Langsung ke konten utama

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya?

For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku.

Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indonesia. He's a very smart guy in my opinion. Dia bukan orang-orang sekitarku yang mostly close-minded. Dia baca Alkitab juga, kurasa dengan bekal itu dia mampu menjawab banyak ask dari orang-orang Nasrani yang menjelekkan Islam.

He must be a great student!

Semakin ke bawah aku menemukan sesuatu. Dia pernah nge-share video berisi fakta-fakta penting kejadian 9/11. Kebetulan aku sedang butuh info ini dan segera aku buka. Well, for me, myself, dia membantuku mencari tahu lagi. Kasus itu selalu menarik perhatianku, sih!

Then I tried to asked him about it. Dia kasih answer-nya, tapi lewat ask (kalo masih bingung ask, itu kayak inbox di Facebook) di akunku. I'm excited karena aku yakin itu yang ask dia pasti beratus-ratus orang. Huft!

Yesterday, mostly moslem debated him for his opinion that Jesus and Isa are the same person. Aku ketawa dalam hati aja bacanya. Some of them blame him because he reads Bible. Buatku, what's wrong, guys? Aku heran aja ternyata masih banyak muslim yang close-minded. Do you think that read Bible is wrong for a moslem? I don't think so, guys! Lha, terus gimana caranya mendakwahi mereka yang Nasrani tanpa baca Alkitab coba? Gimana kita mau nemuin bukti bahwa Injil sekarang sudah diubah-ubah tanpa membukanya? Sounds impossible, hm?

Buatku persoalan ini sederhana. Ini hanya masalah bahasa. Aku pernah diajari di SMP bahwa Allah menurunkan empat kitab-Nya dalam bahasa yang berbeda-beda: Taurat dalam bahasa Ibrani, Zabur aku lupa apa, Injil dalam bahasa Aram / Aranik, dan Al Qur'an dalam bahasa Arab. Al Qur'an kayaknya juga pernah menerangkan bahwa kita ini dilahirkan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, so it automatically makes the language different, doesn't it? Bukankah keturunan Ishak dan Israil yang dikaruniai 3 kitab dari Allah dan nabi-nabi itu tinggal di tempat yang nun jauh daripada saudara mereka, keturunan Ismail, yang dikaruniai Allah nabi akhir zaman dan pedoman manusia yang kekal? Perbedaan tempat dan suku itu kan juga memengaruhi gaya hidup dan bahasa mereka kan?
 
Ada analogi gampangnya. Kalau orang Sunda nyebut kembang jeruk itu angkruk, orang Jawa nyebut itu ngrenthel. Are they both wrong? No, hanya bahasa mereka berbeda, tapi benda yang dimaksud sama kan? That's the same with Jesus and Isa as. Orang yang dimaksud sama kok, hanya bahasanya berbeda. Kalau orang Arab memanggilnya Isa, orang Nasrani memanggilnya Yesus. Another analogy, nama asli negara Jepang itu adalah Dai Nippon (orang Indonesia jaman dulu pasti tahu kata Nippon), Indonesia menyebut mereka Jepang, dan dalam bahasa Inggris adalah Japan. It's the same as tempat kelahirannya Yesus dalam bahasa Ibrani (atau Aranik gitu, aku lupa) disebut Betlehem, kalau bahasa Arab disebut Baitul Laham. But actually it points the same place, doesn't it? 
 
Hanya saja bedanya, kita sebagai umat Islam mengimani Yesus sebagai nabi, bukan sebagai Tuhan. We actually do what he asked a long time ago to worship the only one God, Allah SWT. 
 
By the way, cerita berkesannya adalah bukan di situ. Namun ketika aku nyoba jelasin ke Alvin lewat ask bahwa itu perbedaan bahasa doang dan dia ask aku balik pakai emoji. I just answered him like this:
 
Setiap dakwah itu ada rintangannya :) because tidak setiap orang mau open-minded, apalagi kalau yang udah merasa dirinya benar dan orang lain salah. The most important, tetap semangat! Meluruskan pemahaman mereka emang nggak mudah, tapi bukan berarti itu nggak mungkin kan?
 
Karena orang-orang di jaman sebelum kita pun, yang juga melalui jalan dakwah, juga mendapatkan tantangan atas pemikiran mereka. Dan lihat kan karena perjuangan merekalah, Rasulullah dan para sahabat, kita berada di dalam dinul haqq? So, tetap semangat di jalan dakwah! :) 

That's it, tapi banyak yang nge-like dan dua orang, satu Naili, satu anonim, nge-ask aku:
 
antaniaaa kamu kok bisa di ask alvin. pengenπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
itu yakin diask alvin?!!!
 
Jadi kesannya apa? Kesanku biasa aja, haha...eh bukan gitu. Kesanku a little bit clumsy (kikuk), karena ini emang spesialnya di mana ya? Maaf Alvin, bukan maksudku kayak gitu, tapi for me Alvin and I, both of us are human being. Kita hanya manusia biasa. Sesekali bisa berhati malaikat, sesekali bisa seperti syaitan. Maksudku, kita sesekali bisa benar, sesekali bisa salah juga. Sesekali mungkin kita bisa kontrol emosi, sesekali bisa kelepasan juga. Alvin, because he just a human being, pastinya bukan manusia yang sempurna, luput dari kesalahan. Namun aku salut cara dia berdakwah, salut dengan caranya berbagi ilmu ke banyak orang, salut buat kesabarannya hadapin anon-anon yang ganas, dan that's it. 
 
Tulisan ini bukan bermaksud menyombongkan, not like that. Ini hanya sekedar apa yang kupikirkan tentang dunia ask.fm yang buatku penuh dengan orang yang berlebihan banget dalam mengidolakan seseorang. Sesekali kita mengidolakan orang lain, I think that's okay, we're human being once again. Aku juga mengidolakan Naruto, Arashi, and the most Sultan Muhammad Al Fatih (Mehmet The Conqueror). Namun percaya deh, seperti kata Patrick dalam Spongebob Squarepants, semua yang berlebihan itu tidak sehat. Take the positive things only from our idol, okay?
 
Finally, aku dedikasikan tulisan ini buat Muhammad Alvin Faiz yang udah berjuang keras menghadapi dunia ask.fm yang keras. Well, semangat di jalan dakwah, Vin!
 
 
 
 
Mitarashi Hana  
 

Komentar

  1. Keren tulisannya ka :) Semangat berjuang yaaa ...

    BalasHapus
  2. Kalau ada yg nge judge kamu krna tulisan ini, tetap istoqomah sampaikan yg benar yaa kaaa...

    BalasHapus
  3. Keren... Saya dulu gak tertarik dengan ask fm tapi setelah kenal Alvin di instagram dan banyak yang bilang kalo dia aktif dakwah di ask fm..akhirnya bikin akun juga..seneng baca answerannya Alvin..nambah ilmu dan pengetahuan.

    BalasHapus
  4. Keren... Saya dulu gak tertarik dengan ask fm tapi setelah kenal Alvin di instagram dan banyak yang bilang kalo dia aktif dakwah di ask fm..akhirnya bikin akun juga..seneng baca answerannya Alvin..nambah ilmu dan pengetahuan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...