اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ
الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ
Penggalan ayat di atas baru saja lewat begitu saja saat aku mengakhiri dialogku dengan guru favoritku. Terlintas di kepalaku tentang ayat yang membawa manfaat dan perlindungan bagi yang membacanya itu, ketika percakapan kami berakhir.
"Seperti filosofi jawa selalu mengingatkan kita, Gusti Allah mboten sare. Jika orang sudah bisa menerapkan aplikasi filosofi itu, maka dia telah mencapai kepasrahan yang luar biasa."
Ketika filosofi itu benar-benar diterapkan, maka rasanya seperti beban yang udah menggunung dalam ulu hati seakan-akan terangkat, hilang, lalu lenyap dibawa entah apa.
Allah, tiada tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Dia melihat kita tidak peduli di mana persembunyian kita, apakah itu di gunung, gua, dasar lautan, bahkan lubang hitam sekali pun. Dia mengurus makhluk-Nya, mengganjar kebaikan dengan pahala dan kekejian dengan dosa. Menyusupkan perasaan tenteram setelah berbuat ma'ruf dan perasaan berdosa setelah berbuat munkar. Membuka dan mematikan hati makhluk-Nya.
Terkadang kita menemui satu atau dua orang di akhir zaman ini yang entah kenapa hatinya begitu kokoh diterjang ujian. Imannya teguh meski diguncang. Hatinya lembut padahal batu yang melemparinya keras luar biasa. Pintu maafnya senantiasa terbuka. Beberapa dari kita, atau bahkan secara keseluruhan, akan heran dengan apa yang dia perbuat. Pernahkah kita melihat orang seperti itu, lalu terlintas pertanyaan mengapa? Mengapa dia begitu sabar?
Pertanyaan kita akan bertambah ketika ekspresinya biasa saja ketika suatu hari dia mendadak dapat kebahagiaan yang besar. Senyumnya mengembang dan bibirnya hanya memuji nama tuhannya. Maksudku, seandainya kitalah yang ada di posisinya, tiba-tiba seseorang terdekat mengabari bahwa kita mendapat uang satu triliun, apa yang akan kita lakukan? Bisa jadi kita lupa diri, tertawa terbahak-bahak, puas, bahkan lupa langit dan daratan.
Sungguh kepasrahan yang luar biasa. Sungguh dia tidak khawatir akan dunia yang entah kapan akan ditinggalkannya.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
إِلا لَعِب
Bahwa dunia ini bagi mereka hanyalah senda gurau belaka. Hanya sebuah permainan yang sebentar lagi ditinggalkan. Mampir ngombe, kalau kata orang Jawa. Akan halnya akhirat, mereka justru malah merindukannya. Merindu untuk bertemu Dia. Bukan uang satu triliun yang membuat mereka lupa langit dan daratan. Nikmatnya bertemu Dia itulah yang mereka cari dan resapi, bahkan mereka mabuk olehnya, lupa langit dan daratan.
Pernahkah kita berpikir bagaimana rasanya mati? Mereka yang rindu akan perjumpaan dengan Dia malah mengharap kematian daripada hidup dalam gemerlap senda gurau dunia. Bagi mereka dunia hanyalah seperti tetesan air dari jarum yang dibandingkan dengan luas seluruh samudera. Hanyalah titik kecil di antara jutaan, milyaran, bahkan triliunan titik air di seluruh samudera. Bukan apa-apa, kilauan itu bukan sesuatu yang mereka cari. Selama di dunia, apa yang mereka cari hanyalah persiapan untuk perjumpaan agung itu. Memastikan bahwa Dia ridha akan perjumpaan dengan mereka dan akhirnya mereka memasuki kehidupan kekal.
Pernahkah kita melihat hal itu di akhir zaman ini? Melihat orang-orang seperti mereka?
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar