak. "Pada hakikatnya, kata kafir itu bukan suatu kata yang negatif," kataku kepada seorang teman pada suatu hari. "Namun, masalahnya terlalu sering orang-orang itu meneriakkan kata kafir di jalan dengan tambahan-tambahan kata lainnya yang negatif. 'Bunuh kafir!', misalnya, Ingat-ingatlah kembali seumur hidupmu. Pernah tidak orang-orang Kristen dan Katolik turun ke jalan meneriakkan, 'Habisi domba-domba yang tersesat!'? Pernah tidak orang-orang Hindu Bali turun ke jalan menyerukan agar para maitrah di-hindu-kan semuanya? Pernah tidak orang-orang Buddha turun ke jalan dan berseru agar rumah ibadah para abrahmacariyavasa diratakan? Seumur hidup, aku tidak pernah ingat para pemuka agama di Indonesia seperti itu,".

Untuk alasan itulah aku tidak pernah lagi ingin turun ke jalan untuk aksi. Saat melihat senior-seniorku yang lain begitu lantang meneriakkan kata kafir dengan entengnya dalam lomba orasi, aksi-aksi lain, maupun manajemen aksi, hatiku semakin mengganjal. Tidak, kataku dalam hati. Aku bahkan tidak pernah mengatakan hal itu kepada keluargaku sendiri, bagaimana bisa aku mengatakannya kepada orang lain?

Bagaimana bisa aku memaksakan jalanku kepada orang lain yang tetap ingin meyakini jalannya?

...

Aku hanya membayangkan entah 5 atau 10 tahun lagi ketika punya anak-anak, ketika mereka menanyakan kepadaku tentang teman-temannya yang berbeda dari mereka.

"Bolehkah kami menyebut mereka kafir?".

"Nak, yang namanya komunikasi itu dua arah. Mereka, teman-temanmu, sebagai penerima pesanmu haruslah tahu terlebih dahulu bahwa kalian, sebagai penyampai pesan, tidak berniat menghujat mereka sebab pada dasarnya kata itu bukan sesuatu yang negatif," Aku tersenyum. "Namun, ketika mereka keberatan, lebih baik sebutlah mereka sebagai non-muslim dan Mama lebih suka kalian menyebutnya begitu. Mereka tetap meyakini adanya Tuhan, Nak, dengan jalan yang berbeda dari kita,".



Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...