Langsung ke konten utama

Facts: About Me

  1. Rata-rata orang yang pertama kenal aku bakalan mikir kalau aku judes. Seriously, aku nggak bermaksud judes, kok.
  2. Ga berani melanggar peraturan, ga mau urusan macam-macam soalnya.
  3. Waktu kecil pernah nyaris bakar rumah.
  4. Ga bisa bawa motor sampai sekarang, diomelin bokap terus gara-gara ogah latihan. 
  5. Ga terlalu update bahkan bisa dibilang kudet soal lagu pop Indonesia. Soalnya dikit sih lagu Indonesia yang aku dengerin. Paling suka dengerin lagu Jepang, terutama lagunya Arashi. Nge-fans sama Arashi soalnya.
  6. Sekarang kerja freelance jadi asistennya guru.
  7. Suka main game. Dulu waktu SMP kena omel nyokap gara-gara pulang maghrib habis nge-game bareng teman-teman cowok. Sekarang ga pernah main sama teman cowok lagi, ngapain coba?
  8. Terbiasa banget dikatain aneh sama banyak orang, tapi seneng juga sih. Soalnya asik banget kan jadi diri sendiri dan ga perlu ikut-ikutan orang lain yang ini itu?
  9. Pernah naik di belalai gajah pas main di Taman Safari Cisarua, Bogor.
  10. Suka main scrabble dan ngisi TTS.
  11. Cuek sama keadaan sekitar. Sebenernya alesannya gara-gara males aja dan ga pernah dilibatin, kecuali kalau mereka butuh bantuanku, okelah aku bantu aja.
  12. Suka jalan-jalan ke tempat baru. Ga takut nyasar, kan bisa tanya orang nanti kalau udah nyasar?
  13. Pertama kali nge-geng itu pas pelatihan OSN di Salatiga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...