Langsung ke konten utama

Hey, Yeah!

"Shiawase tte nan na no?"

...

"Hello, everyone. I'm Sho Sakurai. Today, I would like to talk about a method in life. Before I get to the point, can I ask you three things? First, what is your happiness? Second, what is your dreams? Third, who are your real people?"

Apa kebahagianku? Apa mimpiku? Siapa orang-orangku sesungguhnya?
Tiga pertanyaan Sho Sakurai dalam konser The Digitalian sebelum menyanyikan lagu solonya, Hey Yeah!, membuatku terdiam. 

Tiga pertanyaan ini penting sekali untuk dijawab, Sho benar. Ini tiga pertanyaan yang akan membantu banyak orang dalam perjalanan hidupnya ke depan. Kita harus tahu apa yang paling membuat kita bahagia, apa mimpi-mimpi kita ke depan, dan siapa orang-orang yang akan selalu ada bersama kita. Minimal kita harus tahu itu. 

"Shiawase tte nan na no, Anissa?"

Apa ya yang paling membuatku bahagia, Sho-kun? Entahlah, aku sendiri juga bingung. Aku bahagia kalau sedang duduk bersama orang-orang yang membuatku secured. Aku bahagia ketika kerja kerasku terbayar lunas, misal ketika menang lomba, dapat nilai bagus, atau ketika surprise yang kupersiapkan berhasil membuat seseorang senang. Kalau mau lebih sederhana, ketika orang lain senang, aku juga bahagia. 
"Sore ja yume tte nan na no, Anissa?"

Mimpiku banyak, entahlah, Sho-kun. Aku tidak akan cerita banyak di sini, tidak, aku tidak akan pernah cerita kecuali ditanya. Ada banyak, salah satunya aku ingin pergi ke konser Arashi. Ingin bertemu Sho-kun secara langsung untuk mengucapkan terima kasih atas inspirasinya selama ini, lalu bilang bahwa aku akan terus mendukung karirnya. Aku ingin sekali melihat Arashi bernyanyi secara langsung. Yah, impian sederhana seorang fangirl. Haha.

"Anata no hontou no tomodachi wa dare desu ka, Anissa?"

My real people setelah Almarhum Yusuf? Entahlah, aku tidak tahu. Aku juga belum menemukannya. Seseorang yang kepadanya aku percayakan semua rahasiaku dan ketidaksempurnaanku bukanlah sesuatu yang mudah dicari. Namun, pasti ada. Aku hanya harus menemukan siapa dia.

Sho-kun, aku masih punya PR untuk menjawab tiga pertanyaanmmu, sepertinya begitu.



Sincerely Yours,
Anissa Antania Hanjani 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...