Rabu, 15 Juli 2015
Aku sedang tidak ngapa-ngapain. Hanya ingin bermalas-malasan di depan laptop, mencoba santai sedikit karena baru saja sembuh dari sakit. Semalam aku insomnia, kemarinnya lagi aku panas. Hari ini aku hanya sedang ingin bersantai. This is my day, tidak ada yang boleh menggangguku.
Aku baru saja ingin mengupload gambarnya Nara Shikamaru ke ask.fm, hari ini aku sedang ingin menjadi dia, sih. Hidupnya cukup menarik. Orangnya pemalas, kalau dimintai tolong dia malah menjawab, "mendokusai" (merepotkan sekali), tapi dialah yang paling jenius di Konoha karena IQ-nya 200. Padahal di akademi kerjaannya hanya tidur. Yah, mungkin dia tidur karena bosan pelajarannya terlalu mudah.
Gambar Shikamaru baru saja kudapatkan ketika tiba-tiba Mama menyahut, "Nisa, mandi! Ayo ikutan Mama ke pasar!"
Aku sebenarnya agak enggan, tapi sepertinya tidak baik jika aku seharian mendekam di rumah bersama laptopku tersayang. Baiklah, baik. Aku mandi. Lagipula aku suka pergi ke pasar, kok. Aku suka melihat orang berinteraksi satu sama lain. Menurutku menarik.
* * *
Sebenarnya memang seharusnya aku senang diajak ke pasar. Mama akan membelikan ayam yang nantinya akan dibuat opor lebaran spesial untukku sendiri. Spesial? Ya, sebab tiga atau empat kali lebaran aku tidak pernah lagi menyentuh opor ayam. Opor ayam yang dibuat Mama biasanya adalah opor ayam kampung, sedang yang kali ini akan Mama buat spesial untukku adalah opor ayam broiler.
Papa dan Mama menyampaikannya padaku tadi pagi, tentu saja aku senang. Ini berarti lebaran kali ini setelah sekian lama aku akan makan opor ayam lagi.
Hey, kenapa aku tidak makan opor ayam kampung? Aku trauma. Suatu kali ketika aku habis les Matematika, waktu itu menjelang lebaran juga, aku ke dapur untuk bilang ke Mama dan Papa kalau guru lesku mau pamit. Aku tidak sengaja melihat Papa tengah duduk dan di tangannya ada seekor ayam kampung yang sudah sekarat dan sudah tanpa bulu. Aku menjerit seketika dan lari. Setelah guru lesku pergi, Papa malah memanas-manasiku dengan cerita penjagalan ayam tadi. Aku tambah trauma. Mulai dari lebaran itulah aku tidak pernah makan opor ayam kampung lagi. Aku sedikit "kasihan" sama ayamnya dan trauma berat.
Kalau ingat cerita itu, aku cekikikan sendiri.
Pasar Ungaran hari ini ramai, tentu saja. Semua orang kan mempersiapkan sesuatu yang terbaik untuk hari raya lebaran. Banyak orang jualan ketupat di mana-mana. Kembang mawar juga kebanjiran pesanan karena biasanya orang Jawa mengenal tradisi nyekar atau ziarah kubur jelang lebaran. Ayam kampung juga, baik yang masih hidup maupun yang sudah disembelih. Ini cukup menyulitkanku karena aku sendiri takut sama ayam dari kecil.
Hal yang pertama Mama beli adalah bumbu, lalu bergerak cepat menuju ibu-ibu penjual telur ikan dan telur puyuh.
Aku menatap telur puyuh itu. Kalau diingat, dulu Mama suka memasak sambal goreng ati pakai telur puyuh dan udang. Biasanya yang kuambil hanya telur puyuh dan udangnya saja, aku tidak suka ati. Namun tahun ini Mama tidak akan menggunakan telur puyuh, tapi telur ayam. Kata Mama, "Lihat tuh lho jerawatmu! Telur puyuh itu satu butirnya sama kayak protein telur ayam!"
Hah, okelah. Telur ayam. Lagipula apa bedanya? Yang penting makan.
Ketika ibu itu sudah selesai membungkus telur ikan yang Mama beli, kukira semua sudah selesai. Ternyata tidak.
"Bu, bungkusin telur puyuhnya sedikit, ya," kata Mama dalam bahasa Jawa.
"Nggak sekalian sepuluh, Bu?" tanya si ibu dalam bahasa Jawa pula.
"Nggak usah, tidak ada yang makan. Cuma buat dia, kok," Mama menunjukku. "Di rumah tidak ada yang makan, sudah bengkak semua," candanya.
Aku nyengir lebar. Yes, telur puyuh, batinku.
Aku menerima telur puyuh itu dengan cengiran lebar dan ucapan terima kasih, lalu menyusul Mama yang jalan duluan.
"Ayamnya satu kilo atau setengah kilo, Nis?" tanya Mama.
"Setengah aja, Ma," jawabku. Aku cengar-cengir kayak anak ilang, membayangkan lebaran besok akan jadi lebaranku yang paling spesial. Ada kue kesukaanku, tema baju aku yang memilihkan, ketupat spesial, dan tentunya...opor ayam broiler!
Kami sampai di depan los ayam. Letaknya memang tidak terlalu jauh dari tempat di mana kita membeli telur ikan dan telur puyuh tadi.
"Bu, ayamnya setengah kilo campur paha sama sayap, ya," Mama memesan.
"Sayap semua, Ma," ralatku. Kurasa karena ini opor spesial hanya untukku saja, aku boleh memilih sesukaku kan? Aku penggemar berat sayap ayam meski aku tidak pernah keberatan makan paha.
"Oh, sayap semua, Bu," koreksi Mama.
Setelah membeli ayam, kami membeli bumbu dapur dan tahu putih, lalu kembali ke parkiran motor untuk menaruh belanjaan sebentar.
"Digantung dulu belanjaannya, Nis. Habis ini kita beli panci, tapi jalan kaki ya. Biar sehat," kata Mama.
"Oke,"
Sembari menggantung belanjaan dan akhirnya berjalan menuju toko peralatan dapur, aku memikirkan sesuatu. Aku mendengar orang-orang di pasar bercakap-cakap dalam bahasa Jawa, baik muda-tua. Kebanyakan anak juga akan bicara dengan bahasa Jawa pada orangtua mereka. Bagaimana denganku? Tidak, aku bicara pada Mama dan Papa dengan bahasa Indonesia - Jawa alias campuran, tapi 95% dengan bahasa Indonesia. Bahasa ibuku memang bahasa Indonesia dan bahasa itu yang diajarkan Mama padaku pertama kali. Alasannya simpel, Mama hanya tidak mau aku mengumpat kasar dengan bahasa Jawa. Dampaknya selama dua tahun di SD nilaiku di bahasa Jawa jelek dan aku baru mulai bisa bercakap-cakap dengan ngoko saat kelas 3 SD karena terbiasa di sekolah. Sementara aku bisa bercakap-cakap sedikit dengan krama inggil ketika aku menghabiskan dua tahunku yang luar biasa di Solo, di SMA ABBS.
Letak toko peralatan dapur tidak jauh dari parkiran, hanya sekitar 20 m. Nama toko itu Blimbing Sari. Toko itu sudah menjadi langganan Mama sejak lama. Biasanya di situ Mama membelikanku tempat minum dan kotak bekal.
"Ma, bolehkah aku mendapatkan kotak bekal?" bisikku ketika Mama asyik melihat-lihat panci. "Kotak bekalku sudah retak,"
Dan ya, Mama membelikanku kotak bekal pink (tahu saja Mama kalau aku sudah jadi feminin :3).
Setelah menyelesaikan urusan di toko panci, kami segera kembali ke parkiran motor dan pergi meninggalkan pasar, lalu membeli snack untuk Eyang. Di toko snack aku iseng mengambil kue fla dan sepertinya Mama setengah hati setuju, soalnya tadi Mama melarangku untuk beli snack. Di rumah akulah yang nafsu makannya paling mengerikan, tapi anehnya semua orang memanjakanku sejak aku merantau ke Solo. Kata Mama, pulang-pulang tubuhku kurus seperti tidak diurus orangtua. Husbit dulu pernah bilang kalau dia pingin punya badan sepertiku yang berisi, tapi setelah agak lama dia berubah pikiran. Tubuhku yang gemuk ketika pertama kali datang ke Solo berubah jadi kurus kering.
Sebenarnya sih di rumah aku memanfaatkan momen ini untuk penggemukan. Waktu buka bersama di rumah Uti, akulah yang makannya paling banyak. Yah, bagaimana lagi, semua yang tersaji di depanku adalah makanan kesukaanku dan aku bebas memilih. Ada lele bakar, kerang dengan tempe bumbu kecap, dan cumi-cumi. Setelah tambah dua porsi, aku masih sanggup mengisi perutku dengan semangkok mie ayam yang lewat di depan rumah. Oh, martabak dan terang bulan cokelat keju yang kumakan belum dihitung ya. Mengerikan, bukan?
Kue fla yang kuminta sepertinya bukan snack terakhir. Sebelum pulang, kami mengunjungi Mbak Iin untuk mengambil kue lebaran pesanan. Dan...itu adalah chis chip kesukaanku! Chis chip adalah kue kecil dengan cokelat padat kecil di atasnya. Yummy!
Aku tidak bisa menyembunyikan cengiranku lagi hari ini. Semua lengkap akan sesuai rencanaku. Lebaran besok tema bajunya gamis (adikku harus kupaksa memakai, dia tomboy), makan opor ayam broiler, bertemu sepupu-sepupuku, dan kakak-kakakku!
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar