Langsung ke konten utama

"Genki ni Shitemasu ka?"

Liburan ini...mulai membosankan.

Tidak banyak yang kulakukan di rumah, sih. Aku juga jarang keluar. Kalau sudah siang, ketika jam kerjaku berakhir, hujan turun deras. Aku jadi males pergi ke mana-mana. 

Kalau pun ada yang harus kulakukan...mungkin itu tugasnya Bu Hermin. Haha. Yah, sekalian belajar kan lumayan. Sambil menyelam minum air. Sambil menyelesaikan tugasnya Bu Hermin, sekalian belajar. 

Err...akhir-akhir ini aku jadi gampang marah ya? Alasannya...rahasia, deh. Eh, tapi ini bukan alasan yang remeh temeh. Ini cukup rumit kalau dijelaskan. 

Aku berharap di sini ada Mr. Izz. Di saat aku dalam serious mood swing begini, beliau benar-benar membantuku. Selama aku di Solo, kurasa aku jadi jauh lebih terbuka karena beliau. Aku cerita semua masalahku di asrama, di kelas, di sekolah, dan krisis dalam diriku ke beliau. Aku suka cara beliau meluruskanku tanpa menggurui, meski tahulah aku juga keras kepala dan sempat marah-marah juga ke beliau. Gomenasai, Sensei. Namun, aku berhutang budi banget ke beliau. 

Ada sesuatu yang membuatku mempercayakan semua sisi dalam diriku ke beliau. Aku suka mendengarkan beliau bicara, pokoknya lebih daripada orang lain yang biasanya aku curhatin. Ketika aku cerita, beliau benar-benar memusatkan perhatiannya ke aku, bukan HP, bukan buku. Jika ada yang belum jelas, beliau akan bertanya sampai paham di mana masalahnya. Lalu, beliau akan langsung straight to the point. Kalau aku belum paham, beliau akan menggunakan pengibaratan yang mudah kupahami menggunakan segala sesuatu yang kusuka, misalnya Moto GP dan Cristiano Ronaldo. Sesekali beliau akan bercanda dengan menggunakan opsi solusi yang salah, itu benar-benar membuatku tertawa meski aku habis menangis. Di akhir, beliau akan memberiku semangat dan motivasi. That's why aku selalu bilang beliau adalah ayahku dan mempercayakan semua hal yang selama ini kusimpan sendiri. Beliau adalah orang yang benar-benar mengenalku luar-dalam. Sayang banget...waktuku bareng sama beliau hanya tiga tahun.

Haha, pokoknya dulu pas SMA itu...ada masalah, larinya ke Mr. Izz. "Sir, ada waktu? Aku mau cerita," pasti selalu seperti itu. Bahkan, beliau udah bisa menebak aku ada masalah hanya dengan membaca raut wajahku, "What's wrong? Auramu hari ini gelap banget. Ada masalah? Mau cerita?" dan kau tahu, itu jauuhhh....lebih menyenangkan dari apapun kalau beliau udah gitu. By the way, awal aku mempercayakan semua masalahku ke Mr. Izz itu juga karena beliau peka. Masih inget aku hari itu, hari Rabu sore, pas mau pulang sekolah dan pas itu aku masih kelas X, aku pulang dengan uuhh...mukaku acak-acakkan pokoknya. Antara mau nangis, marah, kesel, dan lainnya. Beliau peka. Pas udah mau keluar sekolah, aku ketemu beliau, beliau bilang, "Kamu kenapa? Ada masalah? Mau cerita? Cerita aja, di kantor ya,"

Ada satu hal yang kusukai juga ketika cerita sama Mr. Izz. Err...gimana jelasinnya ya? Ada sesuatu yang, entah apalah itu, bikin aku nggak malu kalau cerita sambil nangis sama beliau. Aku memang orang yang gampang nangis kalau baca novel dan nonton film, tapi aku bakalan mengubur dalam-dalam keinginanku buat nangis kalau ada masalah. Well, buatku cerita sambil nangis itu malu-maluin, kayak anak kecil dan terkesan cengeng (aku sok tegar ya orangnya, haha). Namun, kalau sama Mr. Izz, everything seems fine kalau aku cerita sambil nangis. Yah, mungkin karena beliau bilang, "Mau nangis gapapa, wajar aja kok, nggak ada salahnya nangis tuh,"  
 .  
Err...kalau di sini, entahlah, aku tidak terlalu suka cerita masalahku sama orangtua dan adikku, jadi semua masalahku di organisasi, di kampus, dan krisisku kusimpan sendiri semua. Beberapa aku cerita ke Faifda. Entahlah kapan ini meledak sih ya, haha. Semoga tidak. Semoga aku segera mendapatkan pemecahan dalam setiap masalahku sebelum bom waktunya meledak. Kusadari, mungkin akhir-akhir ini aku gampang tersinggung karena permasalahan yang kusimpan sendiri. And always, permasalahan itu cukup rumit. Namun, aku nggak pernah berhenti menyemangati diriku sendiri untuk menyelesaikan dan tidak kabur. Karena aku ingat satu hal: di sini nggak ada Mr. Izz yang bisa aku curhatin.
 
Entah mengapa aku percaya, sejauh apapun aku, Mr. Izz selalu membantuku. Selama aku menerapkan semua bekal yang beliau berikan ke aku selama di SMA, everything will be alright. Aku pasti siap apapun hambatannya.

Aku baik-baik saja kok sejauh ini. Aku hanya butuh sedikit kekuatan lagi.







Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...