Berat nggak sih memikirkan apa yang terlewat dari orang lain?
Berat nggak sih bisa melihat apa yang tidak terlintas di kepala orang lain?
It's extremely hard! Sangat sulit. Seperti orang yang punya indera keenam. Saat dia berbicara dengan orang lain dan dia melihat sosok tak kasat mata yang mengancam lawan bicaranya, apa yang akan dia katakan? Lawan bicaranya pasti tak akan percaya, padahal sosok itu mengancam.
Entah, ini perasaanku saja atau apa pun itu. Ketika terasa aku telah melawan arus, kurasakan apa yang sebenarnya berat dari melakukan hal itu. Ternyata berat melihat sesuatu yang tidak banyak dilihat orang.
Aku tidak tahu, ini perasaanku saja...
Aku tidak sedang berpikir mau show off bahwa aku terlihat lebih dewasa. Sumpah, aku merasakan lama-lama aku seperti ini. Semua ini terjadi di luar kendaliku atau bahkan alam bawah sadarku mungkin telah mengendalikanku sepenuhnya untuk melakukan semua hal yang dulunya aku batin saja.
Tentu saja aku takut akan pendapat orang. Aku tidak seperti anak seumurku, banyak yang bilang begitu. Bagaimana pendapat anak seumurku tentang aku, yang ada di sekitarku, pastinya bukan pendapat yang bagus mengenai anak berusia 16 menjelang 17 tahun. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendeteksiku dan kelainanku. Mungkin mereka yang memahamiku.
Orangtua mengajarkanku agar tidak ikut-ikutan orang lain dan dulunya aku acuh saja akan nasihat itu. Mereka mengajarkanku untuk tidak melakukan hal-hal jahat ke orang lain agar tidak kena karma dan dulunya aku pun acuh. Mungkin hal itu, yang sudah terpendam selama belasan tahun, yang sekarang mengendalikanku.
Sebenarnya tentang siapa aku, jujur saja aku tak bisa menyatakan secara detail. Namun, orang lain akan tahu siapa aku jika mengenalku paling lama satu tahun sambil membandingkanku dengan remaja pada umumnya. Guru favoritku begitu. Beliau mengenalku pertama kali ketika masuk kelas, melihatku duduk di dekat jendela, dan wajahku amat sangat judes. "Kenapa sih, anak ini? Judes banget kayaknya," begitu katanya dalam hati.
Ternyata deteksi beliau benar tentangku. Aku punya duniaku sendiri. Aku punya dunia di mana aku selalu menilai orang lain dengan pendapat yang berbeda. Aku tertarik pada orang yang serupa, yang merasakan beban yang sama denganku, sehingga aku akan berusaha berkata padanya bahwa dia tidak sendirian. Aku juga merasakannya.
Sayangnya, hampir semua anak seusiaku tidak memikirkan hal itu.
Dan mungkin saja...aku di jaman yang lain, di jaman yang ada jauh di depan sana.
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar