Langsung ke konten utama

Chat OSN 2012

Kali ini aku tulis tulisan ini buat satu-satunya geng yang aku punya saat ini. Geng yang berdirinya udah 3 tahun lalu tapi aku nggak tahu kenapa masih eksis aja. Yah, mungkin bukan geng. Siapa pun bebas kok mau masuk kelompok kita. Namun karena kebanyakan yang ngumpul itu-itu aja makanya akhirnya kayak geng.

Cerita ini berawal mula ketika aku mau join sebuah grup di Facebook bernama OSN 2012 tanpa tahu alasannya. Ya udah sekedar masuk ya masuk aja. Akhirnya aku berkenalan dengan banyak orang dan tanpa tahu kenapa alasannya aku menjadi the most popular one. Kontingen Jateng angkatanku pasti tahu aku meski nggak pernah ketemu. Akhirnya pendiri grup itu, Bagus Setiyo Aji, menjadikan aku admin. Waktu itu aku masih SMP dan belum sesibuk di SMA, makanya kuterima saja. Tiap hari posting, SMS-an sama teman-teman dari banyak daerah, sibuk sendiri sama laptop dan HP. Aku menerima saja sih dunia itu, mungkin karena pertemanan di SMP-ku bisa dibilang gagal.

Aku yang punya sedikit teman di dunia nyata dan famous karena aneh di sekolah menjadi berbanding terbalik di dunia maya. Aku terkenal karena mereka mengenalku sebagai anak yang rame, cerewet, supel, dan lain-lain. I don't really care about it, whatever it is real world or it is just in social media, at least I have friends.

Awal mula terbentuk Chat OSN 2012 adalah ketika suatu hari aku nyeplos di grup usul buat bikin grup chat. Akhirnya, dengan dibantu beberapa teman, grup chat tersebut jadi dan dinamakan Chat OSN 2012. Sederhana ya? Namun banyak banget yang udah kita lewatin di grup chat itu, lho.
 
Pada awalnya anggotanya banyak. Ada Sheila, Fahmi, Jihan, Haddad, Fery, Bagus (si pendiri OSN 2012), Tere, aku, Maska, Dennis, Azmi, Mblotaman (nama aslinya Arief, tapi aku dan Dennis bikin panggilan dia jadi Mblotaman), Gerry, Rahma, Wildan, Jihan, Devi, Cantika, Fransisca, Ailsa, Krismon, dan Ikhsan. Namun seiring berjalannya waktu, tersisalah aku, Fahmi, Haddad, Maska, Azmi, Mblotaman, Rahma, Gerry, Jihan, dan Wildan. Sudah sibuk sendiri-sendiri, sih!

Kami memang sering bercanda, tapi kalau aku lagi nggak ada pas kebetulan pulang ke Surakarta buat sekolah, mereka sering diskusi juga. Namun biasanya ngepasin aku ada malah banyak bercandanya. Dulu pernah aku, Fahmi, Azmi, dan Mblotaman main-main pakai situs primbon jodoh kayak gitu, iseng jodoh-jodohin orang, kalau udah di print screen trus kirim ke chat. Maska yang kita tuakan di sana untungnya nggak marah, tapi minta nggak usah main primbon jodoh lagi. Namun buatku nggak ada yang lebih konyol daripada acara lomba cepet-cepetan buka puasa. Of course, yang rumahnya berada di daerah timur Indonesia bakalan menang. Waktu itu ada Azmi, aku, Rahma, Fahmi, Ailsa, Maska, Mblotaman, Haddad, dan Wildan. Aku lupa siapa yang mencetuskan ide lomba ini, tapi yang jelas (ini sumpah lomba paling geblek dah) juara 1 Rahma dan Azmi yang tinggalnya di Karesidenan Surakarta, lalu aku juara 2 karena masih di Ungaran, juara 3 Fahmi dan Ailsa yang tinggal di Jawa Barat. Siapa yang selalu juara terakhir? Wildan dan Haddad, soalnya mereka tinggal di Sumatera Barat. Konyol XD
 
Aku akrab sama mereka, bukan karena apa-apa, tapi nggak tahu pas sama mereka aku bisa jadi diriku sendiri dan aku percaya mereka orang baik-baik, anak olimpiade nggak mungkin lah pelajar yang kualitasnya dipertanyakan. Kita saling motivasi satu sama lain buat saling ketemu nantinya di ajang OSN meski pada akhirnya nggak pernah ketemu T^T huhu...tapi senang kok mengenal kalian. You're all my best friends.
 
Aku pernah terbaring sakit selama seminggu tanpa diketahui penyebabnya dan pas mereka tahu, Fahmi dan Maska bilang, "Ayo, kirim Al Fatihah buat Anissa, moga-moga dia cepetan sembuh." Sakitku waktu itu aku rasain sampai aku ulang tahun. Rata-rata dari mereka yang tahu ngucapin, "Happy birthday, Anissa! And get well very soon!"

Sumpah terharu! :')

Aku keingetan sama dunia nyata, di mana cewek-cewek berusaha menjadi cewek terpopuler, tercerewet, ter-hits, atau apapun itulah biar mereka dikenal banyak orang dan punya banyak teman. Terus terang aja, aku jijik lihat fenomena itu sekarang. Prom queen and prom king? Bah! Sampah! Di mata teman-temanmu yang betul-betul sayang, kamu udah jadi queen atau king di mata mereka tanpa kamu harus bersusah payah jadi terpopuler, tercantik, termodis, ter-hits, atau imbuhan ter-ter lainnya dah! Banyak anak jadi meras duit orangtuanya biar bisa punya gaya hidup yang sama dengan anak-anak populer di sekolah. Duh! Yang paling aku sayangkan, hal ini bikin kita krisis jati diri. Salah pergaulan nggak hanya memengaruhi akhlak kita ternyata, tapi jati diri kita. Kalau udah terbiasa pakai topeng, dilepas bentar udah gimana gitu rasanya, iya kan? Mungkin kayak gitu orang yang sudah terbiasa jadi orang lain, bukan dirinya sendiri.

How about me? Bodo amat! Gue sekolah cari ilmu, bukan mau cari popularitas. Kalau mau popularitas, sana ikutan audisi Indonesian Idol atau X Factor. Atau mungkin jadi boyband atau girlband. Noh, dijamin populer. Lagipula aku bisa populer di kalangan OSN 2012 hanya sebuah kebetulan. Kebetulan? Kurasa begitu, tahu-tahu aja percakapan mengalir, iseng komentar, tertawa, dan lain sebagainya. Lagipula, sebenarnya ketika aku mau join ke OSN 2012 aku minder banget. Dalam hati aku berkata, "Hey, aku kan cuma lolos di olimpiade provinsi doang. Emang nggak malu sama yang nasional?"

Hanya aja aku lebih nurutin kata hatiku yang bilang, "Udah, nggak apa-apa. Urusan malu itu ntar aja, yang penting coba aja dulu."

Tahu nggak sih, aku bersyukur masuk OSN 2012 dan berada di tengah teman-teman Chat OSN 2012. Meski sekarang kita sudah pensiun dari salah satu ajang akademik prestisius itu (kecuali Maska yang baru persiapan IGeO 2015 di Rusia), kami tetap menyemangati agar bisa masuk PTN yang kami inginkan dan...merencanakan meetup untuk pertama kalinya! Yups, kami ada rencana setelah nanti bisa kuliah kami akan meetup untuk pertama kalinya. Semoga saja.

Singkat kata untuk menutup tulisan ini, ada sebuah gambar yang pernah dikasih Fahmi untuk kami semua. And it reflects us so much!








Mitarashi Hana



Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...